BMKG Deteksi 11 Titik Panas di Riau, Tersebar di Tujuh Kabupaten dan Kota

BMKG pagi ini mendeteksi 11 titik panas yang tersebar di tujuh kabupaten kota di Riau. (Foto: Liputan6)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat sebanyak 143 titik panas (hotspot) terdeteksi di Pulau Sumatera berdasarkan pemantauan satelit, Minggu (1/6/2026). Dari jumlah tersebut, Provinsi Riau menyumbang 11 titik panas yang tersebar di tujuh kabupaten dan kota.

Data ini menjadi perhatian karena hotspot merupakan salah satu indikator awal yang digunakan untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di berbagai wilayah.

Forecaster On Duty BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Putri Santy mengatakan, total hotspot yang terpantau di wilayah Riau mencapai 11 titik.

“Total hotspot di wilayah Riau terpantau sebanyak 11 titik,” ujar Putri Santy, Minggu pagi.

Sebaran hotspot di Riau meliputi Kabupaten Kuantan Singingi sebanyak dua titik, Kabupaten Pelalawan dua titik, Kabupaten Rokan Hilir dua titik, dan Kabupaten Indragiri Hilir dua titik.

Selanjutnya, masing-masing satu titik panas terdeteksi di Kabupaten Bengkalis, Kabupaten Rokan Hulu, dan Kota Dumai.

Di tingkat regional, Bangka Belitung menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak di Sumatera, yakni mencapai 49 titik. Posisi berikutnya ditempati Sumatera Selatan dengan 39 titik dan Jambi sebanyak 21 titik.

Sementara itu, hotspot juga terdeteksi di Aceh sebanyak empat titik, Bengkulu satu titik, Lampung lima titik, Sumatera Barat lima titik, dan Sumatera Utara delapan titik.

BMKG menjelaskan bahwa seluruh titik panas yang terpantau di Riau masih berada pada kategori confidence level sedang. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa hotspot yang muncul belum tentu merupakan kebakaran aktif dan masih memerlukan verifikasi lebih lanjut melalui pemantauan lanjutan maupun pengecekan lapangan.

Meski demikian, keberadaan hotspot tetap menjadi indikator penting dalam sistem peringatan dini karhutla. Data ini digunakan sebagai dasar bagi pemerintah daerah, aparat penanggulangan bencana, dan instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan di wilayah yang terindikasi memiliki potensi kebakaran.

Bagi masyarakat, informasi hotspot penting untuk diketahui karena karhutla dapat berdampak luas terhadap kualitas udara, aktivitas ekonomi, transportasi, hingga kesehatan masyarakat apabila tidak segera ditangani.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan dan tetap waspada terhadap potensi munculnya kebakaran, terutama di daerah yang terpantau memiliki titik panas. Pemantauan hotspot akan terus dilakukan guna mendukung langkah pencegahan dan mitigasi karhutla di Riau maupun wilayah Sumatera lainnya. (rac)

Exit mobile version