PADANG, FOKUSRIAU.COM-Banjir yang melanda Kota Padang, Sumatera Barat, memaksa 672 warga meninggalkan rumah mereka dan mencari tempat berlindung di tenda pengungsian, musala dan rumah dan warung milik masyarakat.
Minggu (11/10/2026) sore, bencana tersebut dilaporkan merendam sekitar 120 rumah, merusak lima rumah dan memutus akses jalan di kawasan Guo.
Hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu (10/10/2026) siang memicu luapan air di sejumlah wilayah. Tiga kecamatan terdampak, yakni Nanggalo, Kuranji, dan Koto Tangah.
Di sejumlah permukiman, warga kini menghadapi pekerjaan berat membersihkan lumpur dan pasir yang tertinggal setelah air mulai surut.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang, Hendri Zulviton mengatakan, banjir tidak hanya menggenangi rumah warga, tetapi juga mengakibatkan kerusakan bangunan dan mengganggu akses transportasi masyarakat.
Ratusan Warga Dievakuasi
Tim SAR gabungan bergerak ke sejumlah titik untuk menyelamatkan warga yang terjebak banjir. Sebanyak 238 orang berhasil dievakuasi dari beberapa kawasan terdampak.
Evakuasi terbesar berlangsung di Perumahan Lumin Park, Kelurahan Lubuk Minturun, Kecamatan Koto Tangah. Sebanyak 178 orang dipindahkan dari kawasan tersebut.
Petugas juga mengevakuasi 30 orang dari Perumahan Abi di Koto Panjang Ikua Koto, 20 orang dari Lapau Munggu di Kuranji, serta masing-masing lima orang dari kawasan Guo dan Kampung Apa.
Sementara itu, 672 warga tercatat mengungsi di sejumlah tempat penampungan. Sebagian besar berada di wilayah Kelurahan Kuranji, dengan kondisi dan lokasi perlindungan yang beragam.
Sebanyak 367 orang menempati tenda pengungsian di Lapau Munggu dan rumah-rumah warga di sekitarnya. Musala Ar-Ridwan di Kampung Tangah menjadi tempat berlindung bagi 250 orang, sedangkan 55 warga lainnya bertahan di Warung Jembatan Guo.
Tempat-tempat tersebut menjadi perlindungan sementara bagi warga yang belum dapat kembali ke rumah masing-masing.
Lima Rumah Rusak, Jalan di Kawasan Guo Terputus
Laporan BPBD mencatat, banjir menggenangi sekitar 20 rumah di Kelurahan Tabing Banda Gadang, 60 rumah di Kelurahan Kuranji, dan 40 rumah di Kelurahan Lubuk Minturun.
Kerusakan bangunan juga terjadi di Kecamatan Kuranji. Lima rumah dilaporkan terdampak, terdiri atas empat rumah mengalami kerusakan sedang dan satu rumah rusak berat.
Dampak banjir turut dirasakan pengguna jalan. Akses masyarakat di kawasan Guo, tepatnya di sekitar lokasi PDAM, terputus total akibat luapan air.
Hendri menjelaskan, air pertama kali meluap di kawasan Guo, Kelurahan Kuranji, sekitar pukul 12.52 WIB. Sebelumnya, hujan deras telah mengguyur wilayah tersebut sejak pukul 12.00 WIB. Air kemudian meluas ke sejumlah kelurahan di tiga kecamatan.
Di Kecamatan Nanggalo, genangan melanda Kelurahan Tabing Banda Gadang dan Gurun Laweh. Di Kecamatan Kuranji, wilayah Kelurahan Kuranji turut terdampak. Sementara di Kecamatan Koto Tangah, banjir menjangkau Kelurahan Lubuk Minturun, Koto Panjang Ikua Koto, dan Batipuah Panjang.
Lumpur dan Pasir Menumpuk Dalam Rumah
Ketika air mulai surut, persoalan baru muncul di permukiman warga. Lumpur dan pasir yang terbawa arus tertinggal di lantai rumah, halaman, serta perabotan. Warga pun mulai membersihkan sisa material banjir agar tempat tinggal mereka kembali dapat digunakan.
Beni, salah seorang penghuni Perumahan Lumin Park, mengatakan endapan yang masuk ke rumahnya kali ini berbeda dari yang pernah ia alami sebelumnya.
Menurut dia, banjir terdahulu lebih banyak membawa potongan kayu. Kali ini, lumpur dan pasir justru mendominasi material yang terbawa arus.
“Kalau banjir yang dulu, banyak kayu yang terbawa. Kalau sekarang, lebih banyak lumpur dan pasir,” tuturnya sambil membersihkan rumah dan perabotan yang tertutup endapan.
Bagi warga, surutnya air belum berarti keadaan kembali normal. Mereka masih harus mengangkat lumpur, membersihkan perabotan, dan memeriksa kondisi rumah setelah diterjang banjir.
BPBD mencatat bencana ini berdampak luas terhadap permukiman dan aktivitas masyarakat di Kota Padang. Penanganan pengungsi, pemulihan akses jalan, serta pembersihan lingkungan menjadi pekerjaan yang harus dilakukan agar warga dapat kembali beraktivitas dengan aman. (kpc)






