PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ketika tekanan ekonomi dan naiknya harga kebutuhan pangan rumah tangga mulai membuat sesak nafas, langkah kecil warga di Kelurahan Tirta Siak, Kecamatan Payung Sekaki, Pekanbaru ini justru menarik perhatian aparat kepolisian.
Lahan sempit berukuran sekitar 50 meter persegi yang ditanami kangkung dan bayam merah itu, kini menjadi simbol nyata gerakan ketahanan pangan di tingkat lingkungan.
Hal itu terlihat ketika Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki, Iptu Restu Inanda bersama Bhabinkamtibmas Aiptu Subagiyo meninjau kebun warga di Jalan Sikumbang Jati. Kegiatan warga itu seakan menyiratkan pesan, ketahanan pangan nasional tidak selalu dimulai dari sawah luas, tetapi juga dari pekarangan kecil yang produktif.
Restu Inanda menyebut, pemanfaatan lahan terbatas menjadi salah satu langkah strategis menghadapi tantangan kebutuhan pangan masyarakat perkotaan. Menurutnya, gerakan seperti ini perlu terus didorong karena memberi dampak langsung bagi warga.
“Lahan kecil kalau dikelola serius tetap bisa menghasilkan. Ini bukan hanya soal menanam sayur, tetapi juga membangun kesadaran masyarakat agar lebih mandiri,” ujar Restu saat berdialog dengan warga.
Sementara itu, Aiptu Subagiyo turut memberikan pesan kepada warga agar tetap konsisten mengembangkan pertanian skala rumah tangga. Dia menilai, tanaman cepat panen seperti kangkung dan bayam merah memiliki nilai ekonomis sekaligus membantu kebutuhan konsumsi keluarga sehari-hari.
Fenomena pemanfaatan pekarangan rumah sebenarnya mulai berkembang di sejumlah daerah, termasuk di Pekanbaru. Harga bahan pangan yang fluktuatif membuat masyarakat mulai mencari alternatif penghematan. Kondisi ini diperkuat dengan meningkatnya kesadaran warga terhadap pentingnya pangan sehat dan mudah dijangkau.
Selain itu, urban farming atau pertanian perkotaan juga mulai menjadi tren baru di kawasan permukiman padat. Tidak sedikit warga memanfaatkan halaman rumah, pot bekas hingga lahan tidur untuk ditanami sayuran produktif. Langkah sederhana itu perlahan menciptakan ketahanan pangan dari level keluarga.
Di lokasi kebun, tanaman kangkung tampak tumbuh subur dengan warna hijau segar. Sementara bayam merah terlihat rapi dalam bedengan sederhana. Meski tidak luas, lahan tersebut mampu menghasilkan panen rutin untuk kebutuhan rumah tangga dan sebagian dijual kepada warga sekitar.
Bagi aparat kepolisian, pendekatan seperti ini dinilai lebih efektif membangun hubungan sosial dengan masyarakat. Polisi tidak hanya hadir saat terjadi gangguan keamanan, tetapi juga ikut mendukung aktivitas produktif warga.
Dikatakan, program ketahanan pangan menjadi isu penting yang membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Karena itu, pihaknya ingin memastikan masyarakat mendapat dukungan moral dan motivasi agar terus bergerak.
“Kami ingin hadir lebih dekat dengan masyarakat. Ketahanan pangan ini bukan hanya program pemerintah, tetapi kebutuhan bersama,” katanya.
Langkah pendampingan kepada warga juga dianggap relevan dengan kondisi ekonomi saat ini. Di tengah ketidakpastian global dan perubahan iklim yang mempengaruhi produksi pangan, gerakan pertanian sederhana di lingkungan masyarakat memiliki nilai strategis.
Di Pekanbaru sendiri, keterbatasan lahan sering menjadi kendala utama masyarakat untuk bercocok tanam. Namun kondisi tersebut mulai diatasi melalui metode tanam sederhana dan efisien. Banyak warga kini memanfaatkan lahan kosong sempit dengan tanaman cepat panen yang tidak membutuhkan biaya besar.
Keberadaan kebun kecil di Tirta Siak menjadi contoh bahwa ketahanan pangan, tidak selalu membutuhkan modal besar. Dengan kemauan dan konsistensi, lahan terbatas tetap dapat memberi manfaat ekonomi sekaligus sosial.
Warga setempat mengaku senang, karena aktivitas pertanian kecil mereka mendapat perhatian langsung dari aparat kepolisian. Dukungan tersebut dinilai menjadi penyemangat agar mereka terus mengembangkan tanaman produktif di lingkungan rumah.
Tidak hanya membantu kebutuhan dapur, hasil panen sayuran juga mulai menciptakan interaksi ekonomi kecil antarwarga. Beberapa hasil panen bahkan dibagikan kepada tetangga sekitar sebagai bentuk solidaritas lingkungan.
Di sisi lain, keterlibatan Bhabinkamtibmas dalam kegiatan sosial seperti ini memperlihatkan pola pendekatan humanis yang kini semakin diperkuat di tingkat masyarakat. Polisi hadir tidak semata menjaga keamanan, tetapi juga ikut mendukung program yang menyentuh kebutuhan dasar warga.
Gerakan ketahanan pangan berbasis lingkungan diperkirakan akan terus berkembang di berbagai daerah. Pemerintah pusat sendiri mendorong keterlibatan masyarakat dalam menjaga stabilitas pangan nasional melalui pemanfaatan lahan produktif skala kecil.
Dari kebun sederhana di Jalan Sikumbang Jati, pesan besar itu terlihat jelas. Ketahanan pangan nasional ternyata bisa dimulai dari langkah kecil warga, dari tanah sempit yang diolah dengan kesungguhan, lalu tumbuh menjadi harapan baru bagi lingkungan sekitar. (bsh)
