PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM–Penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau terus berlanjut. Pemerintah Provinsi Riau bergerak cepat dengan mengajukan tambahan helikopter water bombing Riau ke pemerintah pusat, sembari mengintensifkan operasi hujan buatan untuk menekan api menyebar.
Kondisi di lapangan menunjukkan upaya pemadaman masih menghadapi keterbatasan sarana. Saat ini, hanya satu unit helikopter yang beroperasi, sementara titik api terus bertambah seiring cuaca panas dan kering yang melanda sebagian wilayah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Damkar Riau, Jim Gafur menyampaikan, pihaknya telah mengusulkan penambahan armada udara untuk memperkuat pemadaman.
“Permohonan tambahan helikopter water bombing sudah diajukan kembali. Saat ini masih dalam proses karena tahapan perizinannya cukup panjang,” ujar Jim kepada wartawan, Kamis (2/4/2026) di Pekanbaru.
Dikatakan, minimnya armada udara menjadi tantangan serius dalam mengendalikan kebakaran, terutama di daerah yang sulit dijangkau tim darat. Sejumlah wilayah dengan karakteristik lahan gambut membuat api mudah menyebar dan sulit dipadamkan secara manual.
Beberapa daerah yang menjadi perhatian utama antara lain Kabupaten Bengkalis, Indragiri Hilir, Siak, Pelalawan dan Kota Dumai.
Wilayah-wilayah ini dikenal rawan karhutla, terutama saat musim kemarau mulai berlangsung.
Strategi Hujan Buatan Dipercepat
Selain mengandalkan water bombing, Pemprov Riau juga menggencarkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) atau hujan buatan. Program ini dilakukan bersama pemerintah pusat sebagai langkah strategis untuk mengurangi potensi kebakaran.
OMC tahap kedua telah berjalan sejak 28 Maret hingga awal April 2026 dengan fokus penyemaian awan di kawasan pesisir timur Riau. Upaya ini bertujuan meningkatkan curah hujan agar lahan, khususnya gambut, tetap lembap dan tidak mudah terbakar.
Menurut Jim Gafur, total bahan semai berupa garam (NaCl) yang telah digunakan mencapai 11 ton selama pelaksanaan operasi tersebut.
“OMC difokuskan untuk membasahi area rawan, sehingga risiko kebakaran bisa ditekan sejak dini,” ulasnya.
Operasi hujan buatan yang saat ini berlangsung merupakan kelanjutan dari tahap pertama yang telah dilaksanakan pada Februari lalu. Evaluasi dari tahap sebelumnya menunjukkan bahwa metode ini cukup efektif dalam mengurangi titik panas, meskipun masih bergantung pada kondisi atmosfer.
Dengan kombinasi strategi darat dan udara, pemerintah berharap penanganan karhutla bisa berjalan lebih optimal. Tambahan helikopter water bombing dinilai sangat krusial untuk menjangkau area terpencil yang tidak dapat diakses kendaraan pemadam.
Pemprov Riau optimistis bahwa sinergi antara hujan buatan dan penguatan armada pemadam udara dapat mempercepat pengendalian kebakaran. Langkah ini juga diharapkan mampu meminimalisir dampak kabut asap yang berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat serta aktivitas ekonomi.
“Kami berharap dengan dukungan tambahan armada dan OMC yang terus berjalan, pengendalian karhutla di Riau bisa lebih maksimal, terutama di wilayah yang sulit dijangkau,” tukasnya. (trp/bsh)




