Viral di Padang, Dua Siswa Panti Asuhan Diminta Pindah Sebab Tunggakan Seragam Rp300.000

Dio dan Afil dua siswa yang diminta pindah sekolah karena menunggak biaya seragam dan pindah sekolah saat ditemui Kompas.con, Kamis (7/5/2026). (Foto: Istimewa)

PADANG, FOKUSRIAU.COM-Kisah dua pelajar panti asuhan di Kota Padang mendadak menyita perhatian publik. Bukan karena prestasi akademik, melainkan akibat tunggakan biaya seragam sekolah senilai Rp300 ribu per orang yang berujung permintaan pindah sekolah.

Dua siswa itu adalah Dio Patuta (18) dan Afil Mulyadi (17), pelajar Madrasah Aliyah Swasta Al Furqon, Kota Padang, Sumatera Barat. Nama keduanya ramai diperbincangkan setelah tangkapan layar percakapan WhatsApp terkait permintaan pindah sekolah beredar luas di media sosial.

Peristiwa tersebut memunculkan gelombang empati publik. Banyak pihak menilai persoalan biaya seragam seharusnya tidak menjadi alasan terganggunya pendidikan anak, terlebih keduanya merupakan penghuni panti asuhan.

Di tengah polemik yang berkembang, Pemerintah Kota Padang langsung turun tangan. Pemko memastikan Dio dan Afil tetap mendapatkan hak pendidikan dan segera memperoleh sekolah baru.

Kepala Dinas Pendidikan Kota Padang, Yopi Krislova mengatakan, pemerintah tidak ingin ada anak putus sekolah hanya karena kendala ekonomi.

“Kami sudah bertemu langsung dengan kedua siswa. Mereka ingin tetap sekolah dan meminta difasilitasi pindah,” kata Yopi, Senin (12/5/2026).

Menurutnya, langkah cepat itu menjadi bagian dari komitmen program “Padang Juara” yang menargetkan nol persen angka putus sekolah di ibu kota Sumatera Barat tersebut.

Yopi menegaskan, persoalan finansial tidak boleh menghentikan masa depan pelajar. “Pendidikan adalah hak anak. Pemerintah hadir memastikan hak itu tetap berjalan,” ujarnya.

Di sisi lain, pihak sekolah membantah telah resmi mengeluarkan Dio dan Afil. Kepala MAS Al Furqon, Desmaelfa Sinar menyebut, polemik bermula dari tunggakan pembayaran seragam kepada vendor sekolah.

Ia menjelaskan, pihak sekolah mendapat tekanan pembayaran pada awal Mei 2026. Total tagihan seragam muslim dan batik milik kedua siswa mencapai Rp600 ribu.

Dalam kondisi keuangan yang terbatas, Desma menghubungi pengurus Panti Asuhan Nur Ilahi untuk meminta penyelesaian pembayaran.

Namun komunikasi itu berubah tegang. Pada Sabtu malam, 2 Mei 2026, Desma mengirim pesan WhatsApp yang meminta agar Dio dan Afil dipindahkan saja ke sekolah lain.

Pesan tersebut kemudian tersebar dan memicu kemarahan publik. Desma mengaku kalimat itu lahir dari tekanan emosional, bukan keputusan resmi sekolah. “Hati kecil kami sebenarnya tidak ingin mengeluarkan mereka. Itu hanya ungkapan emosional,” katanya.

Ia juga membantah tudingan bahwa sekolah mengusir siswa karena tunggakan biaya. “Informasi siswa dikeluarkan itu tidak benar. Tidak ada surat resmi,” ujarnya lagi.

Meski begitu, dampak psikologis telanjur dirasakan kedua pelajar tersebut. Dio dan Afil mengaku enggan kembali ke sekolah lama karena takut menjadi bahan pembicaraan teman-temannya.

Sejak kasus itu mencuat, keduanya lebih banyak membantu aktivitas harian di panti asuhan.

Dio, yang bercita-cita menjadi guru, mengaku tetap ingin melanjutkan pendidikan meski harus pindah sekolah. “Saya ingin tetap sekolah. Kalau bisa nanti kuliah juga,” ucap Dio pelan.

Situasi ini memperlihatkan persoalan klasik pendidikan swasta di daerah. Banyak sekolah nonnegeri masih bergantung pada pembayaran siswa untuk menutup biaya operasional harian.

Di sisi lain, keluarga kurang mampu dan lembaga sosial seperti panti asuhan sering kesulitan memenuhi kebutuhan pendidikan tambahan di luar biaya utama sekolah.

Pengamat pendidikan di Sumatera Barat menilai kasus ini menjadi alarm penting bagi pemerintah daerah. Bantuan pendidikan dinilai tidak cukup hanya fokus pada uang sekolah, tetapi juga harus menyasar kebutuhan dasar lain seperti seragam dan perlengkapan belajar.

Sebab dalam praktiknya, beban biaya nonakademik sering menjadi pemicu anak berhenti sekolah.

Kasus Dio dan Afil juga memantik solidaritas masyarakat. Sebelum Pemko Padang turun tangan, seorang personel TNI AU disebut telah membantu melunasi seluruh tunggakan biaya seragam kedua siswa tersebut.

Namun persoalan tidak langsung selesai. Hubungan pihak sekolah dan panti asuhan disebut sudah terlanjur renggang.

Di tengah proses itu, sempat muncul isu biaya pindah sekolah sebesar Rp2,5 juta. Pihak panti mengaku keberatan dengan angka tersebut.

Akan tetapi, pihak sekolah kembali menyebut nominal itu hanya bentuk “pancingan” agar siswa tetap bertahan di sekolah lama.

Kini fokus utama pemerintah adalah memastikan proses perpindahan berjalan cepat. Langkah itu dinilai penting karena jadwal ujian semester semakin dekat.

Pihak Panti Asuhan Nur Ilahi juga memastikan sudah ada donatur yang siap membantu biaya administrasi sekolah baru bagi Dio dan Afil.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pendidikan bukan sekadar soal ruang kelas. Ada persoalan ekonomi, komunikasi, hingga empati yang ikut menentukan masa depan seorang anak.

Di tengah tekanan hidup yang semakin berat, kisah Dio dan Afil memperlihatkan satu hal penting. Kadang, mimpi seorang pelajar bisa goyah hanya karena biaya seragam yang bagi sebagian orang terlihat sederhana. (kps)

Exit mobile version