PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-TikTok masih menjadi platform media sosial yang paling banyak diakses masyarakat Indonesia pada 2026. Namun dominasi aplikasi berbasis video pendek itu mulai menghadapi perubahan baru, setelah Facebook dan Instagram mencatat pertumbuhan pengguna yang signifikan dalam setahun terakhir.
Temuan tersebut terungkap dalam laporan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) bertajuk Survei Penetrasi Internet dan Perilaku Pengguna Internet 2026.
Dari total 235,2 juta penduduk Indonesia yang telah terhubung ke internet, sebanyak 31,8 persen mengakses TikTok pada tahun ini.
Meski tetap berada di posisi pertama, angka tersebut turun dibanding tahun sebelumnya yang mencapai 35,2 persen. Di sisi lain, Facebook dan Instagram justru mengalami kenaikan yang menunjukkan perubahan pola konsumsi media sosial masyarakat Indonesia.
Perubahan ini tidak hanya menggambarkan persaingan antaraplikasi digital, tetapi juga menunjukkan bagaimana perilaku pengguna internet Indonesia semakin terkonsentrasi pada platform yang menawarkan konten video pendek, interaksi sosial, dan algoritma personalisasi yang kuat.
TikTok Masih Memimpin
Data APJII menunjukkan TikTok tetap menjadi aplikasi media sosial paling banyak diakses pada 2026 dengan tingkat akses mencapai 31,8 persen.
Meski demikian, capaian tersebut mengalami penurunan dibanding tahun lalu yang berada di angka 35,2 persen. Penurunan ini menjadi sinyal bahwa pasar media sosial Indonesia mulai memasuki fase persaingan yang lebih ketat.
Di bawah TikTok, posisi kedua ditempati Facebook dengan tingkat akses 29,4 persen. Angka ini meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya yang hanya 21,6 persen.
Instagram berada di posisi ketiga dengan persentase 27,7 persen. Kenaikannya bahkan lebih signifikan karena pada 2025 hanya berada di level 15,9 persen.
WhatsApp yang baru masuk dalam kategori pengukuran media sosial APJII tercatat diakses oleh 1,7 persen responden.Sementara itu, platform lain seperti X dan Threads masing-masing mencatat angka 1,5 persen dan 1 persen.
YouTube Mengalami Penurunan Paling Drastis
Salah satu temuan paling mencolok dalam survei APJII tahun ini adalah merosotnya tingkat akses YouTube.
Jika pada 2025 YouTube masih mencatat angka akses sebesar 27,5 persen, pada 2026 persentasenya turun menjadi hanya 1,6 persen.
Penurunan tersebut menjadi yang paling tajam dibanding platform lain yang diukur dalam survei.
Meski demikian, perubahan angka ini perlu dibaca secara hati-hati karena dapat dipengaruhi metode kategorisasi platform yang digunakan dalam survei terbaru APJII, terutama terkait pergeseran konsumsi konten ke format video pendek seperti YouTube Shorts yang kini bersaing langsung dengan TikTok dan Instagram Reels.
Bagi pelaku industri digital, pengiklan, media massa, hingga kreator konten, perubahan ini menjadi indikator penting dalam menentukan strategi distribusi konten dan belanja iklan digital.
Generasi Z Jadi Penggerak Utama TikTok
Laporan APJII juga mengungkap bahwa Generasi Z masih menjadi kelompok usia yang paling aktif mengakses TikTok.
Sebanyak 32,3 persen pengguna Gen Z tercatat mengakses TikTok. Angka tersebut sedikit lebih tinggi dibanding Milenial yang berada di level 31,9 persen.
Sementara itu, Generasi X berada di angka 31,2 persen, Baby Boomer 30,7 persen, dan kelompok Pre-Boomer 30,6 persen.
Data tersebut menunjukkan bahwa TikTok tidak lagi didominasi satu kelompok usia tertentu. Platform ini telah menjadi ruang digital lintas generasi yang digunakan hampir merata oleh berbagai kelompok umur.
Instagram juga memperlihatkan pola serupa. Gen Z menjadi pengguna paling aktif dengan tingkat akses 30,8 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibanding Milenial sebesar 28,7 persen, Generasi X sebesar 24,4 persen, Baby Boomer 20,1 persen, dan Pre-Boomer 16,7 persen.
