Toyota Veloz Hybrid Belum Diekspor, Ternyata Ini Alasannya!

Toyota Veloz Hybrid telah diproduksi 15 ribu unit dengan TKDN 65 persen. Toyota masih memprioritaskan pasar domestik sebelum ekspor. (Foto: Kabaroto)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Toyota Veloz Hybrid yang diproduksi di Karawang, Jawa Barat, belum masuk daftar kendaraan yang dikirim ke pasar internasional. Meski sudah diproduksi sejak akhir 2025, Toyota masih memusatkan pemenuhan unit untuk konsumen di Indonesia.

Keputusan tersebut menjadi perhatian karena model Veloz bermesin bensin selama ini termasuk kendaraan Toyota buatan Indonesia yang memiliki volume ekspor besar. Namun, untuk varian hibrida, perusahaan belum menetapkan langkah pengiriman ke luar negeri.

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), I Nyoman Winaya menjelaskan, kebutuhan pasar dalam negeri masih menjadi prioritas perusahaan saat ini.

“Untuk saat ini, Veloz Hybrid masih kami fokuskan untuk memenuhi kebutuhan pasar Indonesia. Ke depan, kami tetap terbuka untuk melihat peluang ekspor, tentunya dengan mempertimbangkan kebutuhan, karakteristik, serta permintaan di masing-masing pasar,” ujar Winaya, Selasa (29/9/2026).

Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa peluang ekspor Veloz Hybrid belum tertutup. Namun, keputusan untuk memasuki pasar negara lain masih akan bergantung pada kebutuhan dan karakteristik konsumen di masing-masing wilayah.

Baca Juga :  Dari Desa Rempak ke Dunia Kerja, 10 Pemuda Siak Kini Pegang Keahlian Juru Las

Veloz dan Avanza Masih Mendominasi Ekspor Toyota
Di tengah belum adanya pengiriman Veloz Hybrid ke luar negeri, Toyota tetap mengandalkan sejumlah model produksi Indonesia untuk memenuhi permintaan pasar global.

Sampai Agustus 2026, kendaraan Toyota yang diekspor dari Indonesia mencakup Avanza/Veloz, Raize, Yaris Cross, Fortuner dan Agya/Wigo.

Dari jajaran tersebut, Avanza/Veloz mencatatkan jumlah ekspor paling besar dibandingkan model lainnya.

“Sampai dengan bulan Agustus tahun ini, model-model kendaraan Toyota yang diekspor dari Indonesia di antaranya adalah Toyota Avanza/Veloz, Raize, Yaris Cross, Fortuner, dan Agya/Wigo, dengan jumlah terbanyak dibukukan oleh Toyota Avanza/Veloz,” kata Winaya.

Catatan tersebut memperlihatkan peran kendaraan produksi Indonesia dalam jaringan distribusi Toyota di pasar internasional. Meski demikian, pencapaian ekspor varian bensin tidak serta-merta membuat varian hibrida mengikuti jalur distribusi yang sama.

Baca Juga :  Dari Desa Rempak ke Dunia Kerja, 10 Pemuda Siak Kini Pegang Keahlian Juru Las

Produksi Veloz Hybrid Sudah Capai 15 Ribu Unit
Toyota Veloz Hybrid diproduksi di Plant 2 Karawang, Jawa Barat. Sejak diluncurkan pada November 2025 hingga Agustus 2026, jumlah produksinya telah mencapai sekitar 15 ribu unit.

Angka tersebut menjadi gambaran perkembangan produksi kendaraan hibrida tersebut selama periode awal kehadirannya di pasar Indonesia.

Dari sisi komponen lokal, Veloz Hybrid memiliki tingkat komponen dalam negeri (TKDN) hingga 65 persen. Kandungan lokal tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar nilai komponen kendaraan telah melibatkan industri dalam negeri sesuai perhitungan TKDN yang berlaku.

Kendati sudah diproduksi dalam jumlah belasan ribu unit, Toyota masih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan konsumen domestik sebelum mempertimbangkan pengiriman ke negara lain.

Peluang Ekspor Masih Terbuka
Rencana ekspor Veloz Hybrid ke depan akan bergantung pada sejumlah pertimbangan, termasuk permintaan pasar, karakteristik konsumen, serta kebutuhan di masing-masing negara tujuan.

Baca Juga :  Dari Desa Rempak ke Dunia Kerja, 10 Pemuda Siak Kini Pegang Keahlian Juru Las

Toyota belum mengumumkan jadwal maupun negara yang berpotensi menjadi tujuan ekspor kendaraan tersebut.

Bagi industri otomotif nasional, perkembangan Veloz Hybrid menjadi salah satu hal yang menarik untuk dicermati, terutama karena kendaraan ini diproduksi di Indonesia dengan tingkat kandungan lokal mencapai 65 persen.

Apabila peluang ekspor terealisasi di masa mendatang, Veloz Hybrid berpotensi menambah pilihan kendaraan elektrifikasi buatan Indonesia di pasar internasional. Namun, untuk saat ini, fokus perusahaan masih diarahkan pada pemenuhan permintaan dalam negeri. (dtc)