El Nino Sangat Kuat Mengancam, Indonesia Hadapi Risiko 19.251 Kematian Akibat Panas

Petugas memantau perkembangan analisis anomali suhu muka laut melalui layar monitor di Kantor Pusat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Jakarta, Kamis (30/7/2026). BMKG memprediksi fenomena El Nino akan bertahan hingga awal kuartal I 2027 sehingga berpotensi memicu musim kemarau yang lebih kering di sebagian besar wilayah Indonesia. (Foto: Antara/Darryl Ramadhan)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Indonesia menghadapi dua tekanan cuaca sekaligus, ketika El Nino 2026 terus menguat. Di tengah musim hujan yang diperkirakan datang lebih lambat di sebagian besar wilayah, sebuah proyeksi ilmiah memperkirakan 19.251 kematian tambahan akibat panas dapat terjadi di Indonesia sampai Februari 2027.

Angka tersebut bukan catatan korban yang sudah terjadi. Ia adalah proyeksi Climate Impact Lab mengenai tambahan kematian yang berkaitan dengan suhu ekstrem akibat El Nino dibandingkan kondisi pada tahun-tahun normal.

Secara global, penelitian itu memperkirakan sekitar 451.000 kematian tambahan akibat panas dalam periode enam bulan.

Indonesia berada di posisi kedua dalam daftar negara dengan proyeksi tambahan kematian tertinggi, setelah Nigeria. Sudan, India dan Brasil berada di posisi berikutnya.

Ancaman tersebut datang ketika El Nino berada dalam fase yang sangat kuat. World Meteorological Organization (WMO) memperkirakan, fenomena ini hampir pasti bertahan sampai Februari 2027 dan masih dapat memengaruhi pola cuaca sampai tahun depan.

Di dalam negeri, BMKG pada 22 September 2026 menyebut, El Nino dengan intensitas sangat kuat sedang berlangsung. BMKG juga memprediksi awal musim hujan 2026/2027 mundur di 529 Zona Musim atau 61,08 persen wilayah Indonesia.

Kombinasi panas, kekeringan dan keterlambatan hujan membuat persoalan El Nino tidak hanya berkaitan dengan cuaca. Dampaknya dapat merembet ke kesehatan masyarakat, pertanian, ketersediaan air dan ketahanan pangan.

Suhu Naik, Risiko Kematian Ikut Bertambah
Para peneliti kemudian menggabungkannya dengan prakiraan perubahan suhu akibat El Nino. Pendekatan tersebut digunakan untuk memperkirakan selisih kematian, ketika kondisi panas akibat El Nino dibandingkan dengan kondisi pada tahun-tahun yang lebih normal.

Peneliti Climate Impact Lab dan University of Chicago, Michael Greenstone menilai, besarnya angka proyeksi tersebut perlu dibaca sebagai peringatan mengenai risiko yang dapat dihadapi masyarakat ketika suhu meningkat tajam.

Menurut penelitian tersebut, dampak panas paling berat cenderung muncul di wilayah yang sejak awal memiliki suhu tinggi dan memiliki sumber daya lebih terbatas untuk menghadapi suhu ekstrem.

Masyarakat dengan akses terbatas terhadap pendingin ruangan, air bersih, layanan kesehatan dan fasilitas perlindungan dari panas menghadapi tantangan yang lebih besar ketika temperatur meningkat.

Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya seberapa tinggi suhu yang tercatat. Kemampuan masyarakat untuk beradaptasi ikut menentukan seberapa besar konsekuensi kesehatan yang muncul.

Indonesia di Bawah Nigeria
Dalam proyeksi tambahan kematian akibat panas untuk September 2026 hingga Februari 2027, sejumlah negara berkembang berada di urutan teratas.

Berikut daftar 10 negara dengan proyeksi tambahan kematian tertinggi:

NegaraProyeksi tambahan kematian
Nigeria31.320
Indonesia19.251
Sudan17.430
India15.670
Brasil13.271
Republik Demokratik Kongo10.014
Niger9.900
Chad7.953
Filipina6.504
Vietnam5.566

Data tersebut menunjukkan bahwa kawasan tropis dan negara-negara dengan tingkat kerentanan sosial-ekonomi tinggi mendominasi daftar proyeksi.