Facebook Bertahan Kuat di Kalangan Dewasa
Berbeda dengan TikTok dan Instagram yang kuat di kalangan generasi muda, Facebook justru menunjukkan daya tahan yang tinggi di kelompok usia dewasa.
Pengguna Milenial, Generasi X, Baby Boomer, hingga Pre-Boomer tercatat memiliki tingkat akses Facebook berkisar antara 30 hingga 31 persen. Sebaliknya, Gen Z hanya mencatat tingkat akses 26,9 persen.
Temuan ini menunjukkan, Facebook masih memiliki basis pengguna yang loyal, terutama untuk kebutuhan komunikasi komunitas, informasi lokal, perdagangan digital, hingga aktivitas sosial di daerah.
Bagi pemerintah daerah, pelaku UMKM, dan organisasi masyarakat, Facebook masih menjadi kanal yang relevan untuk menjangkau kelompok usia produktif dan dewasa.
Video Pendek Menjadi Raja Konten Digital Indonesia
Popularitas TikTok ternyata sejalan dengan perubahan pola konsumsi hiburan digital masyarakat Indonesia.
APJII mencatat video pendek menjadi jenis konten yang paling banyak dikonsumsi pengguna internet Indonesia dengan persentase mencapai 29,5 persen. Kategori ini mencakup konten dari TikTok, Instagram Reels, hingga YouTube Shorts.
Sebagai perbandingan, konsumsi video berdurasi panjang seperti YouTube, Netflix, Vidio, Viu, dan Disney hanya mencapai 15,3 persen.
Sementara itu, layanan musik digital seperti Spotify, Joox, Apple Music, dan YouTube Music berada di angka 18,4 persen. Adapun game online hanya mencatat 7 persen.
Selain mencari hiburan, pengguna internet Indonesia juga banyak menghabiskan waktu untuk berinteraksi dan melakukan aktivitas scrolling media sosial dengan persentase 26,6 persen.
Temuan ini memperkuat tren bahwa perhatian publik semakin terfokus pada konten yang cepat, ringkas, visual, dan mudah dikonsumsi melalui perangkat mobile.
Durasi Bermedia Sosial Meningkat
Survei APJII juga menemukan bahwa durasi penggunaan media sosial masyarakat Indonesia terus meningkat.
Sebanyak 44,9 persen responden mengaku menghabiskan waktu 1 hingga 2 jam per hari di media sosial. Angka ini naik dibanding tahun sebelumnya yang sebesar 34,1 persen.
Kemudian 37,9 persen responden mengakses media sosial selama 2 hingga 3 jam per hari, meningkat dari 33 persen pada tahun sebelumnya.
Kenaikan durasi penggunaan menunjukkan bahwa media sosial semakin menjadi bagian penting dalam aktivitas sehari-hari masyarakat, mulai dari mencari hiburan, memperoleh informasi, berinteraksi, hingga berbelanja.
Apa Dampaknya bagi Industri Digital?
Peta baru media sosial Indonesia membawa konsekuensi besar bagi industri digital, media massa, pengiklan, pelaku usaha, dan pemerintah.
Pertama, dominasi video pendek menunjukkan bahwa strategi komunikasi publik dan pemasaran digital harus semakin berorientasi pada konten visual yang singkat dan mudah dibagikan.
Kedua, kebangkitan Facebook dan Instagram membuktikan bahwa ekosistem Meta masih memiliki kekuatan besar dalam mengendalikan distribusi informasi digital di Indonesia.
Ketiga, meningkatnya waktu penggunaan media sosial membuka peluang ekonomi yang lebih besar bagi industri kreator, periklanan digital, e-commerce, dan ekonomi kreatif.
Dengan jumlah pengguna internet Indonesia yang telah mencapai 235,2 juta orang, perubahan perilaku digital yang tercatat dalam survei APJII 2026 menjadi indikator penting bagi siapa pun yang ingin memahami arah perkembangan ekonomi digital nasional dalam beberapa tahun ke depan. (bsh)
Sumber: Kompas.com
