Hotspot Sumatera Tembus 3.142 Titik, Riau Terdeteksi 8 Titik Panas

BMKG mendeteksi 3.142 hotspot di Sumatera, Selasa (6/10/2026) pagi. Riau tercatat delapan titik panas yang tersebar di lima kabupaten/kota. (Foto: FokusRiau.Com)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Aktivitas titik panas masih terpantau di sejumlah wilayah Sumatera. Data pemantauan hingga pukul 23.00 WIB mencatat 3.142 hotspot tersebar di berbagai provinsi.

Riau ikut menyumbang titik panas dalam pemantauan tersebut. Namun jumlahnya tercatat delapan titik.

Forecaster On Duty BMKG Pekanbaru, Mari Frystine menyebut, titik panas di Riau tersebar di lima wilayah. Kuantan Singingi dan Pelalawan masing-masing menyumbang dua titik.

Sementara Dumai, Siak dan Indragiri Hulu masing-masing terdeteksi satu titik panas.

Rincian pemantauan menunjukkan, satu hotspot berada di Kota Dumai. Dua titik terdeteksi di Kabupaten Kuantan Singingi.

Pelalawan juga mencatat dua titik panas. Sementara Kabupaten Siak dan Indragiri Hulu masing-masing terdapat satu titik.

Baca Juga :  Alarm Karhutla di Riau: 7 Hotspot Masih Terdeteksi, Sumsel Tembus 2.196 Titik

Data tersebut menjadi bagian dari pemantauan kondisi atmosfer dan indikasi titik panas yang dilakukan melalui pengamatan satelit.

Keberadaan hotspot perlu dibaca secara hati-hati. Titik panas yang terdeteksi satelit tidak serta-merta menunjukkan adanya kebakaran dengan luasan tertentu.

Sumsel Miliki Hotspot Terbanyak
Dari 3.142 hotspot yang terpantau di Sumatera, Sumatera Selatan mencatat jumlah paling tinggi dengan 2.511 titik panas.

Jambi berada di posisi berikutnya dengan 207 titik. Bangka Belitung tercatat memiliki 261 titik, sedangkan Lampung mencapai 140 titik.

Hotspot juga terpantau di sejumlah provinsi lain. Aceh tercatat satu titik, Sumatera Utara lima titik dan Sumatera Barat lima titik.

Sementara Bengkulu terpantau memiliki empat titik panas.

Baca Juga :  Alarm Karhutla di Riau: 7 Hotspot Masih Terdeteksi, Sumsel Tembus 2.196 Titik

Besarnya jumlah hotspot di Sumatera menjadi perhatian karena titik panas dapat menjadi salah satu indikator awal yang digunakan dalam pemantauan potensi kebakaran hutan dan lahan.

Meski begitu, data hotspot tidak dapat langsung dijadikan kesimpulan bahwa seluruh titik tersebut adalah kebakaran hutan dan lahan. Faktor lain seperti kondisi atmosfer, tutupan lahan serta arah angin turut memengaruhi kondisi asap di suatu daerah.

Arah Angin Pengaruhi Sebaran Asap
BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak hanya melihat jumlah hotspot ketika menilai kondisi udara. Sebaran asap juga dipengaruhi pergerakan angin dan keadaan atmosfer.

Untuk Riau, angin diprakirakan bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan 10 hingga 40 kilometer per jam.

Baca Juga :  Alarm Karhutla di Riau: 7 Hotspot Masih Terdeteksi, Sumsel Tembus 2.196 Titik

Dengan kondisi tersebut, perubahan arah dan kecepatan angin dapat ikut menentukan pergerakan asap dari satu wilayah menuju wilayah lain.

“Masyarakat diimbau terus memantau perkembangan cuaca dan kualitas udara, khususnya yang berada di wilayah dengan kondisi asap tebal,” kata Mari Frystine.

BMKG juga meminta masyarakat memperhatikan informasi cuaca terbaru, terutama bagi warga yang berada di wilayah dengan peringatan dini cuaca. (mcr)