Oleh : Iwan Ahmad, S.I.Q., S.Ag., C.PS, C.ELQ*)
Muqaddimah
Allah SWT berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّىٰ وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّىٰ
“Sungguh beruntung orang yang membersihkan dirinya (dari dosa), dan dia mengingat nama Tuhannya lalu dia shalat.”
(QS. Al-A’la: 14–15)
Ayat ini menjelaskan bahwa orang yang beruntung adalah orang yang mensucikan dirinya.
1. Makna Idul Fitri: Kembali kepada Fitrah
Kata Idul Fitri berasal dari dua kata, yakni ‘Id yang berarti kembali dan Fitri yang berarti fitrah atau kesucian
Artinya, Idul Fitri adalah kembalinya manusia kepada kesucian setelah sebulan penuh berpuasa, menahan diri, memperbanyak ibadah, dan memohon ampun kepada Allah SWT.
Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Inilah harapan kita semua: keluar dari Ramadhan dalam keadaan bersih dari dosa.
2. Tanda Hati yang Kembali Suci
Jamaah yang dimuliakan Allah
Bagaimana tanda seseorang yang kembali suci setelah Ramadhan?
Pertama: Hatinya lembut dan mudah memaafkan.
Allah berfirman:
وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلَا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ
“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Tidakkah kalian ingin Allah mengampuni kalian?”
(QS. An-Nur: 22)
Karena itu, Idul Fitri adalah momen saling memaafkan, membersihkan hati dari dendam dan kebencian.
Kedua: Lisannya menjadi lebih baik.
Selama Ramadhan kita belajar menjaga lisan dari ghibah, fitnah, dan perkataan yang menyakiti orang lain.
Ketiga: Ibadahnya tetap terjaga.
Orang yang benar-benar merasakan manisnya Ramadhan akan tetap menjaga shalat, membaca Al-Qur’an, dan berbuat kebaikan setelah Ramadhan.
3. Jangan Hanya Pakaian yang Baru, Tetapi Hati Juga Harus Baru
Seringkali ketika Idul Fitri kita sibuk mempersiapkan pakaian baru, rumah baru, bahkan kendaraan baru.
Namun yang lebih penting adalah hati yang baru.
Para ulama mengatakan:
“Bukanlah Idul Fitri bagi orang yang memakai pakaian baru, tetapi Idul Fitri bagi orang yang ketaatannya bertambah.”
Karena itu, jika setelah Ramadhan kita kembali malas shalat, kembali melakukan dosa, maka kita perlu bertanya pada diri kita: apakah Ramadhan benar-benar telah memperbaiki kita?
4. Memperbanyak Takbir Menyambut Idul Fitri
Allah SWT berfirman:
وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ
“Hendaklah kalian menyempurnakan bilangannya dan mengagungkan Allah (bertakbir) atas petunjuk-Nya agar kalian bersyukur.” (QS. Al-Baqarah: 185)
Karena itu malam Idul Fitri dianjurkan memperbanyak takbir:
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ
اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ
Takbir ini adalah bentuk syukur kita kepada Allah karena telah diberi kesempatan menjalani Ramadhan.
Penutup
Jamaah yang dirahmati Allah,
Mari kita jadikan Idul Fitri sebagai momentum perubahan hidup.
Memperbaiki hubungan dengan Allah
Memperbaiki hubungan dengan manusia
Membersihkan hati dari dosa dan kebencian
Semoga ketika kita mengucapkan “Taqabbalallahu minna wa minkum”, Allah benar-benar menerima seluruh amal ibadah kita di bulan Ramadhan dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada fitrah.
Semoga Idul Fitri kali ini menjadikan hati kita benar-benar kembali suci.
Amin ya Rabbal ‘alamin. (*)
* Iwan Ahmad adalah akademisi dan praktisi pendidikan Islam. Menyelesaikan pendidikan di bidang Ilmu Al-Qur’an dan Studi Keislaman dan aktif menulis serta mengkaji isu-isu pendidikan Islam, tahfizh al-Qur’an maupun pengembangan karakter Qur’ani. Minat kajiannya meliputi pemikiran pendidikan Islam, integrasi ilmu agama dan ilmu umum dan rekonstruksi pendidikan Islam di era modern. Saat ini, aktif dalam kegiatan akademik, pengembangan program pendidikan dan penulisan ilmiah di bidang keislaman.
