PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kasus kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau sepanjang Januari-Maret 2026 menunjukkan lonjakan drastis. Total area terdampak mencapai 8.555,4 hektare, meningkat tajam dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Data rekapitulasi lintas lembaga mengungkap, dua wilayah menjadi episentrum kebakaran adalah Bengkalis dengan 3.298,4 hektare dan Pelalawan 3.338,6 hektare. Berikutnya Indragiri Hilir 744,0 hektare, Dumai 438,4 hektare dan Siak 248,3 hektare.
Sejumlah daerah lain juga terdampak meski dalam skala lebih kecil. Rokan Hilir mencatat 181,6 hektare, Kepulauan Meranti 197,9 hektare, Kampar 52,7 hektare, Kuantan Singingi 27,6 hektare, Indragiri Hulu 14,2 hektare, Rokan Hulu 5,9 hektare, dan Pekanbaru 7,9 hektare.
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto menyebut, angka tersebut diperoleh melalui analisis citra satelit yang melibatkan Kementerian Kehutanan, BRIN dan Kementerian Lingkungan Hidup.
Menurutnya, sejak awal tahun, tim Manggala Agni telah meningkatkan kesiapsiagaan melalui patroli terpadu, pemadaman dini, serta sosialisasi kepada masyarakat. Namun kondisi lahan gambut yang kering mempercepat penyebaran api.
“Personel di lapangan sering harus bertahan berhari-hari di hutan untuk memastikan api benar-benar padam,” ujar Ferdian, Rabu (15/4/2026).
Berbagai kendala turut dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber air, suhu panas ekstrem, hingga angin kencang yang memicu api cepat meluas.
Lonjakan karhutla tahun ini tergolong signifikan. Medio Januari-Maret 2025, luas kebakaran hanya 679,8 hektare. Sementara 2024 tercatat 2.947,4 hektare dan 2023 sebesar 507,7 hektare. Artinya, angka tahun 2026 melonjak lebih dari sepuluh kali lipat dibandingkan 2025.
Ferdian mengingatkan, kondisi saat ini belum memasuki puncak musim rawan kebakaran. Berdasarkan prakiraan BMKG, periode paling berisiko terjadi pada Juni hingga September.
Ia memaparkan dua skenario yang mungkin terjadi ke depan. Pertama, luas kebakaran bisa menurun karena sebagian area sudah terbakar lebih dulu. Namun di sisi lain, potensi peningkatan tetap terbuka jika kondisi cuaca semakin kering.
“Situasi ini harus jadi bahan evaluasi bersama. Upaya pencegahan perlu diperkuat agar tidak semakin meluas saat musim kemarau,” tukasnya. (trp/bsh)
