Oleh: Restu Aditya*
Akses terhadap informasi kini menjadi sangat mudah Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam berbagai dan cepat melalui internet, media sosial dan berbagai platform digital lainnya.
Informasi dapat diperoleh hanya dengan beberapa sentuhan layar gawai. Namun, kemudahan tersebut tidak selalu berdampak positif apabila tidak diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai.
Masyarakat sering kali menerima informasi secara mentah tanpa melakukan verifikasi dan pemahaman yang mendalam.
Fenomena rendahnya budaya literasi masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Minat membaca yang rendah, kecenderungan mengonsumsi informasi instan serta maraknya penyebaran berita palsu menjadi tantangan besar dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam kondisi tersebut, mahasiswa memiliki posisi strategis sebagai kelompok terdidik yang diharapkan mampu menjadi agen perubahan. Dengan kemampuan akademik dan daya kritis yang dimiliki, mahasiswa dapat berperan aktif dalam membangun budaya literasi di tengah masyarakat.
Mahasiswa Membangun Literasi Budaya
Literasi budaya bukan hanya berkaitan dengan kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan berpikir kritis, memahami konteks dan menilai kebenaran suatu informasi.
Karena itu, peran mahasiswa dalam membangun budaya literasi di era digital menjadi sangat penting demi terciptanya masyarakat yang cerdas, kritis, dan bertanggung jawab.
Makna Literasi di Era Digital
Secara umum, literasi sering dimaknai sebagai kemampuan membaca dan menulis. Namun, dalam konteks modern, literasi memiliki makna yang lebih luas.
Literasi mencakup kemampuan memahami, mengolah dan menggunakan informasi secara bijak. Di era digital, literasi juga berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi informasi secara kritis dan etis.
Literasi digital menuntut individu untuk tidak hanya mampu mengakses informasi, tetapi juga mampu memilah informasi yang benar dan bermanfaat.
Banyaknya informasi yang beredar di ruang digital sering kali tidak disertai dengan kejelasan sumber dan kebenaran data. Tanpa kemampuan literasi yang baik, masyarakat mudah terpengaruh oleh informasi yang menyesatkan dan provokatif.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual diharapkan memiliki kesadaran yang tinggi terhadap pentingnya literasi digital. Dengan bekal ilmu pengetahuan dan pengalaman akademik, mahasiswa dapat menjadi contoh dalam menggunakan media digital secara bertanggung jawab.
Sikap kritis terhadap informasi yang diterima serta kebiasaan membaca sumber tepercaya merupakan bagian dari penerapan literasi yang baik.
Mahasiswa sebagai Agen Perubahan Sosial
Mahasiswa sering disebut sebagai agen perubahan sosial karena memiliki peran penting dalam mendorong kemajuan masyarakat.
Sejarah telah mencatat bahwa mahasiswa kerap menjadi pelopor dalam berbagai perubahan sosial, politik dan budaya.
Dalam konteks literasi, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut serta mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sebagai kelompok yang terbiasa dengan kegiatan akademik, mahasiswa memiliki kemampuan untuk mengolah informasi secara sistematis dan logis. Kemampuan tersebut dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesadaran literasi di lingkungan sekitar.
Mahasiswa dapat menjadi teladan dengan membiasakan diri membaca buku, menulis karya ilmiah maupun populer serta aktif berdiskusi secara konstruktif.
Selain itu, mahasiswa juga dapat memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi. Konten digital yang disajikan dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami dapat menarik minat masyarakat, khususnya generasi muda.
Dengan demikian, media sosial tidak hanya digunakan sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media pembelajaran yang efektif.
Tantangan Literasi Budaya di Masyarakat
Meskipun teknologi digital memberikan berbagai kemudahan, tantangan dalam membangun budaya literasi masih sangat besar. Salah satu tantangan utama adalah rendahnya minat baca.
Banyak masyarakat lebih tertarik pada informasi singkat dan visual dibandingkan bacaan yang bersifat mendalam. Hal ini menyebabkan pemahaman yang dangkal terhadap berbagai persoalan sosial dan keilmuan.
