Oleh: Nur Fitriani Karmila*
Telepon pintar atau smartphone, sebuah perangkat yang seharusnya mempermudah kehidupan. Sayangnya, justru mengontrol kehidupan penggunanya. Setiap hari, ratusan notifikasi masuk seperti pesan percakapan, pembaruan media sosial, surel hingga pemberitahuan aplikasi.
Layar menyala, getaran terasa dan tanpa sadar tangan meraih ponsel. Siklus ini berulang ratusan kali setiap hari, menginterupsi aktivitas, memecah konsentrasi dan menguras energi mental.
Fenomena ini bukan lagi sekadar kebiasaan, melainkan telah menjadi permasalahan serius yang berdampak pada produktivitas, kesehatan mental dan kualitas hidup masyarakat modern.
Pertanyaan mendasar kemudian muncul, apakah manusia yang mengontrol telepon pintar atau justru sebaliknya?
Fenomena Notifikasi yang Mengontrol Hidup
Pengguna telepon pintar menerima ratusan notifikasi setiap hari dari berbagai sumber. Aplikasi percakapan seperti WhatsApp mendominasi, diikuti platform media sosial seperti Instagram, TikTok dan Twitter, kemudian surel dan aplikasi belanja daring.
Yang memprihatinkan, hanya sebagian kecil yang benar-benar penting. Sisanya merupakan “sampah digital” yang tidak memberikan nilai tambah.
Penelitian menunjukkan bahwa setiap kali seseorang teralihkan notifikasi, diperlukan waktu cukup lama untuk kembali fokus sepenuhnya. Jika dalam sehari terganggu puluhan kali, dapat dibayangkan berapa jam produktif yang terbuang percuma.
Interupsi ini tidak hanya mengurangi produktivitas, tetapi juga meningkatkan tingkat stres.
Platform digital dirancang dengan strategi psikologis canggih untuk membuat pengguna terus kembali. Setiap notifikasi memicu pelepasan dopamin, zat kimia otak yang memberikan rasa senang.
Otak manusia terkondisi mengharapkan “hadiah” dari setiap bunyi atau getaran ponsel, menciptakan kebutuhan untuk terus mengecek setiap notifikasi yang masuk.
Harga yang Harus Dibayar
Notifikasi yang terus-menerus mengganggu berdampak langsung pada produktivitas. Seorang mahasiswa yang seharusnya menyelesaikan tugas dalam dua jam membutuhkan empat hingga lima jam karena terus terganggu.
Pekerjaan yang membutuhkan konsentrasi tinggi menjadi sangat sulit diselesaikan dengan baik.
Hubungan sosial juga menjadi korban. Fenomena “hadir secara fisik namun absen secara mental” semakin umum terjadi. Banyak orang yang duduk bersama keluarga atau teman, namun sibuk dengan ponsel masing-masing.
Ironisnya, orang mengabaikan kehadiran seseorang di hadapan mereka untuk merespons seseorang di dunia maya. Hal ini merusak kualitas interaksi sosial dan hubungan antarpribadi.
Kesehatan mental adalah aspek lain yang terancam. Notifikasi yang tidak henti-hentinya menciptakan kondisi “selalu siaga” yang menguras energi mental.
Sebuah penelitian menunjukkan, mayoritas remaja dan dewasa muda mengalami kecemasan ketika tidak dapat mengakses telepon pintar mereka. Banyak orang merasa akan ketinggalan informasi penting atau dikucilkan dari pergaulan jika tidak segera membaca dan membalas notifikasi.
Tidur pun tidak luput dari gangguan. Notifikasi yang masuk pada tengah malam mengganggu siklus tidur, sementara cahaya biru dari layar ponsel mengganggu produksi melatonin.
Akibatnya, meskipun tidur tujuh hingga delapan jam, seseorang tetap merasa lelah karena kualitas tidur yang buruk.
Pengalaman pribadi sebagai mahasiswa mencerminkan fenomena ini. Ketika mempersiapkan ujian akhir semester, penulis sering mengecek ponsel setiap lima hingga sepuluh menit, bahkan ketika tidak ada notifikasi penting.
Kebiasaan ini berdampak langsung pada efektivitas belajar. Pekerjaan yang seharusnya selesai dalam beberapa jam berlarut-larut hingga berhari-hari.
Kesadaran muncul ketika dilakukan eksperimen sederhana, yaitu menonaktifkan sebagian besar notifikasi selama seminggu. Hasilnya mengejutkan.
Produktivitas meningkat drastis, tugas diselesaikan lebih cepat dengan kualitas lebih baik, dan tingkat stres berkurang signifikan. Pengalaman ini membuktikan bahwa manusia memiliki kendali penuh atas teknologi yang digunakan.
Merebut Kembali Kendali
Langkah pertama adalah menyadari bahwa terdapat pilihan untuk tidak merespons setiap notifikasi yang masuk. Tidak setiap pesan memerlukan balasan instan, tidak setiap pembaruan perlu diketahui saat itu juga.
Kesadaran ini menjadi fondasi untuk perubahan perilaku yang lebih sehat. Setelah kesadaran terbentuk, lakukan pembersihan digital. Masuk ke pengaturan ponsel dan nonaktifkan notifikasi dari aplikasi yang tidak penting.
Sisakan hanya notifikasi untuk komunikasi penting seperti pesan dari keluarga atau surel penting. Manfaatkan fitur mode fokus atau mode “jangan ganggu” saat melakukan pekerjaan penting.
Alokasikan waktu khusus untuk mengecek pesan, misalnya setiap dua jam sekali, bukan setiap dua menit.
Pembentukan kebiasaan baru juga penting. Letakkan ponsel jauh dari jangkauan saat belajar atau bekerja. Saat makan bersama keluarga atau teman, sepakati untuk tidak menyentuh ponsel.
Saat tidur, aktifkan mode pesawat atau letakkan ponsel di ruangan lain. Yang tidak kalah penting adalah mengisi waktu dengan aktivitas bermakna.
Ketika seseorang sibuk dengan hobi, olahraga atau berkumpul dengan orang terkasih, dorongan untuk mengecek ponsel setiap saat akan berkurang.
Kesimpulannya, notifikasi telepon pintar telah mengambil alih kendali kehidupan manusia tanpa disadari. Ratusan interupsi setiap hari memecah konsentrasi, menurunkan produktivitas, mengganggu hubungan sosial, dan menguras kesehatan mental.
Namun demikian, manusia memiliki kekuatan untuk mengubah situasi ini. Dengan kesadaran, pengaturan yang tepat dan disiplin diri, kendali atas kehidupan dapat direbut kembali.
Telepon pintar adalah alat yang sangat berguna ketika digunakan dengan bijak, tetapi dapat menjadi penghalang ketika mengontrol kehidupan penggunanya.
Saatnya untuk hidup dengan lebih sadar, lebih fokus dan lebih hadir di setiap momen. Pilihan ada di tangan kita masing-masing. (*)
* Penulis adalah mahasiswa Jurusan Pendidikan Agama Islam Sekolah Tinggi Agama Islam PIQ Sumatera Barat




