Oleh : Asyifa Raya Zuleyqa*
Bayangkan Indonesia tahun 2045. Gedung-gedung tinggi, teknologi canggih di berbagai sektor dan ekonomi nasional yang masuk lima besar dunia.
Terdengar keren, tapi balik lagi ke 2026. Kenyataannya tidak semanis itu. Istilah Indonesia Emas terus diagungkan pejabat seolah menjadi mantra untuk masa depan.
Namun, di balik gemerlap impian itu, ada kekhawatiran yang mengintai. Bukan tidak mungkin, kita justru meluncur ke arah Indonesia Cemas.
Generasi Z atau Gen Z kerap disebut sebagai tulang punggung masa depan, tetapi pondasi yang disiapkan untuk mereka masih rapuh.
Mereka dituntut menjadi generasi emas, sementara kurikulum sekolah masih pontag-panting mengejar tren AI, harga rumah tidak masuk akal dan beban pajak meningkat.
Hari ini mereka masih menjadi pelajar, mahasiswa atau baru mulai kerja. Tapi nanti 2045, mereka yang akan mengendalikan arah bangsa ini. Pertanyaannya apakah Gen Z siap menghadapi semua tantangan yang akan datang?
Gen Z adalah mereka yang lahir pada rentang 1997–2012. Mereka adalah generasi pertama yang tumbuh dengan internet. Mereka tidak perlu beradaptasi dengan teknologi, karena dari kecil sudah akrab dengan gadget.
Hal itu menjadikan mereka mudah belajar hal baru, cepat tanggap dan kreatif. Untuk era industri 4.0 dan 5.0, kemampuan seperti ini menjadi modal yang besar.
Selain itu, Gen Z juga memiliki kepedulian tinggi pada isu sosial, mulai dari lingkungan, keberagaman, sampai inklusivitas yang sekarang menjadi standar global.
Tapi di balik semua kelebihan itu, ada juga ancaman besar yang tidak boleh diabaikan. Bonus demografi yang selama ini dibanggakan bisa berubah jadi bencana demografi, jika Gen Z tidak disiapkan secara mantap.
Setidaknya, ada tiga tantangan utama yang harus dihadapi. Pertama, disrupsi keterampilan. Banyak pekerjaan yang diprediksi akan hilang dan digantikan oleh mesin dan AI.
Jika pendidikan kita masih terjebak di hafalan dan belum fokus ke critical thinking, Gen Z hanya akan menjadi penonton di negara sendiri.
Kedua, persoalan kesehatan mental. Angka kecemasan dan depresi di kalangan anak muda semakin tinggi. Media sosial kadang menjadi racun, bukan inspirasi.
Tekanan hidup dan ketidakpastian ekonomi membuat mereka mudah goyah. Jika mentalnya rapuh daya saing akan sulit dibangun.
Ketiga, krisis karakter. Arus informasi yang terus berdatangan, membuat nilai-nilai etika dan kejujuran mudah luntur. Budaya instan dan pragmatisme semu semakin kuat. Jika karakter melemah, prestasi setinggi apapun bisa runtuh kapan saja.
Di tengah kegelisahan tersebut, ada satu pesan penting yang relevan kapan saja. Indonesia Emas bukan hanya soal teknologi, tapi juga ketangguhan manusia.
Allah SWT menegaskan tentang tanggung jawab generasi muda dalam Surah An-Nisa ayat 9, bahwa suatu bangsa tidak boleh meninggalkan generasi yang lemah, entah secara ekonomi, ilmu pengetahuan, juga mental.
Indonesia emas 2045 bukan hadiah dari langit. Itu hasil nyata dari investasi nyata ke manusia hari ini. Jika sekarang Gen Z sibuk scroll media sosial tanpa mau meng-upgrade diri, maka Indonesia Cemas tinggal menunggu waktu.
Tapi, jika pemerintah, kurikulum pendidikan, dan Gen Z sendiri mau saling bahu-membahu, Indonesia Emas bisa menjadi nyata. Semua harus mulai bergerak sekarang.
Bukan besok, bukan lusa. Masa depan Indonesia ada di tangan Gen Z dan tangan mereka harus kuat, bukan hanya cekatan, tapi juga tangguh menghadapi apapun yang akan datang. (*)
* Penulis adalah mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam PIQ Sumbar




