Erupsi Gunung Marapi Sabtu Malam, Letusan 3 Menit 21 Detik Bikin Warga Panik

Pijar api terlihat menyala dari puncak Gunung Marapi saat erupsi, Sabtu (14/3/2026) malam. Letusan berlangsung sekitar 3 menit 21 detik dan menjadi erupsi terlama yang tercatat sepanjang 2026. (Foto: Dharma Harisa)

TANAH DATAR, FOKUSRIAU.COM-Gunung Marapi di Sumatera Barat, Sabtu (14/3/2026) malam kembali mengalami erupsi. Letusan kali ini tercatat sebagai erupsi terlama sepanjang tahun 2026, dengan durasi mencapai 3 menit 21 detik. Hal ini memicu kekhawatiran warga di sejumlah wilayah sekitar gunung.

Petugas Pos Gunung Api (PGA) Marapi, Ahmad Rifandi mengatakan, erupsi terjadi pukul 23.29 WIB. Aktivitas vulkanik tersebut terekam jelas melalui alat pemantauan seismik yang berada di pos pengamatan.

“Telah terjadi erupsi Gunung Marapi pada 14 Maret 2026 pukul 23.29 WIB. Tinggi kolom abu tidak teramati,” kata Rifandi dalam keterangan resminya, Sabtu malam.

Menurutnya, letusan terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 30,2 milimeter dan berlangsung selama sekitar 3 menit 21 detik, menjadikannya sebagai salah satu aktivitas vulkanik paling lama sepanjang tahun ini.

Status Gunung Marapi Masih Level II (Waspada)

Meski terjadi erupsi cukup lama, status aktivitas Gunung Marapi masih berada pada Level II atau Waspada.

Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tetap mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan aktivitas di area berbahaya di sekitar kawah.

Masyarakat diminta tidak memasuki radius 3 kilometer dari pusat aktivitas, terutama di kawasan Kawah Verbeek yang menjadi titik utama aktivitas vulkanik Gunung Marapi.

“PVMBG mengimbau masyarakat agar tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari Kawah Verbeek,” ulas Rifandi.

Selain itu, warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai yang berhulu dari puncak gunung juga diminta meningkatkan kewaspadaan.

Hal ini karena potensi banjir lahar dingin bisa terjadi sewaktu-waktu, terutama saat hujan turun di kawasan gunung.

Warga Diminta Gunakan Masker

Selain ancaman lahar, masyarakat juga diminta memperhatikan kesehatan akibat potensi paparan abu vulkanik.

Petugas mengimbau warga menggunakan masker, pelindung mata dan penutup kulit untuk menghindari gangguan pernapasan maupun iritasi akibat abu vulkanik.

Langkah ini dianggap penting karena partikel abu dari aktivitas erupsi dapat menyebar mengikuti arah angin dan berpotensi mencapai kawasan permukiman warga.

Hujan Turun di Lereng Gunung

Di sisi lain, kondisi cuaca di kawasan lereng Gunung Marapi dilaporkan sedang diguyur hujan. Wali Nagari Bukik Batabuah, Firdaus, mengatakan pihaknya terus memantau perkembangan situasi di wilayah yang berada di kaki gunung tersebut.

Menurutnya, hujan yang turun menambah kewaspadaan warga terhadap potensi bencana turunan dari aktivitas gunung. “Kondisi hujan di sekitar Marapi. Kita berhati-hati jika ada potensi lahar dingin,” kata Firdaus.

Warga Dengar Gemuruh dan Lihat Kilatan Api

Sementara itu, sejumlah warga mengaku merasakan dampak langsung dari erupsi tersebut. Salah satunya Hatta Rizal, warga Jorong Cangkiang, Nagari Batu Taba, Kabupaten Agam, yang berada sekitar 9 kilometer dari kawah Gunung Marapi.

Ia mengaku merasakan getaran cukup kuat saat erupsi terjadi. Selain itu, terdengar suara gemuruh dari arah gunung yang berlangsung cukup lama.

“Gemuruh dan kilatan apinya lama terlihat. Baru kali ini saya melihat seperti ini. Kaca rumah sampai bergetar,” ujarnya.

Menurutnya, kilatan api dari arah puncak gunung terlihat jelas dari permukiman warga. Namun sayangnya, fenomena tersebut tidak sempat direkam menggunakan kamera telepon genggam karena saat kejadian hujan sedang turun cukup deras.

Warga Khawatir Potensi Galodo

Meski tidak menimbulkan dampak langsung ke permukiman, warga tetap merasa khawatir dengan kemungkinan bencana lanjutan.

Hatta berharap aktivitas Gunung Marapi tidak memicu banjir lahar atau galodo, yang pernah terjadi sebelumnya dan menimbulkan kerusakan di sejumlah wilayah sekitar lereng gunung.

“Semoga tidak terjadi banjir lahar atau galodo yang bisa mengancam rumah warga,” katanya.

Gunung Marapi sendiri merupakan salah satu gunung api paling aktif di Sumatera Barat dan berada di wilayah administratif Kabupaten Agam dan Kabupaten Tanah Datar.

Aktivitas gunung ini terus dipantau oleh petugas vulkanologi guna memastikan keselamatan masyarakat yang tinggal di kawasan sekitarnya.

Hingga berita ini diturunkan, tidak ada laporan korban jiwa maupun kerusakan akibat erupsi tersebut. Namun warga tetap diminta meningkatkan kewaspadaan dan mengikuti arahan dari pihak berwenang. (kps/bsh)

Tinggalkan Balasan