Riau  

Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang Turun 1,5 Meter, Turbin Masih Bisa Full Load

Debit air waduk PLTA Koto Panjang di Kampar terus menurun, (Foto: Istimewa)

KAMPAR, FOKUSRIAU.COM-Elevasi Waduk PLTA Koto Panjang di Kabupaten Kampar, Riau, terus menurun sepanjang Agustus 2026. Dalam kurun 16 hari, permukaan waduk turun sekitar 1,5 meter seiring menyusutnya debit air yang masuk ke waduk.

Data menunjukkan elevasi waduk yang pada 1 Agustus 2026 masih berada di sekitar 80,15 meter di atas permukaan laut (mdpl), turun menjadi sekitar 78,65 mdpl pada 16 Agustus.

Penurunan tersebut menempatkan elevasi Waduk PLTA Koto Panjang dalam rentang Low Water Level (LWL), yakni antara 73,50 hingga 80,59 mdpl. Kondisi elevasi pada level tersebut telah berlangsung sejak 11 Juli 2026.

Faktor utama yang memengaruhi penurunan permukaan waduk adalah berkurangnya debit air yang masuk atau inflow. Kondisi itu berkaitan dengan musim kemarau yang menyebabkan pasokan air menuju waduk ikut menurun.

Debit inflow bahkan sempat berada pada level yang cukup rendah. Pada Rabu (12/8), aliran air yang masuk ke waduk tercatat hanya sekitar 11 meter kubik per detik (m³/s).

Meski demikian, kondisi inflow tidak berlangsung konstan. Debit air masuk masih mengalami fluktuasi dari waktu ke waktu sehingga turut memengaruhi perubahan elevasi waduk.

BACA JUGA :  Update Cuaca Riau 15 Agustus: Hujan Ringan Berpotensi Guyur Sejumlah Wilayah

Operasi Turbin Tetap Berjalan
Manajer Unit Layanan Pembangkit Listrik Tenaga Air (ULPLTA) Koto Panjang, Dhani Irwansyah membenarkan kondisi penurunan elevasi tersebut.

Menurut Dhani, kondisi level air waduk saat ini belum menghentikan operasional pembangkit. Jumlah unit turbin yang dioperasikan menyesuaikan kebutuhan sistem kelistrikan Sumatera.

Pada Luar Waktu Beban Puncak (LWBP), dua hingga tiga unit turbin beroperasi dengan kapasitas masing-masing sekitar 20 Megawatt (MW).

Sementara ketika memasuki Waktu Beban Puncak (WBP), dua hingga tiga unit turbin dapat dioperasikan dengan kapasitas masing-masing sekitar 30 MW.

“Dengan tetap mempertimbangkan kebutuhan sistem Sumatera,” kata Dhani, Minggu (16/8/2026).

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa meskipun elevasi waduk berada pada level rendah, PLTA Koto Panjang masih menjalankan fungsi pembangkitan listrik dengan pengaturan operasi berdasarkan kebutuhan sistem.

Masih Bisa Mencapai 38 MW per Turbin
Secara kapasitas, PLTA Koto Panjang memiliki tiga unit turbin dengan kemampuan optimal masing-masing mencapai 38 MW. Jika seluruh unit bekerja pada kapasitas maksimal, total daya yang dapat dihasilkan mencapai 114 MW.

BACA JUGA :  Perangkap Kosong, Keberadaan Harimau di Danai Inhil Masih Misterius, Warga Diminta Waspada

Dhani menegaskan, kondisi elevasi waduk saat ini masih memungkinkan turbin beroperasi pada kapasitas tersebut apabila sistem kelistrikan membutuhkan tambahan daya.

“Jika sistem membutuhkan, PLTA masih bisa full load 38 MW,” ujarnya.

Dengan demikian, penurunan elevasi waduk belum secara otomatis berarti kemampuan pembangkitan PLTA Koto Panjang terhenti atau turun ke titik minimum. Pengoperasian turbin tetap disesuaikan dengan kondisi waduk dan kebutuhan sistem kelistrikan.

Kemarau Menjadi Faktor Penting
Penurunan elevasi Waduk Koto Panjang perlu dilihat dalam konteks perubahan debit air masuk selama musim kemarau. Ketika inflow berkurang, jumlah air yang tersedia untuk mendukung operasi pembangkit juga ikut terpengaruh.

Dalam kondisi seperti ini, pengelolaan operasi pembangkit menjadi penting karena PLTA harus mempertahankan fungsi pembangkitan sekaligus mempertimbangkan kondisi ketersediaan air di waduk.

Terlebih, Waduk Koto Panjang merupakan bagian dari sistem pembangkitan listrik yang terhubung dengan sistem kelistrikan Sumatera. Karena itu, keputusan mengenai jumlah unit turbin dan kapasitas pembangkitan tidak hanya bergantung pada kondisi waduk, tetapi juga kebutuhan sistem secara keseluruhan.

BACA JUGA :  Hujan Lebat Berpotensi Guyur Riau Hari Ini, 5 Daerah Ini Wajib Waspada

Data elevasi pada 16 Agustus memperlihatkan permukaan waduk masih berada di atas batas bawah LWL 73,50 mdpl. Namun, posisi 78,65 mdpl menunjukkan elevasi sudah berada dalam rentang level rendah yang membutuhkan pemantauan terhadap perkembangan inflow dan kondisi cuaca.

Bagi sistem kelistrikan, kemampuan PLTA untuk tetap mencapai 38 MW per unit ketika diperlukan menjadi salah satu faktor penting di tengah kondisi inflow yang berfluktuasi.

Perkembangan elevasi waduk dan debit inflow selanjutnya akan menjadi faktor penting dalam menentukan ruang operasi PLTA Koto Panjang, terutama apabila musim kemarau masih berlanjut dan pasokan air ke waduk belum kembali meningkat. (trp)