Selain itu, maraknya penyebaran berita palsu atau hoaks menjadi ancaman serius bagi kehidupan sosial. Informasi yang tidak benar dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi opini publik.
Tanpa kemampuan literasi yang memadai, masyarakat sulit membedakan antara informasi yang valid dan informasi yang menyesatkan.
Tantangan lainnya adalah kurangnya kesadaran akan pentingnya literasi sebagai kebutuhan hidup. Literasi sering dianggap sebagai aktivitas akademik semata, bukan sebagai keterampilan yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari hari.
Padahal, kemampuan literasi sangat berpengaruh terhadap kualitas pengambilan keputusan dan sikap seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan.
Upaya Mahasiswa dalam Meningkatkan Literasi Budaya
Mahasiswa dapat berperan aktif dalam meningkatkan budaya literasi melalui berbagai cara. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan membiasakan diri menulis artikel populer yang bersifat edukatif.
Tulisan-tulisan tersebut dapat dipublikasikan melalui media kampus, blog pribadi, maupun media sosial. Dengan bahasa yang sederhana dan komunikatif, pesan edukatif dapat lebih mudah diterima masyarakat.
Selain itu, mahasiswa juga dapat mengadakan kegiatan diskusi, bedah buku, dan seminar literasi. Kegiatan tersebut tidak hanya bermanfaat bagi mahasiswa, tetapi juga dapat melibatkan masyarakat umum.
Melalui diskusi dan dialog yang terbuka, budaya berpikir kritis dan apresiasi terhadap ilmu pengetahuan dapat terus ditumbuhkan.
Pengabdian kepada masyarakat juga menjadi sarana penting bagi mahasiswa dalam membangun budaya literasi. Program literasi di sekolah, taman bacaan masyarakat, dan komunitas lokal dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk berbagi ilmu dan pengalaman.
Dengan pendekatan yang humanis dan berkelanjutan, budaya literasi dapat tumbuh secara perlahan namun pasti.
Literasi sebagai Fondasi Peradaban
Budaya literasi merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban yang maju. Masyarakat yang memiliki kemampuan literasi yang baik cenderung lebih terbuka terhadap ilmu pengetahuan, berpikir rasional, dan mampu menyelesaikan masalah secara bijak.
Literasi juga berperan dalam membentuk karakter individu yang kritis, kreatif, dan bertanggung jawab.
Mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa memiliki peran strategis dalam menjaga dan mengembangkan budaya literasi. Dengan semangat intelektual dan idealisme yang dimiliki, mahasiswa diharapkan mampu menjadi pelopor perubahan yang membawa dampak positif bagi masyarakat.
Pemanfaatan teknologi digital secara bijak dapat menjadi sarana efektif untuk memperluas jangkauan literasi.
Dalam jangka panjang, budaya literasi yang kuat akan berkontribusi pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Hal ini sangat penting dalam menghadapi tantangan globalisasi dan persaingan di era modern.
Karena itu, upaya membangun budaya literasi harus menjadi tanggung jawab bersama, dengan mahasiswa sebagai salah satu penggerak utamanya.
Terakhir, budaya literasi merupakan kebutuhan mendasar dalam kehidupan masyarakat di era digital.
Kemajuan teknologi harus diimbangi dengan kemampuan literasi yang memadai agar informasi dapat dimanfaatkan secara optimal dan bertanggung jawab. Mahasiswa memiliki peran penting sebagai agen perubahan dalam membangun budaya literasi melalui sikap kritis, kegiatan edukatif, serta pemanfaatan media digital secara positif.
Dengan komitmen dan kesadaran bersama, mahasiswa dapat menjadi pelopor dalam menciptakan masyarakat yang cerdas, berpengetahuan, dan berintegritas. Budaya literasi yang kuat tidak hanya akan meningkatkan kualitas individu, tetapi juga menjadi fondasi bagi kemajuan bangsa dan peradaban di masa depan. (*)
* Penulis adalah mahasiswa STAI PIQ Sumbar




