Harimau Sumatera Masih Berkeliaran di Inhil, BBKSDA Riau Tambah Drone Thermal

Seekor harimau sumatra terpantau kamera BB KSDA Riau di Desa Danai Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Inderagiri Hilir. (Foto: Dok. BBKSDA Riau)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memperkuat upaya mitigasi kemunculan Harimau Sumatera di Desa Sungai Danai, Kecamatan Pulau Burung, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Selain menyiapkan kandang jebak (box trap), tim menambah personel pemantauan dengan dukungan drone thermal guna melacak pergerakan satwa liar tersebut dan mencegah potensi konflik dengan masyarakat.

Langkah ini dilakukan menyusul laporan Harimau Sumatera yang diduga masuk ke sekitar permukiman warga dan memangsa ternak. Sabtu (1/8/2026) sore, petugas masih berada di lokasi untuk melakukan pemantauan, sekaligus memperkuat langkah mitigasi agar keselamatan masyarakat maupun satwa tetap terjaga.

Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau, Ujang Holisudin mengatakan, tim terus menjalankan sejumlah strategi penanganan di lapangan, mulai dari sosialisasi kepada warga hingga pemasangan sarana penangkapan apabila diperlukan.

“Tim sedang terus melakukan beberapa upaya mitigasi dan sosialisasi, serta pemantauan harimau. Hari ini sedang menyiapkan kandang jebak (box trap) dan semoga kalau sudah siap segera bisa kami pasang. Kami juga melakukan penambahan tim untuk melakukan pemantauan dengan drone thermal,” kata Ujang.

BACA JUGA :  KPK Periksa Istri Suhardiman Amby dan 10 Saksi, Usut Aliran Dana Suap Jabatan di Kuansing

Menurutnya, pemasangan box trap menjadi salah satu opsi yang disiapkan apabila Harimau Sumatera masih berada di sekitar Desa Sungai Danai. Peralatan tersebut diharapkan dapat membantu proses penanganan secara aman sesuai prosedur konservasi apabila kondisi di lapangan mengharuskan satwa dievakuasi.

Selain itu, BBKSDA Riau mengoptimalkan penggunaan drone thermal untuk memperluas jangkauan pemantauan. Teknologi tersebut memungkinkan petugas mendeteksi keberadaan satwa liar melalui pancaran panas tubuh, terutama saat malam hari maupun di kawasan dengan vegetasi lebat yang sulit dijangkau secara langsung.

Penambahan personel juga dilakukan untuk mempercepat pemantauan terhadap pergerakan Harimau Sumatera sekaligus memastikan setiap laporan masyarakat dapat segera ditindaklanjuti. Pemantauan intensif dinilai penting guna mengetahui pola pergerakan satwa sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan secara tepat.

Di sisi lain, BBKSDA Riau terus mengedukasi masyarakat mengenai langkah-langkah yang harus dilakukan selama proses penanganan berlangsung. Warga diminta meningkatkan kewaspadaan ketika beraktivitas di kebun maupun di sekitar lokasi yang diduga menjadi lintasan Harimau Sumatera.

BACA JUGA :  Korban Serangan Monyet Liar di Tembilahan Inhil Bertambah Jadi 10 Orang

Sosialisasi tersebut bertujuan mengurangi potensi interaksi langsung antara manusia dengan satwa liar yang dilindungi. BBKSDA menilai kerja sama masyarakat menjadi faktor penting agar upaya mitigasi berjalan efektif sekaligus menghindari tindakan yang dapat membahayakan kedua belah pihak.

Sebelumnya, Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau menemukan jejak baru Harimau Sumatera di sekitar Desa Sungai Danai setelah menerima laporan masyarakat mengenai kemunculan satwa tersebut di dekat permukiman. Dalam laporan itu, Harimau Sumatera juga disebut memangsa ternak milik warga.

Temuan jejak tersebut memperkuat indikasi bahwa satwa masih beraktivitas di sekitar kawasan desa sehingga pengawasan terus ditingkatkan. BBKSDA Riau memilih mengedepankan pendekatan mitigasi dan pemantauan sebelum mengambil langkah penanganan lebih lanjut sesuai perkembangan kondisi di lapangan.

Sebagai langkah pencegahan, BBKSDA Riau mengimbau masyarakat untuk mengandangkan ternak sapi maupun kambing, terutama pada malam hari. Langkah sederhana ini dinilai penting untuk mengurangi daya tarik bagi Harimau Sumatera mendekati permukiman warga.

Masyarakat juga diminta tidak melakukan pengejaran, pemasangan jerat, maupun tindakan lain secara mandiri apabila melihat keberadaan Harimau Sumatera. Warga diimbau segera melaporkan setiap kemunculan satwa kepada petugas BBKSDA Riau atau aparat setempat agar penanganan dilakukan sesuai prosedur dan mengutamakan keselamatan.

BACA JUGA :  Korban Serangan Monyet Liar di Tembilahan Inhil Bertambah Jadi 10 Orang

Upaya mitigasi yang dilakukan BBKSDA Riau menjadi penting karena kemunculan Harimau Sumatera di sekitar permukiman tidak hanya berpotensi mengancam keselamatan warga, tetapi juga meningkatkan risiko konflik manusia dan satwa liar yang dapat berdampak pada kelestarian spesies tersebut.

Dengan pemantauan yang diperkuat melalui drone thermal, penambahan personel, serta persiapan box trap, diharapkan keberadaan Harimau Sumatera dapat dipantau secara lebih akurat sehingga langkah penanganan yang diambil tetap mengutamakan aspek konservasi sekaligus perlindungan masyarakat. (trp)