PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Hujan yang mengguyur sejumlah wilayah Riau membawa perubahan signifikan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Saat ini, titik karhutla di Riau dilaporkan nihil.
Meski begitu, kewaspadaan belum boleh diturunkan, mengingat luas lahan yang telah terbakar mencapai 20.597,23 hektare.
Salah satu upaya yang dilakukan untuk membantu mengatasi kekeringan dan kebakaran tersebut adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Selama pelaksanaannya, sejak 30 Juli hingga 25 September 2026, sebanyak 80 ton garam telah disemai ke atmosfer untuk memicu pembentukan hujan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD Damkar) Riau, Edy Afrizal melalui Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik, Jim Gafur mengatakan, pelaksanaan OMC mendapat dukungan pemerintah pusat melalui Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, BMKG, dan BRIN.
Menurut Jim, hujan yang turun di beberapa daerah setelah pelaksanaan modifikasi cuaca turut membantu upaya pemadaman kebakaran yang sebelumnya terjadi.
Hujan Bantu Pemadaman Karhutla
Selama operasi berlangsung, petugas memantau turunnya hujan di sejumlah wilayah yang sebelumnya mengalami kondisi kering. Kehadiran hujan membantu proses penanganan karhutla, terutama di daerah yang membutuhkan tambahan kelembapan untuk menekan penyebaran api.
Kini, pelaksanaan OMC di Riau telah berakhir. Kondisi karhutla dilaporkan nihil dan hujan disebut telah turun hampir merata di berbagai wilayah.
Namun, persoalan belum sepenuhnya selesai. Sejumlah daerah masih dilaporkan diselimuti kabut asap, sehingga pemantauan kondisi lingkungan dan kesiapsiagaan petugas tetap diperlukan.
BPBD Damkar Riau juga mengingatkan masyarakat agar tidak menjadikan kondisi tanpa titik kebakaran sebagai alasan untuk lengah. Pembukaan maupun pembersihan lahan dengan cara membakar harus dihindari agar kebakaran tidak kembali meluas ketika kondisi cuaca berubah.
“Kondisinya memang sudah nihil, tetapi kewaspadaan tetap harus dijaga. Kami mengimbau masyarakat jangan melakukan pembakaran lahan agar karhutla tidak kembali terjadi,” ujar Jim.
Di balik kondisi terkini yang mulai membaik, catatan luas lahan terbakar di Riau masih menunjukkan besarnya dampak karhutla. Data BPBD Damkar Riau mencatat total area terdampak mencapai 20.597,23 hektare.
Kabupaten Bengkalis menempati urutan pertama dengan luas lahan terbakar 8.569,25 hektare. Pelalawan berada di posisi berikutnya dengan 6.710,21 hektare. Kedua daerah tersebut mencatat luas kebakaran yang jauh lebih besar dibandingkan sejumlah wilayah lainnya.
Berikut rincian luas lahan terbakar di kabupaten dan kota se-Riau berdasarkan data BPBD Damkar Riau:
Bengkalis: 8.569,25 hektare
Pelalawan: 6.710,21 hektare
Indragiri Hulu: 1.631,95 hektare
Indragiri Hilir: 1.381,54 hektare
Dumai: 651,09 hektare
Rokan Hilir: 445,47 hektare
Siak: 429,72 hektare
Kepulauan Meranti: 307,91 hektare
Kampar: 171,67 hektare
Kuantan Singingi: 129,32 hektare
Pekanbaru: 106,73 hektare
Rokan Hulu: 62,37 hektare
Angka tersebut menggambarkan besarnya pekerjaan yang harus ditanggung dalam penanganan karhutla di Riau. Meski api saat ini dilaporkan tidak lagi ditemukan, dampak kebakaran yang telah terjadi tetap menjadi perhatian.
Kewaspadaan Tak Boleh Berhenti
Berakhirnya operasi modifikasi cuaca menandai selesainya salah satu langkah penanganan karhutla yang didukung pemerintah pusat. Akan tetapi, upaya menjaga Riau tetap bebas kebakaran membutuhkan keterlibatan banyak pihak.
Petugas masih disiagakan dan daerah-daerah rawan terus dipantau. Masyarakat juga diminta berperan aktif dengan tidak membakar lahan, termasuk saat membersihkan kebun atau menyiapkan area untuk kegiatan pertanian.
Kondisi tanpa titik karhutla menjadi kabar baik bagi Riau. Tantangannya sekarang adalah mempertahankan keadaan tersebut agar kebakaran tidak kembali muncul dan menambah luas lahan yang telah terdampak sepanjang periode ini. (mcr)






