Siak  

Ada Rp56 Miliar Dana MBG Beredar, Bupati Siak Minta SPPG Serap Hasil Pertanian Lokal

Bupati Afni menyaksikan penandatanganan kerjasama antara pengelola MBG dengan pelaku UMKM. (Foto: Istimewa)

SIAK, FOKUSRIAU.COM-Bupati Siak Afni Zulkifli menegaskan, program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Siak benar-benar memberi dampak bagi masyarakat lokal.

Dia meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memprioritaskan pembelian bahan pangan dari petani dan UMKM di Siak, bukan dari luar daerah.

Penegasan itu disampaikan Afni saat Rapat Koordinasi dan Monitoring Evaluasi Program MBG di Kantor Bupati Siak, Rabu (11/3/2026).

Menurutnya, tujuan utama program MBG yang digagas Presiden adalah membantu perekonomian masyarakat, khususnya pelaku UMKM dan sektor pertanian lokal.

Namun Afni mengaku kecewa karena sebagian dapur MBG justru lebih banyak berbelanja ke Pekanbaru.

“Tujuan utama Presiden lewat program MBG salah satunya membantu UMKM lokal. Kalau SPPG lebih banyak belanja di Pekanbaru dan hanya remah-remahnya saja di Siak, tentu ini sangat kita sesalkan,” tegas Afni.

56 Dapur MBG di Siak Diminta Bermitra dengan UMKM

Saat ini terdapat 56 dapur SPPG yang tersebar di berbagai kecamatan di Kabupaten Siak. Afni meminta seluruh pengelola dapur MBG segera menjalin kemitraan dengan pelaku usaha lokal.

Dia bahkan memerintahkan dinas terkait untuk membantu mencarikan UMKM yang bisa menyuplai kebutuhan dapur MBG.

“Ambil dulu produk UMKM. Cari UMKM lokal, bina mereka, yayasan kolaborasi dengan dinas kami. Kami yang akan carikan UMKM-nya,” ujarnya.

Data pemerintah daerah menunjukkan, terdapat sekitar 1.568 UMKM di Kabupaten Siak, sebagian besar bergerak di sektor pertanian dan sebagian lainnya di sektor perikanan.

Siap Pangkas Anggaran Demi MBG

Bupati Afni juga menegaskan komitmennya untuk menyukseskan program MBG demi pemenuhan gizi anak-anak di Siak.

Dahkan, ia siap melakukan penyesuaian anggaran daerah demi mendukung program prioritas nasional tersebut.

“Saya akan fokus pada MBG. Draft kesepakatan sudah saya buat dan akan terus kita kawal sampai ke pusat,” katanya.

Selain itu, Pemkab Siak juga akan melibatkan puskesmas serta tenaga ahli gizi untuk memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada anak-anak tetap terjaga.

Pada pertemuan tersebut, Afni juga menyoroti laporan terkait menu MBG selama bulan Ramadan yang dinilai kurang layak.

Ia menyebut ada paket makanan yang hanya berisi kacang polong, kacang goreng, pisang, dan brownies untuk anak-anak PAUD.

“Saya dapat laporan menu yang diberikan hanya kacang-kacang seperti kue hari raya. Seharusnya bisa diolah menjadi makanan yang lebih baik untuk anak-anak,” ujarnya.

Dana Rp56 Miliar Beredar di Siak

Sementara itu, Kepala Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Pekanbaru, Syartiwidya menyebut potensi ekonomi dari program MBG di Siak sangat besar.

Dia menjelaskan, setiap dapur SPPG memiliki sekitar 50 tenaga kerja, sehingga total ratusan pekerja terlibat langsung dalam program tersebut.

Setiap dapur juga mengelola anggaran sekitar Rp1 miliar per bulan. Artinya, dengan 56 dapur MBG, uang yang beredar di Siak bisa mencapai Rp56 miliar per bulan.

“Dana MBG memang triliunan, tapi sekitar 93 persen kembali ke masyarakat. Jangan sampai uang yang beredar di Siak justru keluar dari daerah,” ujarnya.

Syartiwidya juga menyarankan agar UMKM di Siak menggandeng Kamar Dagang dan Industri (Kadin) serta memanfaatkan Kredit Usaha Rakyat (KUR) dari perbankan untuk menambah modal usaha.

Dengan dukungan tersebut, UMKM diharapkan mampu memenuhi kebutuhan dapur MBG, misalnya memproduksi 2.500 porsi makanan atau kue per hari.

Ia juga mendorong lahirnya konsep “one product one village” agar setiap desa memiliki produk unggulan yang dapat menyuplai program MBG. (Inf)

Tinggalkan Balasan