JAKARTA, FOKUSRIAU.COM-Harapan lahirnya sumber produksi minyak dan gas (migas) baru di Riau makin terbuka. PT Pertamina Hulu Energi (PHE) mengungkap, hasil eksplorasi migas non konvensional (MNK) di Wilayah Kerja (WK) Rokan menunjukkan perkembangan kompetitif secara global.
Jika tahapan studi dan evaluasi keekonomian berjalan sesuai rencana, proyek ini berpotensi menjadi tonggak baru industri migas nasional setelah produksi lapangan konvensional terus mengalami penurunan.
Temuan itu bukan sekadar keberhasilan teknis pengeboran. Lebih dari itu, pengembangan MNK di Blok Rokan berpotensi mengubah arah investasi energi Indonesia, memperpanjang umur produksi migas Riau, sekaligus menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru di wilayah yang selama puluhan tahun menjadi tulang punggung produksi minyak nasional.
Bagi Riau, perkembangan ini memiliki arti strategis. Blok Rokan selama beberapa dekade menjadi penyumbang produksi minyak terbesar Indonesia.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, produksi lapangan-lapangan tua terus mengalami penurunan alami (natural decline). Kehadiran migas nonkonvensional dipandang sebagai peluang untuk mempertahankan posisi Riau sebagai pusat industri energi nasional.
Corporate Secretary PT Pertamina Hulu Energi (PHE), Hermansyah Y. Nasroen mengatakan, perusahaan masih memfokuskan diri pada penyelesaian studi teknis serta evaluasi keekonomian guna memastikan potensi migas nonkonvensional tersebut benar-benar layak dikembangkan secara komersial.
“Hingga saat ini, berbagai studi serta evaluasi keekonomian telah dilakukan untuk mengidentifikasi dan memvalidasi potensi sumber daya MNK di Wilayah Kerja Rokan,” ujarnya.
Hasil Sumur Eksplorasi Dinilai Kompetitif
Optimisme Pertamina bukan tanpa alasan. Evaluasi terhadap dua sumur eksplorasi, yakni Gulamo DET-1 dan Kelok DET-1, memperlihatkan sejumlah indikator teknis yang positif.
Kedua sumur tersebut memiliki ketebalan reservoir yang signifikan, kualitas batuan sumber yang baik, serta memberikan indikasi positif setelah dilakukan pengujian dan stimulasi reservoir.
Yang paling penting, Sumur Gulamo DET-1 sebelumnya menjadi sumur eksplorasi migas nonkonvensional pertama di Indonesia yang berhasil membuktikan adanya aliran hidrokarbon hingga ke permukaan.
Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa sistem petroleum pada lapisan nonkonvensional di Blok Rokan bekerja dan memiliki peluang untuk dikembangkan ke tahap produksi komersial.
Meski demikian, Pertamina belum mengungkapkan besaran investasi yang telah dikeluarkan selama proses eksplorasi tersebut.
Mengapa Migas Nonkonvensional Menjadi Sangat Penting?
Selama ini produksi minyak Indonesia sebagian besar berasal dari lapangan konvensional yang usianya telah puluhan tahun.
Akibatnya, produksi nasional terus mengalami penurunan meskipun berbagai upaya pengeboran terus dilakukan.
Di sisi lain, konsumsi energi nasional terus meningkat sehingga Indonesia masih bergantung pada impor minyak.
Dalam kondisi tersebut, migas nonkonvensional menjadi salah satu harapan terbesar pemerintah untuk menemukan cadangan baru yang mampu menopang kebutuhan energi nasional dalam jangka panjang.
Berbeda dengan migas konvensional, sumber daya migas nonkonvensional berada di dalam batuan yang sangat rapat sehingga memerlukan teknologi pengeboran horizontal serta stimulasi hidrolik (hydraulic fracturing) agar hidrokarbon dapat diproduksikan secara ekonomis.
Karena teknologi yang digunakan lebih kompleks, biaya investasi proyek MNK juga jauh lebih tinggi dibanding lapangan migas biasa.
Regulasi Baru Jadi Titik Balik
Percepatan proyek MNK di Blok Rokan tidak hanya didorong oleh keberhasilan teknis. Pemerintah juga menerbitkan Keputusan Menteri ESDM Nomor 246.K/MG.04/MEM.M/2026 yang dinilai menjadi landasan penting bagi percepatan pengusahaan migas nonkonvensional.
