PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau belum sepenuhnya mereda. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi sebanyak 39 titik panas (hotspot) di wilayah Riau, Senin malam, meskipun prakiraan cuaca menunjukkan peluang hujan di beberapa kabupaten.
Jumlah tersebut menempatkan Riau sebagai provinsi dengan hotspot terbanyak ketiga di Sumatera, setelah Sumatera Selatan dan Bangka Belitung.
Forecaster BMKG Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru, Ranti Kurniati mengatakan, konsentrasi titik panas paling banyak terpantau berada di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu.
Masing-masing daerah mencatat 16 hotspot sehingga menjadi wilayah yang paling perlu diwaspadai terhadap potensi munculnya kebakaran hutan dan lahan.
Selain itu, BMKG juga mendeteksi empat hotspot di Kabupaten Kepulauan Meranti. Sementara Kabupaten Siak, Kampar dan Indragiri Hilir masing-masing terpantau satu titik panas. Secara keseluruhan, hingga pukul 23.00 WIB, BMKG mencatat terdapat 274 hotspot di Pulau Sumatera.
Provinsi Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah hotspot terbanyak mencapai 139 titik. Selanjutnya Bangka Belitung sebanyak 36 titik, Riau 39 titik, Jambi 28 titik, Lampung 16 titik, Sumatera Barat delapan titik, Kepulauan Riau lima titik, Aceh dua titik dan Bengkulu satu titik.
Data hotspot merupakan salah satu indikator awal yang digunakan untuk memantau potensi kebakaran hutan dan lahan.
Namun demikian, keberadaan hotspot belum selalu menunjukkan telah terjadi kebakaran sehingga tetap memerlukan verifikasi lapangan oleh instansi terkait.
Di tengah masih tingginya jumlah hotspot, BMKG memperkirakan hujan ringan hingga sedang berpotensi turun di sejumlah wilayah Riau pada Selasa.
Hujan diprakirakan terjadi di Kuantan Singingi, Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Rokan Hulu hingga Rokan Hilir.
Meski berpotensi membantu meningkatkan kelembapan lahan, hujan yang bersifat lokal dinilai belum cukup untuk menghilangkan ancaman karhutla secara menyeluruh.
Kondisi tersebut membuat kewaspadaan tetap diperlukan, terutama di wilayah yang masih didominasi lahan gambut dan kawasan rawan terbakar.
Riau selama bertahun-tahun menjadi salah satu daerah yang menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan saat memasuki musim kemarau.
Karhutla tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat akibat kabut asap, menghambat aktivitas transportasi, hingga berdampak terhadap kegiatan ekonomi dan pendidikan apabila kebakaran meluas.
Karena itu, pengendalian hotspot menjadi salah satu indikator penting dalam upaya pencegahan karhutla di daerah.
BMKG mengimbau masyarakat tidak membuka lahan menggunakan cara membakar serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran, terutama di wilayah yang masih mencatat kemunculan titik panas.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran agar penanganan dapat dilakukan sejak dini sebelum api meluas.
Dengan masih terdeteksinya puluhan hotspot di Riau, sinergi antara pemerintah, aparat, perusahaan dan masyarakat menjadi faktor penting untuk mencegah kebakaran hutan dan lahan berkembang menjadi bencana yang lebih besar. (bsh)