Climate Impact Lab juga memperkirakan, kawasan Sahel di Afrika akan menghadapi sekitar 66.800 tambahan kematian akibat panas dalam enam bulan, sedangkan Indonesia sendiri diproyeksikan menghadapi sekitar 19.300 kematian jika angka tersebut dibulatkan.

El Nino 2026 Diperkirakan Bertahan sampai Februari 2027
Ancaman tersebut datang ketika El Nino 2026 terus menguat. Organisasi Meteorologi Dunia atau WMO pada 3 September 2026 menyatakan, El Nino telah terbentuk dan diperkirakan semakin kuat dalam beberapa bulan berikutnya.

Prakiraan WMO menunjukkan, peluang nyaris 100 persen fenomena tersebut bertahan hingga Februari 2027. WMO juga memperkirakan El Nino mencapai intensitas sangat kuat menjelang akhir 2026.

Kondisi tersebut dapat mengubah pola temperatur dan curah hujan di berbagai kawasan dunia serta meningkatkan risiko kekeringan, banjir dan panas ekstrem.

Namun, WMO mengingatkan, keberadaan El Nino tidak berarti setiap daerah akan mengalami kondisi cuaca yang sama. Pengaruhnya berbeda menurut wilayah, musim dan interaksinya dengan faktor iklim lain.

Bagi Indonesia, perkembangan tersebut menjadi perhatian, karena dampak El Nino dapat berkaitan dengan kekeringan, kebakaran hutan dan lahan, gangguan pertanian hingga peningkatan tekanan panas.

Ancaman Tidak Berhenti pada Kesehatan
Dampak El Niño juga dapat merambat ke persoalan pangan. World Food Programme (WFP) memperkirakan El Nino 2026-2027 berpotensi mendorong 49 juta orang tambahan ke kondisi rawan pangan akut hingga akhir 2027.

Analisis tersebut mencakup 45 negara yang telah memiliki tingkat kerawanan pangan dan dinilai rentan terhadap perubahan curah hujan serta suhu akibat El Nino.

Bagi negara yang bergantung pada sektor pertanian, perubahan pola hujan dan peningkatan temperatur dapat memengaruhi waktu tanam, produktivitas tanaman dan ketersediaan air.

Indonesia juga menghadapi risiko tersebut. Reuters melaporkan pada September 2026 bahwa musim hujan di sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan datang lebih lambat dari perkiraan awal, sementara sekitar 61 persen wilayah daratan Indonesia diproyeksikan mengalami keterlambatan tersebut.

Situasi itu membuat El Nino tidak lagi sekadar persoalan temperatur. Dampaknya dapat bergerak dari atmosfer menuju lahan pertanian, ketersediaan air, harga pangan dan kesehatan masyarakat.

Peringatan untuk Memperkuat Perlindungan Masyarakat
Para peneliti Climate Impact Lab menekankan, proyeksi kematian bukanlah angka yang harus diterima begitu saja.

Sebaliknya, data tersebut dapat digunakan untuk menentukan wilayah yang membutuhkan perlindungan lebih cepat, termasuk sistem peringatan dini, tempat pendinginan, perlindungan bagi pekerja luar ruangan dan kesiapan layanan kesehatan.

Tamma Carleton dari University of California, Berkeley, salah satu penulis laporan, menilai, peningkatan respons darurat dapat mengurangi jumlah korban dalam waktu dekat. Namun, kebutuhan jangka panjang juga tidak dapat diabaikan.

Jika suhu ekstrem yang terjadi sekarang menjadi bagian dari kondisi normal beberapa dekade mendatang, pendekatan berbasis keadaan darurat saja tidak akan cukup.

Karena itu, kemampuan membaca risiko, memperkuat sistem peringatan, menyediakan akses terhadap air dan fasilitas pendinginan serta menyiapkan layanan kesehatan menjadi bagian dari strategi menghadapi perubahan iklim.

El Nino 2026 pada akhirnya memberi gambaran tentang bagaimana kenaikan temperatur dapat berpengaruh langsung terhadap kehidupan manusia.

Proyeksi 19.251 kematian tambahan di Indonesia bukan catatan mengenai jumlah korban yang sudah terjadi, melainkan perkiraan risiko yang masih dapat dipengaruhi oleh kesiapan dan langkah pencegahan. (kpc)