DUMAI, FOKUSRIAU.COM-Kapolda Riau Pol Irjen Herry Heryawan mendatangi lokasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Dumai Timur, Kota Dumai, Jumat (27/3/2026). Saat ini, terdapat 11 hotspot di Dumai dengan luas lahan terbakar mencapai sekitar 87,25 hektare.
Saat kunjungan, Kapolda didampingi Founder Tumbuh Institute, Rocky Gerung dan unsur pemerintah daerah, TNI-Polri, BPBD, Manggala Agni, relawan hingga pihak swasta yang terlibat dalam pemadaman.
Kapolda bahkan turun langsung ke titik api bersama tim gabungan untuk memastikan kondisi riil di lapangan. Ia menyebut jumlah hotspot di Dumai menunjukkan tren penurunan signifikan dibandingkan sebelumnya yang sempat mencapai puluhan titik.
“Hari ini saya hadir langsung di lokasi di Kecamatan Dumai Timur bersama seluruh unsur yang sejak beberapa hari terakhir terus bergerak, mulai dari Rupat, Pelalawan hingga Dumai,” ujar Herry.
Data terkini mencatat, dari total 11 hotspot, sebanyak 2 titik berada di Dumai Timur dan 9 titik di Medang Kampai dengan kategori sedang. Meski demikian, upaya pemadaman dinilai efektif menekan penyebaran api.
Menurut Herry, keberhasilan pengendalian karhutla Dumai tidak terlepas dari kerja sama lintas sektor yang solid dan respons cepat terhadap kendala di lapangan.
“Ini hasil kerja bersama tim gabungan terdiri dari TNI, Polri, pemerintah daerah, BPBD, Damkar, Manggala Agni, MPA, relawan hingga swasta. Kita tidak bisa bekerja parsial, semua harus gotong royong,” tegasnya.
Ditambahkan, berbagai langkah strategis terus dilakukan, mulai dari optimalisasi peralatan pemadaman, dukungan water bombing, hingga koordinasi modifikasi cuaca guna mengantisipasi meluasnya kebakaran.
Kapolda juga mengingatkan potensi peningkatan risiko karhutla memasuki puncak musim kemarau pada Juni hingga Agustus 2026, sehingga sinergi semua pihak harus terus diperkuat.
Sementara itu, Rocky Gerung menilai langkah cepat aparat di lapangan menjadi faktor penting dalam memutus siklus tahunan karhutla di Riau. Ia menyoroti pentingnya pendekatan tidak hanya teknis, tetapi juga kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan.
“Teknologi seperti water bombing dan modifikasi cuaca bisa membantu, tetapi yang paling penting adalah kesadaran menjaga relasi dengan alam. Jika tidak, kebakaran akan terus berulang,” ujarnya.
Kunjungan ini menegaskan bahwa pengendalian karhutla Dumai tidak hanya bertumpu pada aparat, melainkan membutuhkan keterlibatan semua pihak.
Dengan tren penurunan hotspot saat ini, diharapkan kebakaran dapat dikendalikan dan tidak berkembang menjadi bencana asap yang lebih luas di Riau. (bsh)
