PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Pasar energi global bergejolak, Rabu (8/4/2026). Harga minyak dunia anjlok tajam hingga menembus level psikologis di bawah USD 100 per barel. Penurunan dipicu meredanya ketegangan geopolitik, setelah Amerika Serikat dan Iran menyepakati jeda konflik sementara.
Sentimen positif muncul setelah Presiden AS, Donald Trump menyetujui gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan tersebut membuka peluang kembali beroperasinya Selat Hormuz, jalur vital distribusi minyak global yang sebelumnya terancam terganggu.
Mengutip laporan pasar internasional, kontrak Brent ditutup melemah signifikan sebesar USD 14,52 atau sekitar 13,29 persen ke posisi USD 94,75 per barel. Sementara itu, minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) juga merosot lebih dalam, turun USD 18,54 atau 16,41 persen menjadi USD 94,41 per barel.
Penurunan harga minyak ini langsung berdampak pada komoditas energi lainnya. Harga batu bara acuan ICE Newcastle untuk kontrak April 2026 turut terkoreksi 2,17 persen ke level USD 135,50 per ton. Pelemahan ini mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi penurunan permintaan energi global.
Tak hanya energi fosil, tekanan juga terjadi pada minyak nabati. Harga crude palm oil (CPO) di pasar Malaysia tercatat melemah 3,76 persen ke posisi MYR 4.586 per ton. Koreksi ini dipengaruhi oleh sentimen eksternal dan fluktuasi harga minyak dunia yang sering menjadi acuan.
Di sisi lain, tren berbeda terjadi pada logam industri. Harga nikel justru menguat 2,09 persen dan ditutup di level USD 17.302 per ton. Kenaikan ini didorong oleh ekspektasi permintaan dari sektor kendaraan listrik yang terus tumbuh.
Sementara itu, harga timah melonjak cukup tajam sebesar 3,63 persen hingga mencapai USD 47.627 per ton. Penguatan ini dipicu oleh terbatasnya pasokan global serta meningkatnya kebutuhan industri elektronik.
Secara keseluruhan, pergerakan harga komoditas pada hari tersebut menunjukkan betapa sensitifnya pasar terhadap dinamika geopolitik. Pelaku pasar kini menanti perkembangan lanjutan dari kesepakatan AS-Iran yang berpotensi menjadi penentu arah harga energi dan komoditas global dalam jangka pendek. (bsh)
Sumber: Kumparan
