Harga Minyakita di Pekanbaru Tembus Rp21.000, Pedagang dan UMKM Resah

Harga minyakita masih belum ditabil di Pekanbaru. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kenaikan harga Minyakita di Kota Pekanbaru mulai memicu keresahan di kalangan pedagang kecil dan pelaku UMKM kuliner. Minyak goreng subsidi yang seharusnya dijual sesuai Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter, kini justru sulit ditemukan dengan harga tersebut di pasaran.

Di sejumlah warung harian dan kios sembako, harga Minyakita melonjak hingga Rp20.000 sampai Rp21.000 per liter. Kondisi ini membuat pedagang serba salah. Mereka mengaku tidak punya pilihan selain menaikkan harga jual karena harga dari distributor juga ikut naik.

Fenomena ini terlihat di wilayah Limbungan Rumbai, Pekanbaru. Kurnia, salah seorang pedagang harian, mengatakan pasokan Minyakita belakangan semakin sulit diperoleh dengan harga normal. Akibatnya, margin keuntungan pedagang makin tertekan.

“Sekarang dari penyalur sudah mahal. Kalau kami tetap jual sesuai HET, jelas rugi,” kata Kurnia, Jumat (8/5/2026).

Ia menjelaskan, Minyakita kemasan pouch satu liter kini dijual Rp21 ribu per liter. Padahal sebelumnya masih berada di kisaran Rp18 ribu. Sementara kemasan bantal satu liter saat ini dipasarkan Rp20 ribu, naik dari harga sebelumnya Rp17 ribu.

Kenaikan ini dinilai cukup signifikan karena terjadi dalam waktu relatif singkat. Kondisi tersebut membuat masyarakat berpenghasilan rendah mulai mengurangi pembelian minyak goreng kemasan.

Tidak hanya konsumen rumah tangga yang terdampak. Pelaku usaha mikro dan kuliner juga mulai merasakan tekanan biaya produksi yang terus meningkat dalam beberapa bulan terakhir.

UMKM Kuliner Terhimpit Kenaikan Biaya Produksi

Katie, pedagang kuliner di kawasan Rumbai, mengaku situasi saat ini sangat dilematis bagi pelaku usaha kecil. Setelah sebelumnya dipaksa menaikkan harga makanan akibat lonjakan harga plastik kemasan, kini biaya produksi kembali bertambah karena harga minyak goreng ikut meroket.

“Kemarin baru saja naik harga karena plastik mahal. Sekarang minyak goreng naik lagi. Belum lagi bahan pokok di pasar juga ikut naik,” ujarnya.

Menurut Katie, menaikkan harga jual kembali bukan keputusan mudah. Banyak pelanggan mulai sensitif terhadap perubahan harga makanan. Jika harga terus dinaikkan, ia khawatir pembeli beralih ke tempat lain.

Namun di sisi lain, mempertahankan harga lama juga bukan solusi aman. Keuntungan usaha semakin menipis karena biaya operasional terus membengkak.

“Kami lihat dulu seminggu ini perkembangannya. Kalau masih naik juga, mungkin terpaksa harga jual ikut disesuaikan lagi,” tambahnya.

Kondisi ini memperlihatkan bagaimana gejolak harga bahan pokok dapat berdampak langsung terhadap keberlangsungan UMKM lokal. Padahal sektor usaha kecil selama ini menjadi salah satu penopang ekonomi masyarakat perkotaan.

Di Pekanbaru sendiri, usaha kuliner skala kecil cukup bergantung pada minyak goreng dalam aktivitas harian mereka. Mulai dari pedagang gorengan, warung nasi, hingga usaha makanan rumahan menggunakan minyak dalam jumlah besar setiap hari.

Ketika harga minyak naik tajam, maka biaya produksi otomatis ikut meningkat. Jika kondisi berlangsung lama tanpa stabilisasi pasar, daya tahan UMKM dikhawatirkan semakin melemah.

Selain faktor distribusi, pedagang menduga tingginya harga Minyakita di lapangan juga dipengaruhi keterbatasan stok dan rantai distribusi yang tidak stabil. Meski pemerintah telah menetapkan HET, praktik di pasar sering kali berbeda karena harga dari tingkat distributor sudah lebih tinggi.

Situasi semacam ini bukan pertama kali terjadi. Dalam beberapa tahun terakhir, fluktuasi harga minyak goreng kerap memicu kepanikan pasar, terutama ketika pasokan mulai menipis atau distribusi terganggu.

Masyarakat berharap pemerintah daerah bersama instansi terkait segera melakukan pengawasan distribusi dan operasi pasar agar harga Minyakita kembali mendekati HET. Sebab jika kenaikan terus berlangsung, dampaknya tidak hanya dirasakan konsumen, tetapi juga sektor usaha kecil yang bergantung pada kestabilan harga bahan pokok.

Di tengah tekanan ekonomi dan naiknya berbagai kebutuhan rumah tangga, lonjakan harga Minyakita di Pekanbaru menjadi persoalan yang mulai dirasakan langsung oleh masyarakat bawah. Bagi sebagian keluarga, selisih beberapa ribu rupiah per liter sangat berarti terhadap pengeluaran harian mereka.

Jika tidak ada langkah cepat untuk menstabilkan pasokan dan harga, kenaikan Minyakita dikhawatirkan memicu efek domino terhadap harga makanan dan kebutuhan lain di pasar lokal. (trp)

Tinggalkan Balasan