Karhutla Riau Masih Mengancam, Sudah Delapan Hari OMC Tebar 12 Ton Garam

Operasi Modifikasi Cuaca Riau telah berlangsung delapan hari dengan 12 ton garam disemai untuk menekan karhutla di delapan wilayah rawan. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Pemerintah terus memperkuat upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Memasuki hari kedelapan OMC, sebanyak 12 ton garam (NaCl) telah disemai ke awan guna meningkatkan potensi hujan di sejumlah wilayah.

Langkah tersebut dilakukan bersamaan dengan operasi udara dan pemadaman darat untuk mencegah meluasnya kebakaran di tengah musim kemarau yang masih berlangsung di sejumlah daerah di Riau.

Berdasarkan data, Jumat (7/8/2026), penyemaian garam telah dilakukan di kawasan yang memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla, meliputi Kabupaten Pelalawan, Siak, Bengkalis, Indragiri Hulu, Indragiri Hilir, Rokan Hilir, Kepulauan Meranti dan Kota Dumai.

Selama delapan hari pelaksanaan OMC, tim telah melaksanakan 12 sorti penerbangan dengan total bahan semai mencapai 12.000 kilogram natrium klorida (NaCl).

Selain mengupayakan hujan buatan, pemerintah juga mengerahkan berbagai armada udara untuk mempercepat penanganan kebakaran di lapangan.

Operasi tersebut didukung satu unit helikopter patroli BNPB, satu unit pesawat patroli sekaligus pesawat OMC dan lima unit helikopter water bombing yang bertugas melakukan penyiraman di lokasi-lokasi kebakaran.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Turun Drastis dari 45 Menjadi 25 Titik, Dumai dan Inhu Masih Terbanyak

Kepala Bidang Kedaruratan BPBD dan Damkar Riau, Jim Ghafur menjelaskan, operasi udara menjadi salah satu strategi penting karena mampu menjangkau kawasan yang sulit diakses melalui jalur darat.

Menurutnya, penyemaian garam ke awan terus dilakukan untuk meningkatkan peluang terjadinya hujan di daerah-daerah yang rawan kebakaran. Di saat yang sama, helikopter water bombing tetap menjalankan misi penyiraman pada lokasi yang masih ditemukan titik api.

Dijelaskan, kombinasi antara operasi udara dan upaya pemadaman yang dilakukan personel di lapangan mulai menunjukkan hasil. Sejumlah lokasi yang sebelumnya terbakar kini telah berhasil dikendalikan sehingga risiko meluasnya kebakaran dapat ditekan.

Meski demikian, Satgas Karhutla tetap mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia agar titik api yang masih tersisa dapat segera dipadamkan sebelum berkembang menjadi kebakaran dengan skala lebih besar.

“Kami terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang ada, baik personel di lapangan maupun dukungan udara agar titik api yang masih tersisa dapat segera dipadamkan,” kata Jim Ghafur, Jumat.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Bertambah Jadi 45 Titik, Sebaran Terbanyak di Inhu dan Inhil

Waspadai Munculnya Titik Api Baru
BPBD Riau menilai, keberhasilan pengendalian karhutla tidak hanya bergantung pada operasi pemadaman, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam mencegah munculnya kebakaran baru.

Karena itu, masyarakat kembali diingatkan untuk tidak membuka lahan menggunakan cara membakar. Praktik tersebut dinilai masih menjadi salah satu penyebab utama munculnya titik api setiap musim kemarau.

Pemerintah juga memastikan seluruh personel Satgas Karhutla tetap disiagakan penuh mengingat kondisi di lapangan dapat berubah dalam waktu singkat.

Faktor cuaca, arah angin, serta tingkat kekeringan lahan masih menjadi variabel yang memengaruhi potensi meluasnya kebakaran.

Jim menyebut, perkembangan penanganan karhutla akan terus dipantau secara berkala agar setiap perubahan kondisi dapat segera direspons melalui pengerahan personel maupun dukungan operasi udara.

OMC Jadi Bagian Strategi Pengendalian Karhutla
Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu instrumen yang rutin digunakan pemerintah ketika potensi karhutla meningkat di Riau. Teknologi tersebut dilakukan dengan menyemai bahan higroskopis berupa garam ke awan yang memenuhi syarat sehingga meningkatkan peluang terjadinya hujan.

Strategi ini dipadukan dengan patroli udara, water bombing, patroli darat, pemadaman langsung, serta pengawasan di kawasan rawan kebakaran.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Bertambah Jadi 45 Titik, Sebaran Terbanyak di Inhu dan Inhil

Pendekatan tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko meluasnya asap sekaligus meminimalkan dampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, dan transportasi.

Riau merupakan salah satu provinsi yang setiap musim kemarau menghadapi ancaman karhutla akibat karakteristik lahan gambut yang mudah terbakar ketika mengalami kekeringan.

Karena itu, upaya pencegahan terus menjadi prioritas pemerintah selain penanganan saat kebakaran telah terjadi.

Seiring masih berlangsungnya musim kemarau, pemerintah berharap kolaborasi antara operasi udara, petugas di lapangan, dan kepatuhan masyarakat untuk tidak membakar lahan dapat menjaga kondisi tetap terkendali serta mencegah bertambahnya titik api di berbagai wilayah Riau. (tpc)