Dukung Swasembada Pangan, Kanit Binmas Payung Sekaki Dampingi Petani Jagung di Pekanbaru

Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki, Ipda Restu Inanda SH turun langsung meninjau lahan jagung milik Susanto di wilayah Tirta Siak, Kecamatan Payung Sekaki. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Hamparan jagung manis di Kelurahan Tirta Siak terlihat mulai menguning. Di tengah terik siang, dua anggota polisi berjalan menyusuri lahan milik warga. Bukan untuk penegakan hukum, melainkan memberi dukungan langsung terhadap upaya ketahanan pangan masyarakat.

Langkah itu dilakukan jajaran Polsek Payung Sekaki, Kota Pekanbaru. Mereka mulai aktif mendampingi warga yang mengembangkan sektor pertanian skala mandiri. Pendekatan tersebut dinilai penting di tengah dorongan pemerintah memperkuat swasembada pangan nasional.

Kanit Binmas Polsek Payung Sekaki, Ipda Restu Inanda SH, bersama Bhabinkamtibmas Kelurahan Tampan, Aipda Erick Jonatan Sihombing, turun langsung meninjau lahan jagung milik Susanto di wilayah Tirta Siak, Kecamatan Payung Sekaki.

Lahan itu perlahan berkembang menjadi sumber ekonomi keluarga. Di saat banyak warga perkotaan meninggalkan sektor pertanian, Susanto justru memilih menggarap lahan tidur menjadi area produktif.

Total luas lahan yang dimiliki mencapai sekitar empat hektare. Namun, baru satu hektare yang mulai dimanfaatkan secara bertahap. Dari area tersebut, sekitar 25 meter persegi merupakan lahan tanam baru yang sedang dikembangkan.

Meski belum seluruhnya tergarap, aktivitas pertanian di lokasi itu mulai menunjukkan hasil. Sebagian tanaman jagung sudah memasuki masa panen. Sementara area lainnya masih dalam tahap pertumbuhan.

Hasil panen kemudian dipasarkan kepada pedagang pengecer. Sebagian lainnya dijual ke Bulog untuk mendukung distribusi pangan.

Bagi Susanto, pertanian bukan sekadar pekerjaan sampingan. Usaha itu kini menjadi harapan baru bagi ekonomi keluarganya. Dalam kurun satu tahun terakhir, hasil pertanian mulai memberi pemasukan yang lebih stabil.

“Awalnya hanya coba-coba mengelola lahan kosong. Sekarang hasilnya mulai terasa. Perlahan kami tambah lagi area tanamnya,” ujar Susanto.

Fenomena seperti ini menjadi perhatian Polsek Payung Sekaki. Polisi melihat sektor pangan tidak bisa hanya bergantung pada kebijakan pusat. Peran masyarakat dinilai sangat menentukan keberhasilan program swasembada.

Karena itu, pendekatan humanis mulai diperkuat melalui pembinaan langsung kepada warga binaan. Polisi hadir bukan hanya menjaga keamanan lingkungan, tetapi ikut memberi motivasi agar masyarakat produktif.

Ipda Restu Inanda mengatakan ketahanan pangan memiliki kaitan langsung dengan stabilitas sosial masyarakat. Ketika ekonomi warga kuat, potensi gangguan sosial juga dapat ditekan.

“Ketahanan pangan adalah kekuatan bangsa. Kami ingin hadir memberi dukungan dan semangat kepada masyarakat,” kata Restu.

Menurutnya, langkah sederhana seperti mengelola lahan kosong memiliki dampak besar bagi lingkungan sekitar. Terlebih, kebutuhan pangan nasional terus meningkat setiap tahun.

Ia menilai keberanian warga memanfaatkan lahan tidur patut diapresiasi. Apalagi di kawasan perkotaan seperti Pekanbaru, lahan produktif semakin terbatas akibat pembangunan.

“Polri tidak hanya menjaga keamanan. Kami juga harus menjadi mitra masyarakat dalam mendukung program pemerintah,” ujarnya.

Pendampingan yang dilakukan kepolisian juga memberi efek psikologis positif bagi warga. Kehadiran aparat di tengah aktivitas pertanian membuat masyarakat merasa diperhatikan.

Selain itu, program seperti ini dinilai mampu memperkuat hubungan sosial antara polisi dan warga. Pendekatan informal di lapangan dinilai lebih efektif membangun kepercayaan publik.

Di sisi lain, isu ketahanan pangan memang menjadi perhatian nasional dalam beberapa tahun terakhir. Pemerintah terus mendorong peningkatan produksi pangan lokal untuk mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah maupun impor.

Provinsi Riau sendiri memiliki potensi pertanian cukup besar. Namun, pengembangan sektor pangan di wilayah perkotaan masih menghadapi tantangan keterbatasan lahan dan minimnya regenerasi petani.

Karena itu, munculnya kelompok masyarakat yang mulai mengembangkan pertanian mandiri menjadi sinyal positif. Apalagi harga kebutuhan pokok belakangan cenderung fluktuatif akibat tekanan ekonomi global dan perubahan cuaca.

Pengamat pertanian lokal menilai pola pengelolaan lahan skala kecil tetap memiliki kontribusi penting terhadap ketahanan pangan daerah. Jika dilakukan secara konsisten, model seperti ini mampu menopang kebutuhan pangan lingkungan sekitar.

Di Payung Sekaki, semangat itu mulai terlihat tumbuh perlahan. Lahan yang sebelumnya kosong kini berubah menjadi area produktif. Aktivitas pertanian juga membuka peluang ekonomi baru bagi keluarga.

Bagi warga sekitar, keberadaan kebun jagung tersebut bukan hanya soal hasil panen. Ada harapan tentang kemandirian ekonomi yang mulai dibangun dari lingkungan kecil.

Ipda Restu menambahkan pihaknya akan terus mendorong masyarakat memanfaatkan lahan produktif yang masih tersedia. Menurutnya, ketahanan pangan harus dimulai dari tingkat keluarga dan lingkungan terdekat.

“Kami berharap masyarakat semakin termotivasi mengelola lahan yang ada. Sedikit demi sedikit, hasilnya akan membantu ekonomi keluarga,” katanya.

Di tengah tantangan ekonomi dan kebutuhan pangan yang terus meningkat, langkah kecil warga Tirta Siak menjadi gambaran bahwa swasembada pangan bukan sekadar slogan. Dari kebun jagung sederhana itu, harapan tentang ketahanan ekonomi masyarakat mulai tumbuh di sudut Kota Pekanbaru. (bsh)

Exit mobile version