Oleh: Muhammad Yazid Hasibuan*
Al Quran telah menjadi petunjuk dan pedoman hidup umat muslim sepanjang zaman. Membacanya, selain mendatangkan pahala juga mendatangkan ketenangan bagi mereka yang mengamalkannya.
Banyak hadits Nabi Muhammad SAW yang membicarakan kemuliaan dan keutamaan Al quran. Salah satunya menyebut bahwa al quran akan datang di hari kiamat memberi syafaat bagi para pembacanya.
ه ْص َحاب َمِة َشِفيعًا ِِلَ ِقيَا ْ ال َ تِي يَ ْوم ْ ِنَّهُ يَأ ْرآ َن فَإ قُ ْ َر ُؤوا ال ق
“Bacalah Al-Qur’an, maka sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai syafaat bagi para pembacanya.” (HR. Muslim)
Dalam berbagai penelitian, Al Quran mengandung berbagai isyarat yang sejalan dengan temuan sains modern.
Seperti tahapan penciptaan manusia (Al-Mu’minun: 12-14) gunung sebagai pasak penyeimbang bumi(An-Naba: 6-7), pemisah dua lautan (Ar- Rahman: 19-20) dan berbagai keajaiban- keajaiban yang baru bisa dijelaskan setelah berabad-abad lamanya.
Jauh hari sebelum ilmu pengetahuan modern berkembang, Al Quran telah terlebih dulu mengungkap berbagai fakta tentang alam semesta dan kehidupan manusia. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa Al Quran bukanlah karya manusia, melainkan Wahyu dari Allah SWT.
Lebih menakjubkan adalah peristiwa yang beberapa bulan terakhir terjadi di Sumatera, ternyata sudah di jelaskan dalam Al Quran.
Walau tidak spesifik, tapi Al Quran menjelaskan prinsip, sebab dan pola terjadinya banjir tersebut. Di antaranya bahwa hujan adalah sunnatullah yang berjalan sesuai dengan hukum alam yang ditetapkan Allah (Az-Zumar: 21).
Di sisi lain, kerusakan lingkungan akibat aktivitas manusia dianggap sebagai faktor utama terjadinya bencana di darat dan di laut (Ar-Rum: 41).
Secara empiris, kondisi di lapangan menunjukkan bahwa banjir yang terjadi di berbagai wilayah Sumatera berkorelasi kuat dengan tingginya laju deforestasi.
Data lapangan dari berbagai lembaga lingkungan menunjukkan alih fungsi hutan menjadi perkebunan, pertambangan dan permukiman.
Kondisi ini menyebabkan berkurangnya daya serap tanah terhadap air hujan. Akibatnya, curah hujan yang tinggi tidak lagi dapat diserap secara optimal, melainkan langsung mengalir ke sungai dan meningkatkan debit air secara signifikan. Kondisi ini mempercepat terjadinya luapan sungai dan banjir di
kawasan hilir.
Fenomena tersebut sejalan dengan prinsip yang dijelaskan AlQuran bahwa kerusakan di darat dan laut merupakan konsekuensi dari perbuatan manusia (QS. Ar-Rūm: 41). Dimana ketidakseimbangan ekologis yang ditimbulkan eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan berimplikasi langsung terhadap meningkatnya risiko bencana.
Dengan demikian, banjir sumatera tidak semata-mata disebabkan faktor curah hujan, tetapi juga merupakan hasil dari degradasi lingkungan yang sistematis akibat penebangan hutan yang tidak terkendali.
Alhasil, ketika hujan turun terus-menerus tanah tak bisa menahan jumlah air yang tiba.
Berdasarkan beberapa kajian normatif al quran yang telah disebutkan dan fakta empiris di lapangan, dapat disimpulkan bahwa banjir yang terjadi di sumatera merupakan fenomena yang tidak dapat dilepaskan dari interaksi antara faktor alam dan aktivitas manusia yang kurang peduli dengan alam. (*)
* Penulis adalah mahasiswa PAI Sekolah Tinggi Agama Islam PIQ Sumatera Barat




