Harga TBS Sawit Riau Pekan Ini Menguat, Kelompok Umur 9 Tahun Tertinggi Rp3.785/Kg

Harga sawit di Riau kini kembali naik. (Foto: Bisnis.com)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Harga Tandan Buah Segar (TBS) kelapa sawit kemitraan swadaya dan plasma di Provinsi Riau mengalami kenaikan tipis pada periode 17-23 Juni 2026. Kenaikan tertinggi terjadi pada kelompok tanaman berumur 9 tahun, seiring meningkatnya harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di pasar.

Dinas Perkebunan Provinsi Riau bersama tim penetapan harga telah menyepakati harga TBS Mitra Swadaya dan Mitra Plasma untuk minggu ke-21 tahun 2026. Kenaikan ini menjadi perhatian bagi petani sawit karena berpengaruh langsung terhadap pendapatan yang diterima dalam satu pekan ke depan.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Bidang Pengolahan dan Pemasaran Dinas Perkebunan Riau, Vera Virgianti, mengatakan kenaikan harga tertinggi untuk TBS Mitra Swadaya terjadi pada kelompok umur 9 tahun.

“Berdasarkan hasil kajian dari PPKS Medan yang disepakati oleh tim, untuk kenaikan harga TBS Mitra Swadaya tertinggi berada di kelompok umur 9 tahun, sebesar Rp21,40 per kilogram atau mencapai 0,58 persen dari harga periode sebelumnya,” ujar Vera, Sabtu (20/6/2026).

Dengan kenaikan tersebut, harga pembelian TBS petani Mitra Swadaya untuk kelompok umur 9 tahun naik menjadi Rp3.696,32 per kilogram. Sementara harga cangkang ditetapkan sebesar Rp26,09 per kilogram.

Pada periode ini, indeks K yang digunakan dalam penetapan harga TBS Mitra Swadaya sebesar 92,87 persen. Menurut Vera, kenaikan harga TBS dipengaruhi oleh meningkatnya harga jual CPO yang naik Rp320,99 per kilogram dibandingkan pekan sebelumnya.

Baca Juga:  PTPN IV Genjot Peremajaan 17.100 Hektare Sawit Riau, Siap Sokong B50 dan Dongkrak Produksi Petani

Di sisi lain, harga kernel atau inti sawit mengalami penurunan sebesar Rp867,94 per kilogram dari minggu lalu. Meski demikian, kenaikan harga CPO mampu menopang harga TBS sehingga tetap bergerak positif.

Untuk kemitraan plasma, tren kenaikan juga terjadi. Harga TBS tertinggi kembali tercatat pada kelompok umur 9 tahun dengan kenaikan Rp17,36 per kilogram atau sekitar 0,46 persen dibanding periode sebelumnya.

Dengan penyesuaian tersebut, harga pembelian TBS petani plasma untuk kelompok umur 9 tahun ditetapkan sebesar Rp3.785,88 per kilogram. Harga cangkang untuk plasma berada di level Rp19,15 per kilogram.

Kenaikan harga TBS plasma juga didorong oleh menguatnya harga CPO. Dalam perhitungan minggu ini, harga jual CPO naik Rp231,87 per kilogram, sementara harga kernel turun Rp654,23 per kilogram dibandingkan pekan lalu.

Penetapan harga plasma menggunakan indeks K sebesar 93,30 persen. Sementara harga CPO yang menjadi dasar perhitungan tercatat Rp15.243,59 per kilogram dan harga kernel sebesar Rp12.492,76 per kilogram.

Berdasarkan daftar harga yang ditetapkan, kelompok umur tanaman produktif 10 hingga 20 tahun pada kemitraan swadaya memperoleh harga Rp3.656,22 per kilogram. Sedangkan untuk kemitraan plasma mencapai Rp3.765,20 per kilogram.

Secara umum, harga TBS menunjukkan tren lebih tinggi pada tanaman yang memasuki usia produktif, yakni sekitar 8 hingga 20 tahun. Setelah melewati usia tersebut, harga yang diterima petani cenderung menurun seiring berkurangnya produktivitas tanaman.

Baca Juga:  PT Bumi Siak Pusako Tetapkan Robi Junipa Sebagai Direktur Baru Melalui RUPS 2026

Kenaikan harga TBS meski relatif tipis tetap menjadi kabar positif bagi petani sawit di Riau. Sebab, perubahan harga TBS akan berdampak langsung terhadap penerimaan petani, terutama bagi mereka yang bergantung pada hasil panen sawit sebagai sumber utama pendapatan keluarga.

Selain itu, pergerakan harga TBS juga menjadi indikator penting bagi sektor perkebunan sawit yang merupakan salah satu penopang utama perekonomian Riau. Fluktuasi harga CPO dan kernel masih akan menjadi faktor utama yang menentukan arah harga TBS pada periode-periode berikutnya.

Dinas Perkebunan Riau akan kembali melakukan evaluasi dan penetapan harga TBS pada pekan mendatang berdasarkan perkembangan harga CPO, kernel, indeks K serta hasil kajian tim penetapan harga yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan di sektor perkebunan sawit. (ckl)