Regulasi tersebut mengatur pengusahaan MNK yang wilayahnya bertampalan dengan wilayah kerja migas konvensional.
Salah satu poin pentingnya adalah pemberian insentif fiskal kepada kontraktor. Dalam aturan tersebut, biaya studi potensi migas nonkonvensional dapat dibebankan sebagai biaya operasi.
Selain itu, pemerintah juga membuka ruang penyesuaian skema bagi hasil berdasarkan tingkat risiko teknis, kebutuhan investasi, harga migas, hingga volume produksi.
Menurut Hermansyah, kebijakan tersebut memberikan kepastian usaha yang selama ini menjadi salah satu tantangan utama dalam pengembangan migas nonkonvensional.
“Pertamina melihat Kepmen ini sebagai katalis utama yang secara signifikan mempercepat proses menuju pengembangan komersial dan penguatan ketahanan energi Indonesia dalam jangka panjang,” katanya.
Dampaknya Bagi Riau
Jika proyek MNK di Blok Rokan berhasil memasuki tahap produksi komersial, manfaatnya diperkirakan tidak hanya dirasakan sektor energi.
Rantai ekonomi di Provinsi Riau juga berpotensi ikut bergerak.
Investasi besar pada tahap pengembangan akan meningkatkan kebutuhan terhadap jasa pengeboran, konstruksi, logistik, transportasi, hingga penyediaan peralatan migas.
Efek berganda (multiplier effect) tersebut dapat menciptakan lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan aktivitas ekonomi di daerah.
Di sisi lain, keberhasilan proyek juga akan memperkuat kontribusi sektor migas terhadap penerimaan negara dan berpotensi meningkatkan aktivitas ekonomi daerah melalui belanja proyek, kontrak perusahaan lokal, serta pengembangan infrastruktur pendukung.
Bagi industri migas nasional, keberhasilan MNK Rokan juga akan menjadi proyek percontohan pertama yang dapat membuka pengembangan sumber daya serupa di wilayah lain Indonesia.
Tantangan Masih Besar
Meski prospeknya menjanjikan, perjalanan menuju produksi komersial masih panjang. Pertamina menilai pengembangan migas nonkonvensional memerlukan dukungan lanjutan dari pemerintah.
Beberapa tantangan yang masih harus diselesaikan antara lain penyederhanaan proses perizinan, kepastian hukum, pembentukan ekosistem industri, hingga penyusunan skema kontrak bagi hasil yang mampu menarik investasi.
Hal itu penting, karena karakteristik proyek MNK berbeda dengan migas konvensional. Risiko eksplorasinya lebih tinggi, teknologi yang digunakan lebih rumit, sementara investasi yang dibutuhkan juga jauh lebih besar.
Karena itu, skema fiskal yang kompetitif menjadi faktor utama agar investor tetap tertarik mengembangkan proyek-proyek MNK di Indonesia.
Hermansyah menegaskan bahwa pembahasan mengenai skema kontrak masih terus berlangsung agar mampu menjaga keseimbangan antara daya tarik investasi dan optimalisasi penerimaan negara.
Momentum Baru Ketahanan Energi Nasional
Perkembangan di Blok Rokan menunjukkan Indonesia mulai memasuki fase baru dalam pencarian sumber energi domestik. Setelah puluhan tahun bergantung pada lapangan migas konvensional, keberhasilan eksplorasi migas nonkonvensional dapat menjadi salah satu jawaban atas tantangan penurunan produksi nasional.
Bagi Riau, peluang ini memiliki dimensi yang lebih luas. Selain mempertahankan status sebagai lumbung energi nasional, keberhasilan pengembangan MNK dapat menghidupkan kembali geliat investasi migas, memperluas kesempatan kerja, dan mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor pendukung.
Namun, optimisme tersebut tetap bergantung pada hasil akhir studi teknis dan keekonomian yang kini masih berlangsung. Apabila seluruh tahapan dapat dilalui dengan baik dan didukung kebijakan fiskal yang kompetitif, Blok Rokan berpotensi jadi pelopor era baru pengembangan migas nonkonvensional, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional dalam jangka panjang. (bic)





