Tafsir dan Metodologi Penafsiran, Pendekatan Hermeneutika dalam Studi Tafsir Al Quran

Oleh : Sazkiya Maharani*

Al Quran merupakan kitab suci umat Islam yang menjadi pedoman utama dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagai wahyu ilahi yang diturunkan dalam konteks sosial, budaya dan bahasa tertentu, Al Quran memerlukan upaya pemahaman yang mendalam agar pesan-pesannya dapat diterapkan secara relevan di setiap zaman.

Karena itu, kajian tafsir Al Quran terus berkembang seiring dengan dinamika kehidupan manusia.

Tradisi penafsiran Al Quran telah melahirkan beragam metode tafsir, mulai dari tafsir bil ma’tsūr hingga tafsir bil ra’yi. Metode-metode tersebut berperan penting dalam membantu umat Islam memahami makna ayat-ayat Al Quran secara tekstual maupun kontekstual.

Namun, perkembangan zaman menghadirkan persoalan-persoalan baru yang menuntut pendekatan penafsiran yang lebih responsif dan kontekstual.

Dalam konteks inilah, pendekatan hermeneutika mulai diperbincangkan dalam studi tafsir Al Quran. Hermeneutika pada dasarnya merupakan teori dan metode penafsiran teks yang menekankan pada pemahaman makna melalui dialog antara teks, penafsir dan konteks.

Pendekatan ini banyak digunakan dalam kajian filsafat, sastra dan teks-teks keagamaan. Penerapan hermeneutika dalam studi tafsir Al Quran menimbulkan berbagai pandangan di kalangan akademisi Muslim.

Sebagian melihat hermeneutika sebagai alat bantu untuk memperkaya pemahaman Al Quran, sementara yang lain menilai pendekatan ini berpotensi menimbulkan problem teologis apabila tidak digunakan secara proporsional.

Berdasarkan latar belakang tersebut, artikel ini bertujuan untuk mengkaji pendekatan hermeneutika dalam studi tafsir Al Quran, meliputi pengertian, karakteristik serta relevansinya dalam memahami pesan Al Quran di era kontemporer.

Hermeneutika secara etimologis berasal dari bahasa Yunani hermeneuein yang berarti menafsirkan atau menjelaskan. Dalam konteks keilmuan, hermeneutika berkembang sebagai metode untuk memahami teks secara mendalam dengan mempertimbangkan latar belakang historis, bahasa, dan situasi penulis
maupun pembacanya.

Pendekatan ini menempatkan teks sebagai objek dialog yang terbuka terhadap makna.

Dalam studi tafsir Al Quran, hermeneutika digunakan untuk menjembatani jarak antara konteks turunnya wahyu dengan realitas masyarakat masa kini. Al Quran diturunkan dalam masyarakat Arab abad ke-7, sementara umat Islam modern hidup dalam konteks sosial dan budaya yang berbeda.

Karena itu, pemahaman literal semata sering kali tidak cukup untuk menjawab persoalan kontemporer.

Pendekatan hermeneutika dalam tafsir Al-Qur’an menekankan pentingnya memahami konteks historis ayat (asbāb al-nuzūl), struktur bahasa serta tujuan moral dan nilai universal yang terkandung di dalamnya.

Dengan demikian, fokus penafsiran tidak hanya pada bunyi teks, tetapi juga pada pesan substantif yang ingin disampaikan Al Quran.

Beberapa cendekiawan Muslim kontemporer berupaya mengadaptasi hermeneutika dengan prinsip-prinsip keislaman. Mereka menekankan bahwa hermeneutika tidak boleh dilepaskan dari keyakinan bahwa Al Quran adalah wahyu Allah yang bersifat sakral.

Maka itu, penerapannya harus tetap berpijak pada kaidah-kaidah tafsir dan akidah Islam.

Meskipun demikian, penggunaan hermeneutika dalam tafsir Al Quran juga menuai kritik. Kekhawatiran utama terletak pada kemungkinan subjektivitas penafsir yang berlebihan, sehingga makna ayat dapat bergeser dari maksud wahyu.

Sebab itu, pendekatan hermeneutika perlu dikendalikan dengan kerangka metodologis yang jelas dan bertanggung jawab.

Pendekatan hermeneutika dalam studi tafsir Al Quran merupakan salah satu upaya metodologis untuk menjawab tantangan pemahaman teks suci di tengah perubahan zaman.

Pendekatan ini menawarkan cara pandang yang lebih kontekstual dengan menekankan dialog antara teks, konteks dan penafsir.

Melalui hermeneutika, Al Quran tidak hanya dipahami sebagai teks statis, tetapi sebagai sumber ajaran yang memiliki pesan moral dan nilai universal yang relevan sepanjang masa.

Hal ini memungkinkan Al Quran untuk tetap menjadi pedoman hidup yang responsif terhadap problematika sosial, budaya dan kemanusiaan modern.

Namun demikian, penerapan hermeneutika dalam tafsir Al Quran harus dilakukan secara hati-hati. Kesadaran akan kesakralan Al Quran sebagai wahyu Allah menjadi landasan utama agar penafsiran tidak keluar dari koridor akidah dan prinsip dasar Islam.

Karena itu, pendekatan hermeneutika sebaiknya tidak diposisikan sebagai pengganti metode tafsir klasik, melainkan sebagai pelengkap yang memperkaya khazanah keilmuan tafsir.

Integrasi antara metode klasik dan pendekatan kontemporer akan menghasilkan pemahaman Al Quran yang lebih utuh dan seimbang.

Dengan demikian, pendekatan hermeneutika dapat memberikan kontribusi positif dalam studi tafsir Al Quran apabila diterapkan secara proporsional, ilmiah dan bertanggung jawab. Sehingga nilai-nilai Al Quran dapat terus hidup dan membumi dalam kehidupan umat manusia. (*)

* Penulis adalah mahasiswa Ilmu Al Quran dan Tafsir STAI PIQ Sumbar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *