Asap Mulai Terasa Menyengat di Pekanbaru, Masuk Kategori Tidak Sehat

Asap diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Pekanbaru dan sekitarnya. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kabut berbau asap mulai dirasakan warga di sejumlah wilayah Pekanbaru, Rabu (12/8/2026) pagi. Kondisi itu muncul bersamaan dengan memburuknya kualitas udara dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat 75,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Berdasarkan data kualitas udara yang diakses dari BMKG pukul 05.00 WIB pagi tadi, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru berada pada level yang masuk kategori tidak sehat.

Kondisi itu semakin terasa di tengah aktivitas warga yang berlangsung sejak menjelang subuh. Kabut diduga bercampur asap terlihat menyelimuti sejumlah kawasan kota sampai sekitar pukul 06.15 WIB.

Selain jarak pandang yang tampak berkabut, bau menyengat seperti asap kebakaran juga mulai mengganggu penciuman warga. Keluhan tersebut muncul ketika masyarakat mulai beraktivitas, termasuk mengantar anak ke sekolah dan berangkat bekerja.

“Sudah mulai asap nampaknya nih, udah menyengat ke hidung,” ujar Widia, warga kawasan Arengka, Pekanbaru.

Warga Mulai Mengeluhkan Bau Asap
Widia yang mengantarkan anaknya sekolah di kawasan Kubang mengaku mulai merasakan bau menyengat sejak beberapa hari terakhir.

“Ini terpaksa cari masker ni, sudah parah seperti asap ini, saya pun sudah mulai batuk ini,” ujarnya.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Hari Ini Turun 92 Titik, Sebaran Terbanyak Masih di Indragiri Hulu

Sementara itu, Febri, warga Panam juga merasakan kondisi serupa, Rabu pagi. “Sudah mulai asap nampaknya, udah menyengat ke hidung,” katanya.

Munculnya bau asap tersebut menjadi perhatian, karena terjadi ketika kualitas udara Pekanbaru berdasarkan data PM2.5 telah berada pada kategori tidak sehat.

PM2.5 merupakan partikulat berukuran sangat kecil dengan diameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Partikel ini dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan sehingga kualitas udara dengan konsentrasi PM2.5 tinggi menjadi hal yang perlu diperhatikan masyarakat.

Meski kondisi udara mulai dikeluhkan, aktivitas masyarakat di Pekanbaru pada Rabu pagi masih berjalan seperti biasa. Sejumlah warga tetap terlihat mengantarkan anak ke sekolah maupun berangkat bekerja.

Namun, sebagian warga belum menggunakan masker ketika beraktivitas di luar ruangan.

Kualitas Udara Pekanbaru Memburuk
Penurunan kualitas udara di Pekanbaru sebelumnya juga sempat terjadi seiring munculnya kabut asap yang diduga berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan di sejumlah titik di Riau.

BACA JUGA :  TNI AL Gagalkan Penyeludupan 1,3 Ton Narkoba Bernilai Rp2,6 Triliun di Perairan Kepri

Rabu pagi, kondisi tersebut kembali terasa secara langsung masyarakat. Bau asap yang menyengat menjadi salah satu indikator yang paling mudah dikenali warga dibandingkan angka kualitas udara yang tercantum dalam pemantauan.

Data PM2.5 sebesar 75,9 µg/m³ pada pukul 05.00 WIB menunjukkan konsentrasi partikulat halus yang cukup tinggi di udara Pekanbaru. Kondisi tersebut membuat masyarakat, terutama kelompok sensitif, perlu meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan aktivitas di luar ruangan.

Kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih antara lain anak-anak, lanjut usia, serta masyarakat yang memiliki gangguan pernapasan.

Bagi warga yang tetap menjalankan aktivitas di luar rumah, munculnya kabut dan bau asap menjadi kondisi yang perlu diperhatikan bersamaan dengan perkembangan data kualitas udara.

Situasi ini juga menunjukkan bahwa persoalan kualitas udara di Pekanbaru tidak hanya terlihat melalui data pemantauan, tetapi mulai dirasakan langsung oleh masyarakat dalam aktivitas sehari-hari.

Dengan kondisi udara yang berada dalam kategori tidak sehat, perkembangan kualitas udara Pekanbaru menjadi penting dipantau, terutama apabila kabut dan bau asap kembali bertahan hingga siang atau terjadi peningkatan konsentrasi PM2.5.

BACA JUGA :  KPK Telusuri Selisih SGD 2.000 dalam Amplop Suhardiman untuk Menhut

Rabu pagi, informasi yang tersedia belum memastikan sumber kabut dan bau asap yang dirasakan warga Pekanbaru. Kondisi tersebut masih dikaitkan dengan dugaan asap dari kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di sejumlah titik di Riau.

Karena itu, kondisi kualitas udara dan perkembangan titik kebakaran menjadi faktor penting untuk melihat apakah kabut asap yang mulai dirasakan warga Pekanbaru akan meluas atau hanya bersifat sementara.

Bagi masyarakat, perubahan kualitas udara pada Rabu pagi menjadi pengingat bahwa kabut asap kembali menjadi persoalan yang perlu diperhatikan, terutama karena dampaknya mulai terasa langsung pada lingkungan tempat warga beraktivitas. (bsh)