Kodam XIX/Tuanku Tambusai Siagakan 2.460 Personel Hadapi Karhutla Riau

Sejumlah anggota TNI berjibaku membantu memadamkan karhutla. (Foto: Detik)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau membutuhkan kesiapsiagaan tinggi. Kodam XIX/Tuanku Tambusai sudah menyiapkan 2.460 personel, untuk memperkuat pencegahan dan penanganan karhutla di Riau dan Kepulauan Riau.

Kesiapan tersebut tidak hanya berupa pengerahan personel. Kodam XIX/Tuanku Tambusai juga membentuk 13 posko karhutla dan 13 tim Quick Response Force (QRF) untuk mempercepat respons ketika ditemukan titik api.

Kepala Penerangan Kodam XIX/Tuanku Tambusai, Kolonel M. Faizal Rangkuti mengatakan, seluruh unsur telah disiapkan melalui organisasi penanganan karhutla dari tingkat Kodam, Korem sampai Kodim.

“Untuk menghadapi potensi Karhutla, Kodam XIX/Tuanku Tambusai telah menyiapkan kekuatan 2.460 personel. Kami juga membentuk 13 posko karhutla dan 13 tim Quick Response Force (QRF) yang tersebar di seluruh kabupaten,” ujar Faizal, Jumat (21/8/2026).

Dikatakan, keberadaan tim QRF ditujukan untuk memperpendek waktu respons di lapangan. Tim tersebut akan bergerak ketika terdapat laporan atau temuan titik api yang membutuhkan penanganan segera.

Dalam pelaksanaannya, personel TNI akan berkoordinasi dengan pemerintah daerah, BPBD, Manggala Agni, kepolisian dan pemangku kepentingan lainnya.

Kesiapan ini menjadi penting karena penanganan karhutla tidak hanya bergantung pada kemampuan memadamkan api setelah kebakaran membesar. Kecepatan mendeteksi dan merespons titik api menjadi bagian penting untuk mencegah kebakaran meluas.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Tersisa 49 Titik, Sebaran Terbanyak Pelalawan dengan 35 Titik

Bagi masyarakat Riau, ancaman karhutla memiliki dampak langsung terhadap aktivitas sehari-hari. Kebakaran yang meluas dapat mengganggu mobilitas, aktivitas ekonomi serta kualitas lingkungan. Karena itu, pencegahan dan respons awal menjadi bagian penting dalam penanganan karhutla.

Siapkan Puluhan Kendaraan Pemadam
Selain personel, Kodam XIX/Tuanku Tambusai menyiapkan sejumlah kendaraan untuk mendukung operasi di lapangan. Kekuatan yang disiapkan terdiri dari 30 unit truk, tujuh truk tangki, 14 ambulans, 36 mobil pemadam kebakaran dan 50 sepeda motor.

Faizal mengatakan dukungan sarana menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kesiapan menghadapi karhutla. Mobilitas petugas diperlukan agar penanganan dapat dilakukan secepat mungkin setelah laporan diterima.

“Penanganan Karhutla tidak hanya mengandalkan jumlah personel, tetapi juga kesiapan sarana dan kecepatan bergerak. Karena itu, seluruh unsur dipersiapkan agar ketika terjadi kebakaran bisa segera melakukan tindakan di lapangan,” katanya.

Untuk mendukung pemadaman, Kodam juga menyiapkan empat unit ekskavator dan 250 unit alat pemadam api.

Sementara kebutuhan personel di lapangan didukung 10 tenda, 300 velbed dan satu unit rumah sakit.

BACA JUGA :  Karhutla Kerumutan Meluas, Asap Tebal Bikin Udara Pelalawan Tak Sehat

Kelengkapan tersebut disiapkan untuk mendukung personel selama melakukan penanganan di wilayah yang terdampak kebakaran.

Riau Dibagi Tiga Cluster Penanganan
Untuk memudahkan koordinasi, wilayah Riau dan Kepulauan Riau dibagi ke dalam empat cluster penanganan karhutla.

Cluster I mencakup Rokan Hilir, Kepulauan Meranti, Bengkalis, Siak dan Kota Dumai. Wilayah tersebut menjadi satu kawasan koordinasi dalam pengorganisasian sumber daya penanganan karhutla.

Cluster II meliputi Kota Pekanbaru, Kampar, Rokan Hulu dan Pelalawan.

Selanjutnya, Cluster III mencakup Indragiri Hulu, Indragiri Hilir dan Kuantan Singingi. Sedangkan Cluster IV mencakup wilayah Kepulauan Riau, yakni Batam, Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Natuna dan Anambas.

Pembagian tersebut dilakukan untuk memudahkan pengerahan kekuatan sekaligus mempercepat koordinasi apabila terjadi kebakaran di sejumlah wilayah.

Dengan pembagian cluster, sumber daya yang tersedia dapat diarahkan sesuai kebutuhan wilayah dan perkembangan kondisi di lapangan.

Masyarakat Diminta Tidak Membakar Lahan
Di tengah kesiapan aparat, pencegahan karhutla tetap membutuhkan keterlibatan masyarakat. Faizal mengingatkan warga agar tidak melakukan aktivitas yang berpotensi memicu munculnya titik api.

“Kami mengimbau masyarakat tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar, tidak membuang puntung rokok sembarangan, serta segera melaporkan apabila menemukan asap atau titik api. Penanganan sedini mungkin sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas,” tegasnya.

BACA JUGA :  67 Hotspot Masih Terdeteksi di Riau, Pelalawan Sumbang 50 Titik

Ia juga meminta masyarakat tidak memaksakan diri melakukan pemadaman apabila api telah membesar dan membahayakan keselamatan.

Menurutnya, laporan cepat kepada petugas menjadi salah satu kunci penanganan karhutla. Semakin cepat titik api diketahui, semakin cepat pula petugas dapat melakukan tindakan di lokasi.

Kesiapan 2.460 personel, posko, tim QRF dan berbagai sarana pendukung tersebut menjadi bagian dari upaya Kodam XIX/Tuanku Tambusai menghadapi potensi karhutla di Riau dan Kepulauan Riau.

Di sisi lain, pencegahan tetap menjadi langkah utama. Masyarakat diharapkan tidak menjadi sumber munculnya titik api serta segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran di wilayah sekitarnya. (trp)