Karhutla Kerumutan Meluas, Asap Tebal Bikin Udara Pelalawan Tak Sehat

Ilustrasi. Kebakaran hutan dan lahan di Kerumutan makin meluas. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, Riau kini mulai berdampak terhadap kualitas udara masyarakat di Pangkalan Kerinci.

Karhutla yang telah berlangsung sekitar lima hari itu diperkirakan membakar lahan seluas 20 hektare. Kepulan asap dari kawasan yang didominasi lahan gambut tersebut terbawa angin hingga ke wilayah Pangkalan Kerinci.

Pemerintah Provinsi Riau bersama tim gabungan kini masih melakukan pemadaman melalui jalur darat dan udara. Penanganan diperkuat dengan pengerahan helikopter water bombing dan alat berat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBD dan Damkar) Provinsi Riau, Edi Afrizal melalui Kepala Bidang Kedaruratan, Jim Gafur mengatakan, kualitas udara di Pelalawan sempat berada pada kategori tidak sehat pada Rabu sore.

Kondisi tersebut terpantau melalui papan pemantauan kualitas udara di Jalan Sultan Syarif Kasim, Pangkalan Kerinci.

“Kualitas udara di Pelalawan tidak sehat karena ada karhutla di Kerumutan. Kondisi di sana tanahnya bergambut dalam, vegetasinya juga masih rapat, sehingga menghasilkan asap tebal yang mengarah ke Pangkalan Kerinci,” kata Jim, Kamis (20/8/2026).

BACA JUGA :  Hotspot Riau Capai 87 Titik, Pelalawan dan Rohil Jadi Perhatian

Dampak asap menjadi perhatian karena Pangkalan Kerinci merupakan pusat aktivitas masyarakat dan pemerintahan Kabupaten Pelalawan. Perubahan kualitas udara berpotensi mengganggu aktivitas warga, terutama ketika asap bergerak menuju kawasan permukiman.

Jim mengatakan, proses pemadaman di Kerumutan tidak mudah. Kondisi lahan yang kering dan karakteristik gambut membuat api berpotensi sulit dikendalikan.

Selain itu, kawasan terbakar masih memiliki vegetasi berupa pohon-pohon besar. Banyaknya material yang dapat menjadi bahan bakar api membuat proses pemadaman membutuhkan penanganan secara terpadu.

“Kalau untuk luasan masih dalam penanganan. Perkiraannya kurang lebih 20 hektare. Titik api di Kerumutan ini sudah berlangsung sekitar lima hari,” ujarnya.

Karhutla di kawasan tersebut bukan pertama kali terjadi. Sebelumnya, tim juga telah melakukan pemadaman terhadap kebakaran di lokasi yang sama.

Api sempat berhasil dikendalikan dan dinyatakan padam. Namun, kondisi lahan yang masih sangat kering membuat titik api kembali muncul dan memerlukan penanganan lanjutan.

Situasi itu menjadi tantangan tersendiri bagi tim di lapangan. Pada lahan gambut, api dapat bertahan di bawah permukaan sehingga penanganannya tidak cukup hanya dengan memadamkan api yang terlihat.

BACA JUGA :  67 Hotspot Masih Terdeteksi di Riau, Pelalawan Sumbang 50 Titik

Untuk mempercepat proses pemadaman, tim gabungan mengerahkan personel darat, helikopter water bombing dan alat berat. Masing-masing unsur dikerahkan untuk menjangkau area terbakar dengan kondisi medan yang sulit.

Namun, upaya tersebut masih menghadapi kendala. Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan sumber air di sekitar lokasi kebakaran.

“Upaya penanggulangan terus dilakukan. Tim darat kita kerahkan, water bombing juga dilakukan, termasuk pengerahan alat berat. Tetapi memang pemadaman mengalami kesulitan karena sumber air di lokasi minim,” jelasnya.

Keterbatasan sumber air membuat operasi pemadaman membutuhkan strategi berbeda. Tim tidak hanya berupaya mengatasi api dari permukaan, tetapi juga membuka akses dan mendukung mobilisasi peralatan menuju kawasan yang terbakar.

Hingga Kamis, proses pemadaman masih berlangsung. Tim darat dan udara terus melakukan upaya untuk mengendalikan api agar tidak meluas dan mengurangi sumber asap yang berdampak terhadap kualitas udara.

Selain operasi pemadaman langsung, Pemerintah Provinsi Riau juga mengandalkan operasi modifikasi cuaca (OMC). Langkah tersebut diharapkan dapat membantu meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang membutuhkan.

Namun, pelaksanaan OMC tidak dapat dilakukan secara sembarangan. Penyemaian awan sangat bergantung pada kondisi atmosfer dan keberadaan awan yang memenuhi persyaratan untuk dilakukan penyemaian.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Capai 87 Titik, Pelalawan dan Rohil Jadi Perhatian

“OMC tergantung awan. Untuk penyemaian garam, kita bergantung pada kondisi awan yang ada,” sebut Jim.

Dengan kondisi tersebut, penanganan karhutla di Kerumutan masih menjadi pekerjaan yang membutuhkan koordinasi lintas unsur. Pemadaman darat, water bombing, alat berat dan dukungan operasi modifikasi cuaca dilakukan sebagai bagian dari upaya mengendalikan kebakaran.

Bagi masyarakat Pelalawan, perkembangan karhutla tersebut menjadi penting karena asap yang ditimbulkan telah memengaruhi kualitas udara di Pangkalan Kerinci.

Pemerintah dan tim penanggulangan karhutla masih berupaya mengendalikan titik api. Sementara itu, kondisi udara akan tetap menjadi perhatian seiring proses pemadaman di kawasan Kerumutan yang hingga kini belum sepenuhnya selesai. (mcr)