Kabut Asap Pekanbaru Makin Mengkhawatirkan, Sudah 2.751 Warga Terserang ISPA

Kabut asap karhutla kembali menyelimuti Kota Pekanbaru yang berdampak pada menurunnya kualitas udara. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kabut asap menyelimuti Kota Pekanbaru telah menunjukkan dampak bagi kesehatan masyarakat. Tercatat 3.056 kasus gangguan kesehatan dengan keluhan terbanyak, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sebanyak 2.751 kasus.

Angka itu menunjukkan bahwa paparan udara yang buruk mulai menjadi persoalan serius bagi kesehatan warga.

Data layanan kesehatan Pemerintah Kota Pekanbaru juga memperlihatkan adanya tambahan pasien sekitar 220 orang setiap hari. Dibanding kondisi sebelumnya, jumlah gangguan kesehatan tersebut mengalami kenaikan hingga 91 persen.

Gangguan kesehatan yang muncul tidak hanya berkaitan dengan saluran pernapasan. Sejumlah warga juga dilaporkan mengalami konjungtivitis atau iritasi pada mata, iritasi kulit, hingga asma.

Peningkatan keluhan kesehatan tersebut terjadi ketika kualitas udara Pekanbaru masih belum membaik secara signifikan.

Kondisi itu membuat pemerintah kota meningkatkan pemantauan terhadap perkembangan kesehatan warga sekaligus kualitas udara.

Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho mengatakan, pemantauan dilakukan bersama instansi terkait untuk melihat perkembangan situasi di lapangan.

Baca Juga :  Antisipasi Dampak Kabut Asap, 102.400 Masker Sudah Dibagikan ke Masyarakat Riau

Ratusan Titik Panas Masih Terdeteksi
Tekanan terhadap kualitas udara Pekanbaru juga tidak terlepas dari aktivitas kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah.

Berdasarkan laporan BMKG, masih terpantau sekitar 150 titik panas di wilayah Riau.

Asap yang berdampak terhadap kualitas udara Pekanbaru juga tidak hanya berasal dari wilayah sekitar kota. Pergerakan asap dapat berasal dari sejumlah daerah di Riau maupun provinsi lain, termasuk Sumatera Selatan dan Jambi.

Kondisi angin dan cuaca menjadi salah satu faktor yang menentukan apakah konsentrasi asap di Pekanbaru akan berkurang atau justru bertahan.

Harapan untuk memperbaiki kondisi udara kini salah satunya bertumpu pada perubahan cuaca.

BMKG memprakirakan, peluang hujan di wilayah Riau pada 9-11 September 2026. Intensitas dan peluang hujan diperkirakan meningkat pada 11 September.

Baca Juga :  Suhu Riau Capai 34 Derajat, Waspada Hujan Lebat Disertai Petir dan Angin Kencang

Agung berharap, hujan benar-benar terjadi sesuai prakiraan tersebut.

Menurutnya, hujan dapat membantu mengurangi konsentrasi partikel polutan di udara, termasuk PM2.5, yang menjadi salah satu perhatian dalam kondisi kabut asap.

“Kita berharap hujan benar-benar turun sesuai prakiraan BMKG. Mudah-mudahan dapat membantu menurunkan konsentrasi PM2.5 sehingga udara Pekanbaru kembali lebih sehat,” ujar Agung.

PJJ Diperpanjang
Di tengah meningkatnya kasus gangguan kesehatan, Pemerintah Kota Pekanbaru mengambil langkah pencegahan terhadap kelompok yang dinilai perlu mendapat perlindungan lebih.

Pemko memutuskan memperpanjang Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) selama satu hari pada Rabu, 9 September 2026.

Kebijakan tersebut diambil dengan mempertimbangkan kondisi kualitas udara serta peningkatan kasus gangguan kesehatan yang terjadi selama kabut asap.

Anak-anak menjadi salah satu kelompok yang menjadi perhatian pemerintah dalam keputusan tersebut.

Agung menegaskan, perpanjangan PJJ bukan dimaksudkan untuk menimbulkan kepanikan di tengah masyarakat. Kebijakan itu ditempuh sebagai bentuk kehati-hatian ketika kualitas udara belum kembali normal.

Baca Juga :  Antisipasi Dampak Kabut Asap, 102.400 Masker Sudah Dibagikan ke Masyarakat Riau

“Keputusan ini bukan untuk membuat masyarakat khawatir, tetapi sebagai langkah kehati-hatian karena kesehatan dan keselamatan anak-anak harus kita utamakan,” katanya.

Dengan masih ditemukannya titik panas dan kasus gangguan kesehatan yang terus bertambah, kondisi udara Pekanbaru masih perlu dipantau secara ketat. Perubahan cuaca dalam beberapa hari ke depan diharapkan dapat membantu mengurangi paparan asap dan memperbaiki kualitas udara. (ckc)