El Nino Kuat Melanda Indonesia, Dokter Ungkap Cara Cegah Dehidrasi dan Heat Stroke

Heat stroke atau serangan panas merupakan kondisi darurat yang terjadi ketika tubuh terlalu panas dan tidak dapat mendinginkan diri dengan cara yang normal. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Indonesia resmi memasuki fase El Nino kuat, sebuah fenomena iklim yang diperkirakan akan membawa musim kemarau lebih panjang, meningkatkan suhu udara, memperbesar risiko kekeringan, kebakaran hutan dan lahan (karhutla), hingga memperburuk kualitas udara di berbagai daerah. Di tengah ancaman tersebut, menjaga kesehatan bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan.

Bagi masyarakat, dampak El Nino bukan hanya soal cuaca yang lebih panas. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko dehidrasi, heat exhaustion (kelelahan akibat panas), heat stroke, gangguan pernapasan akibat polusi dan debu, hingga meningkatnya penyakit yang dipicu kualitas udara yang memburuk. Kelompok paling rentan adalah balita, lansia, ibu hamil, pekerja lapangan, petani, serta masyarakat yang memiliki penyakit kronis.

Karena itu, para ahli kesehatan mengingatkan bahwa langkah pencegahan sederhana justru menjadi pertahanan paling efektif menghadapi kondisi cuaca ekstrem yang diperkirakan berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Ancaman El Nino Tak Hanya Soal Panas
Praktisi kesehatan masyarakat, dr Ngabila Salama mengatakan, masyarakat harus mulai mengubah kebiasaan sehari-hari agar mampu beradaptasi dengan suhu udara yang semakin tinggi.

Menurutnya, kesalahan yang paling sering dilakukan masyarakat adalah menunggu rasa haus sebelum minum. Padahal, rasa haus merupakan sinyal awal bahwa tubuh mulai kehilangan cairan.

“Yang paling penting adalah jangan menunggu haus untuk minum. Biasakan minum 3-4 liter air putih per hari, atau cara mudahnya satu gelas sebelum dan sesudah setiap waktu salat sehingga kebutuhan cairan lebih terjaga,” kata Ngabila, Rabu (29/7/2026).

Kecukupan cairan menjadi faktor penting karena suhu udara yang tinggi membuat tubuh kehilangan air lebih cepat melalui keringat. Bila tidak segera diganti, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi dehidrasi yang memengaruhi konsentrasi, produktivitas, hingga fungsi organ.

BACA JUGA :  Vonis Abdul Wahid Besok Dibacakan, Akankah Dinyatakan Bersalah Atau Bebas?

Risiko Dehidrasi Bisa Datang Tanpa Disadari
Dehidrasi sering kali tidak disadari pada tahap awal. Gejalanya bisa berupa mudah haus, pusing, lemas, sakit kepala, mulut kering, urine berwarna lebih pekat dan tubuh terasa cepat lelah.

Jika terus berlanjut, dehidrasi berat dapat menyebabkan penurunan tekanan darah, gangguan fungsi ginjal, bahkan kondisi darurat medis seperti heat stroke.

Karena itu, Ngabila mengimbau masyarakat segera menghentikan aktivitas apabila mulai muncul tanda-tanda tersebut.

Selain memperbanyak minum air putih, masyarakat juga dianjurkan mengonsumsi buah dan sayuran yang memiliki kandungan air tinggi seperti semangka, melon, jeruk, timun, tomat, dan selada untuk membantu menjaga keseimbangan cairan tubuh.

Hindari Matahari pada Jam Paling Berbahaya
Cuaca panas akibat El Nino juga meningkatkan risiko paparan radiasi matahari.

Ngabila menyarankan masyarakat membatasi aktivitas di luar ruangan terutama pada pukul 10.00 hingga 15.00 WIB, ketika intensitas sinar ultraviolet dan panas matahari berada pada titik tertinggi.

Pada jam-jam tersebut, tubuh lebih mudah mengalami peningkatan suhu sehingga risiko heat exhaustion maupun heat stroke menjadi lebih besar.

Bagi pekerja lapangan yang tidak dapat menghindari aktivitas luar ruangan, istirahat secara berkala di tempat teduh menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi fisik.

Jangan Abaikan Perlindungan Saat Beraktivitas
Apabila harus tetap berada di luar ruangan, masyarakat dianjurkan menggunakan perlengkapan pelindung yang memadai.

Peralatan sederhana seperti topi, payung, pakaian berwarna terang yang mudah menyerap keringat, alas kaki yang nyaman, kacamata hitam, hingga sunscreen dapat membantu mengurangi paparan panas sekaligus sinar ultraviolet.

