BBKSDA Riau Pasang Kandang Jebak Usai Beruang Madu Serang Petani di Pelalawan

Petugas BBKSDA memasang kandang jebak untuk beruang madu yang menyerang petani di Pelalawan. (Foto: TribunPekanbaru)

PELALAWAN, FOKUSRIAU.COM-Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau memasang kandang jebak (box trap) di Desa Pangkalan Gondai, Kecamatan Langgam, Kabupaten Pelalawan, menyusul insiden serangan beruang madu terhadap seorang petani karet yang menyebabkan korban mengalami luka serius.

Langkah tersebut dilakukan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) BBKSDA Riau sebagai bagian dari upaya mitigasi konflik manusia dengan satwa liar yang terjadi di wilayah tersebut. Pemasangan kandang jebak difokuskan di sekitar lokasi serangan untuk memantau keberadaan beruang sekaligus mengantisipasi potensi kejadian serupa.

Korban diketahui bernama Antono (41), warga Desa Pangkalan Gondai. Ia mengalami luka parah di bagian kepala dan pelipis mata kiri setelah diserang seekor beruang madu saat menyadap karet di kebunnya pada Rabu (5/8/2026).

Meski mengalami luka cukup serius akibat cakaran dan gigitan satwa liar tersebut, nyawa korban berhasil diselamatkan. Antono kini masih menjalani perawatan intensif setelah menjalani operasi di RSUD Selasih Pangkalan Kerinci.

Kepala BBKSDA Riau, Supartono mengatakan, tim langsung diterjunkan begitu menerima laporan dari masyarakat mengenai kejadian tersebut.

Sebagai langkah awal penanganan, Tim WRU melakukan koordinasi dengan Pemerintah Desa Pangkalan Gondai untuk memperoleh informasi lengkap mengenai kronologi kejadian sekaligus menentukan strategi penanganan di lapangan.

BACA JUGA :  KPK Ungkap Tiga Pertemuan Bupati Kuansing dengan Menhut dan Dugaan Pemberian Uang

Selanjutnya, bersama pemerintah desa dan aparat setempat, tim memasang satu unit kandang jebak di sekitar area kebun tempat korban diserang.

Menurut Supartono, pemasangan kandang jebak bertujuan memonitor keberadaan beruang madu yang diduga masih berada di sekitar kawasan tersebut, sekaligus menjadi bagian dari langkah mitigasi apabila satwa kembali memasuki area yang berpotensi membahayakan masyarakat.

Dijelaskan, penanganan konflik satwa liar dilakukan secara terukur dengan mengedepankan dua aspek utama, yakni keselamatan masyarakat dan perlindungan satwa yang dilindungi.

BBKSDA Riau, lanjutnya, juga terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, pemerintah desa, serta masyarakat agar upaya mitigasi dapat berjalan efektif.

Diserang dari Belakang Saat Menyadap Karet
Berdasarkan informasi yang diperoleh dari pemerintah desa, korban diserang ketika sedang bekerja menyadap karet di kebun miliknya.

Beruang madu diduga muncul dari arah belakang dan langsung menyerang korban. Korban sempat melakukan perlawanan hingga akhirnya satwa tersebut melepaskan serangannya. Dalam kondisi terluka, Antono berhasil melarikan diri menuju rumah.

Sesampainya di rumah, korban dilaporkan kehilangan banyak darah hingga akhirnya tidak sadarkan diri.

Pihak keluarga kemudian segera membawanya ke Rumah Sakit Selasih Pangkalan Kerinci untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah menjalani operasi, korban kini masih berada dalam pengawasan tenaga kesehatan.

BACA JUGA :  KPK Ungkap Tiga Pertemuan Bupati Kuansing dengan Menhut dan Dugaan Pemberian Uang

Di sisi lain, Tim WRU BBKSDA Riau masih melakukan pendalaman terhadap penyebab munculnya konflik tersebut, termasuk mengidentifikasi kondisi habitat satwa dan faktor-faktor yang memicu beruang memasuki kawasan perkebunan masyarakat.

Hasil identifikasi itu nantinya akan menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi.

BBKSDA Riau menegaskan, beruang madu (Helarctos malayanus) merupakan salah satu satwa liar yang dilindungi berdasarkan peraturan perundang-undangan di Indonesia.

Karena itu, setiap penanganan konflik dilakukan dengan pendekatan konservasi, yakni menjaga keselamatan manusia tanpa mengabaikan kelestarian satwa beserta habitat alaminya.

Pendekatan tersebut dilakukan melalui pemantauan, pemasangan kandang jebak, identifikasi penyebab konflik, hingga koordinasi lintas instansi apabila diperlukan tindakan lanjutan.

BBKSDA menilai keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan konservasi satwa menjadi aspek penting dalam setiap penanganan konflik manusia dan satwa liar.

Konflik Satwa Liar Masih Menjadi Tantangan di Riau
Seiring masih berlangsungnya proses mitigasi, BBKSDA Riau mengimbau masyarakat yang beraktivitas di kebun, hutan, maupun kawasan yang berbatasan dengan habitat satwa liar agar meningkatkan kewaspadaan.

Masyarakat disarankan tidak bekerja seorang diri, terutama di kawasan yang masih memiliki tutupan hutan atau berdekatan dengan habitat alami beruang madu.

BACA JUGA :  KPK Ungkap Tiga Pertemuan Bupati Kuansing dengan Menhut dan Dugaan Pemberian Uang

Selain itu, warga juga diminta segera melaporkan kepada BBKSDA Riau atau aparat setempat apabila menemukan keberadaan satwa liar di sekitar permukiman, kebun, maupun areal perkebunan.

Laporan yang cepat dinilai penting agar petugas dapat segera melakukan langkah mitigasi sebelum terjadi konflik yang membahayakan keselamatan warga.

Konflik antara manusia dan satwa liar masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah di Riau yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan dan bentang alam alami. Aktivitas perkebunan yang berada di sekitar habitat satwa kerap meningkatkan potensi perjumpaan antara manusia dengan satwa liar, termasuk beruang madu.

Karena itu, pemerintah bersama BBKSDA Riau terus mendorong penguatan sistem mitigasi melalui respons cepat, koordinasi lintas instansi, edukasi kepada masyarakat, serta penanganan berbasis konservasi guna meminimalkan risiko korban sekaligus menjaga keberlangsungan populasi satwa liar yang dilindungi. (trp)