564 Ribu Orang Hidup dengan HIV di Indonesia, Wabup Siak Minta Remaja Waspada

Wabup Siak Syamsurizal mengajak seluruh remaja di Siak mewaspadai ancaman narkoba dan HIV. (Foto: Dok. Kominfo Siak)

SIAK, FOKUSRIAU.COM-Sebanyak 564 ribu orang tercatat hidup dengan HIV di Indonesia hingga 2025. Tingginya angka tersebut menjadi peringatan bagi seluruh pihak untuk memperkuat upaya pencegahan, terutama di kalangan generasi muda yang rentan terpapar berbagai perilaku berisiko.

Perhatian itu disampaikan Wakil Bupati Siak, Syamsurizal saat memberikan edukasi kepada siswa SMA se-Kabupaten Siak saat sosialisasi bahaya narkoba, HIV/AIDS, dan kesehatan remaja di Lapangan Siak Bermadah, Kamis (11/6/2026).

Menurut Syamsurizal, tantangan yang dihadapi remaja saat ini semakin kompleks. Selain ancaman penyalahgunaan narkoba, generasi muda juga dihadapkan pada risiko penyebaran HIV/AIDS serta pergaulan bebas yang dapat berdampak terhadap masa depan mereka.

Mengacu pada data Kementerian Kesehatan RI tahun 2025, terdapat sekitar 564 ribu orang yang hidup dengan HIV di Indonesia. Dari jumlah tersebut, sekitar 86 persen kasus ditemukan pada kelompok usia produktif 25 hingga 49 tahun.

Meski mayoritas kasus terjadi pada usia produktif, Syamsurizal menilai upaya pencegahan harus dimulai sejak usia sekolah. Menurutnya, pembekalan pengetahuan sejak dini menjadi langkah penting agar remaja mampu memahami risiko dan menghindari perilaku yang dapat meningkatkan peluang penularan HIV maupun penyalahgunaan narkoba.

“Data ini harus menjadi perhatian kita bersama. Anak-anak muda perlu dibekali pemahaman yang benar agar tidak terjerumus pada perilaku yang merugikan diri sendiri maupun masa depan mereka,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pencegahan tidak dapat dibebankan kepada pemerintah semata. Keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial harus mengambil peran aktif dalam membimbing serta mengawasi perkembangan anak-anak dan remaja.

“Kita semua harus bersama-sama menghindari, apalagi anak-anak. Umur mereka ini cenderung bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang tidak baik. Pencegahan ini kita mulai dari keluarga dulu, kedua dari pendidikan melalui para guru agar selalu memberi pemahaman seperti bahaya HIV/AIDS dan narkoba. Ketiga, diperkuat dengan nilai-nilai agama masing-masing,” katanya.

Syamsurizal juga menyoroti pengaruh media sosial yang semakin besar dalam kehidupan remaja. Di satu sisi, media sosial dapat menjadi sarana edukasi dan pengembangan diri. Namun di sisi lain, platform digital juga dapat membuka peluang masuknya pengaruh negatif apabila tidak digunakan secara bijak.

Karena itu, ia menilai peran orang tua menjadi semakin penting sebagai benteng utama dalam melindungi anak-anak dari berbagai risiko sosial yang berkembang di era digital.

“Peran keluarga sangat penting sebagai benteng utama dalam menjaga anak-anak kita dari pengaruh negatif, termasuk di era media sosial yang semakin terbuka,” ujarnya.

Sebagai bagian dari upaya pencegahan perilaku berisiko, Pemerintah Kabupaten Siak juga terus mendorong peningkatan kedisiplinan pelajar. Salah satunya melalui imbauan agar peserta didik sudah berada di rumah paling lambat pukul 22.00 WIB.

Kebijakan tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi aktivitas remaja di luar rumah pada malam hari yang berpotensi memicu berbagai masalah sosial, termasuk penyalahgunaan narkoba dan pergaulan berisiko.

Sementara itu, Ketua Yayasan Jantung Indonesia (YJI) Kabupaten Siak, Siti Sarifah, mengatakan edukasi yang diberikan kepada pelajar tidak hanya berfokus pada HIV/AIDS dan narkoba, tetapi juga pentingnya menerapkan pola hidup sehat sejak dini.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi program perdana YJI Kabupaten Siak setelah kepengurusan baru dilantik pada Mei 2026. Ke depan, pihaknya berkomitmen memperluas edukasi kesehatan kepada masyarakat dan kalangan pelajar.

“Ke depan kami ingin senam jantung sehat dan pola hidup sehat menjadi kebiasaan yang bisa dilakukan secara rutin oleh masyarakat, termasuk pelajar di sekolah maupun di rumah,” katanya.

Kegiatan yang melibatkan Yayasan Jantung Indonesia Kabupaten Siak, Asosiasi Perusahaan Sahabat Anak Indonesia (APSAI), dan Komisi Penanggulangan AIDS itu diikuti ratusan pelajar. Acara diawali dengan senam jantung sehat, dilanjutkan edukasi kesehatan, pencegahan HIV/AIDS, bahaya narkoba, serta sesi interaktif yang mendapat antusiasme tinggi dari peserta. (bsh)

Exit mobile version