Menurut Ngabila, penggunaan masker juga tetap penting selama El Nino berlangsung.

Pasalnya, musim kemarau yang lebih panjang biasanya menyebabkan meningkatnya debu, asap, dan polusi udara, terutama apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan.

BACA JUGA :  Polda Riau Musnahkan Narkoba Senilai Rp69,7 Miliar, Hampir 1 Juta Jiwa Diklaim Terselamatkan

Untuk perlindungan optimal terhadap partikel halus PM2.5, masyarakat disarankan menggunakan masker KN95 atau KF94 yang memiliki kemampuan filtrasi lebih baik dibanding masker biasa.

“Pakai masker KN95 atau KF94 lebih bagus untuk mencegah paparan polusi udara PM2.5,” ujarnya.

BMKG: Indonesia Sudah Masuk El Nino Kuat
Peringatan tersebut muncul setelah Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyatakan Indonesia kini telah memasuki kategori El Nino kuat.

Menurut Faisal, fenomena El Nino terjadi ketika suhu permukaan laut di Samudra Pasifik meningkat lebih dari 0,5 derajat Celsius di atas kondisi normal.

Perubahan tersebut memengaruhi pola sirkulasi atmosfer sehingga curah hujan di Indonesia menurun dan musim kemarau menjadi lebih panjang.

Dampaknya tidak hanya meningkatkan ancaman kekeringan, tetapi juga memperbesar potensi kebakaran hutan dan lahan, berkurangnya ketersediaan air bersih, serta menurunnya produktivitas pertanian di sejumlah wilayah.

Karena itu, pemerintah bersama BMKG kini memfokuskan berbagai langkah mitigasi, mulai dari menjaga cadangan air melalui pengisian waduk, operasi modifikasi cuaca, hingga memperkuat upaya pencegahan karhutla di daerah-daerah rawan.

Riau Berpotensi Menjadi Wilayah yang Paling Waspada
Bagi Provinsi Riau, fase El Nino memiliki arti yang jauh lebih serius dibanding banyak daerah lain. Riau memiliki sejarah panjang menghadapi kebakaran hutan dan lahan saat musim kemarau ekstrem.

Ketika curah hujan menurun dalam waktu lama, lahan gambut menjadi lebih kering sehingga sangat mudah terbakar. Kebakaran tidak hanya menghanguskan lahan, tetapi juga memicu kabut asap yang berdampak terhadap kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi, hingga perekonomian.

Sektor perkebunan, pertanian, perikanan, bahkan distribusi logistik juga berpotensi terganggu apabila kekeringan berlangsung lebih lama.

BACA JUGA :  KPK Periksa SF Hariyanto, Dalami Uang Sitaan dari Rumah Dinas dan Rumah Pribadi

Karena itu, kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam mengurangi dampak El Nino.

Dampaknya Tidak Hanya pada Kesehatan
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengingatkan bahwa El Nino bukan sekadar persoalan cuaca.

Fenomena ini berpotensi mengganggu ketahanan air bersih, produksi pangan nasional, kualitas lingkungan, hingga aktivitas ekonomi apabila tidak diantisipasi sejak dini.

Artinya, dampak El Nino dapat dirasakan mulai dari rumah tangga hingga sektor industri.

Semakin panjang musim kemarau, semakin besar pula tekanan terhadap kebutuhan air, produksi pertanian, dan stabilitas harga pangan.

Langkah Sederhana yang Bisa Menyelamatkan Kesehatan
Di tengah meningkatnya suhu udara, masyarakat diimbau mulai menerapkan kebiasaan sederhana setiap hari.

Minum air putih secara cukup sebelum merasa haus, menghindari paparan matahari pada siang hari, mengonsumsi buah dan sayur kaya air, menggunakan pelindung saat beraktivitas di luar ruangan, serta mengenakan masker dengan filtrasi tinggi ketika kualitas udara menurun merupakan langkah yang dinilai paling efektif mengurangi risiko gangguan kesehatan.

Dengan El Nino yang diperkirakan masih akan menguat dalam beberapa waktu ke depan, kesiapan individu menjadi garis pertahanan pertama sebelum dampaknya berkembang menjadi persoalan kesehatan maupun bencana lingkungan yang lebih besar. Pencegahan sejak dini bukan hanya menjaga kondisi tubuh tetap bugar, tetapi juga membantu masyarakat menghadapi musim kemarau ekstrem dengan risiko yang jauh lebih rendah. (kpc)