PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Pemberangkatan jemaah haji asal Riau tahun 1447 H/2026 M terus menunjukkan tren positif. Sebanyak 3.536 jemaah sampai Minggu (3/5/2026) telah diterbangkan ke Tanah Suci melalui embarkasi Batam dengan proses lancar terkendali.
Jumlah tersebut mencakup 3.484 jemaah haji, 16 Petugas Haji Daerah (PHD), 4 pembimbing Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU), serta 32 petugas kloter. Seluruhnya diberangkatkan secara bertahap melalui kelompok terbang (kloter) BTH 3 hingga BTH 10.
Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji dan Umrah Riau, Defizon menyebut, kelancaran ini merupakan hasil koordinasi lintas sektor dalam memberikan pelayanan terbaik kepada jemaah.
“Alhamdulillah, hingga saat ini proses pemberangkatan berjalan baik. Ini berkat kerja sama semua pihak dalam memastikan jemaah haji Riau terlayani dengan optimal,” ujar Defizon.
Setiap kloter membawa ratusan jemaah dengan komposisi yang telah disesuaikan. Kloter BTH 3 memberangkatkan 442 orang, BTH 4 sebanyak 440 orang, BTH 5 sebanyak 438 orang, dan BTH 6 sebanyak 399 orang. Sementara itu, kloter BTH 7 menjadi yang terbanyak dengan 488 orang.
Selanjutnya, kloter BTH 8 mengangkut 445 orang, BTH 9 sebanyak 443 orang, dan BTH 10 sebanyak 441 orang. Dalam prosesnya, juga terjadi mutasi antar kloter sebagai bagian dari penyesuaian teknis di lapangan.
Menurut Defizon, mutasi tersebut merupakan hal yang lazim dalam penyelenggaraan ibadah haji. Tujuannya untuk memastikan seluruh jemaah tetap dapat diberangkatkan sesuai kondisi kesehatan dan kesiapan masing-masing.
“Penyesuaian antar kloter ini penting agar pelayanan tetap maksimal dan jemaah bisa berangkat sesuai kondisi terbaiknya,” jelasnya.
Ia juga memastikan jemaah yang sempat tertunda keberangkatannya tetap mendapat perhatian khusus. Petugas terus memantau kondisi kesehatan mereka sebelum diberangkatkan pada kloter berikutnya.
“Kami pastikan jemaah yang tertunda tetap dalam pengawasan. Jika sudah dinyatakan layak terbang, segera kita berangkatkan,” tuturnya.
Pemerintah pun mengingatkan seluruh jemaah untuk menjaga kondisi fisik selama menjalankan ibadah di Tanah Suci. Faktor kesehatan menjadi perhatian utama mengingat cuaca ekstrem dan aktivitas ibadah yang padat. (trp/zul)




