Hotspot Riau Turun Drastis dari 45 Menjadi 25 Titik, Dumai dan Inhu Masih Terbanyak

Gambaran sebaran titik panas atau hotspot di Provinsi Riau. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Jumlah titik panas (hotspot) di Riau mulai menunjukkan tren penurunan. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Kamis (6/8/2026) pukul 23.00 WIB, hanya terdeteksi 25 hotspot.

Jumlah tersebut tentu saja turun dibandingkan sehari sebelumnya yang mencapai 45 titik. Meski mengalami penurunan, pemantauan hotspot tetap menjadi perhatian, karena titik panas merupakan salah satu indikator awal yang digunakan untuk mendeteksi potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama pada musim kemarau.

Data BMKG menunjukkan Kota Dumai dan Kabupaten Indragiri Hulu menjadi daerah dengan jumlah hotspot terbanyak di Riau. Masing-masing wilayah mencatat sembilan titik panas.

Selain itu, Kabupaten Indragiri Hilir terpantau memiliki tiga hotspot. Kabupaten Rokan Hulu mencatat dua titik, sedangkan Kabupaten Kuantan Singingi dan Rokan Hilir masing-masing terdeteksi satu titik panas.

BACA JUGA :  Hotspot Riau Bertambah Jadi 45 Titik, Sebaran Terbanyak di Inhu dan Inhil

Forecaster BMKG Yasir P menyampaikan, pemantauan hotspot dilakukan secara rutin sebagai bagian dari sistem peringatan dini terhadap potensi kebakaran lahan.

Secara regional, jumlah hotspot di Sumatera tercatat mencapai 322 titik. Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot tertinggi, yakni 93 titik.

Di bawahnya terdapat Jambi dengan 57 titik, Sumatera Utara 49 titik, Bangka Belitung 45 titik, Lampung 21 titik, Kepulauan Riau 19 titik, Sumatera Barat 11 titik, serta Aceh dan Bengkulu masing-masing satu titik.

Penurunan hotspot di Riau terjadi bersamaan dengan masih adanya potensi hujan di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut berpotensi membantu menjaga kelembapan lahan sehingga dapat menekan munculnya titik panas di beberapa daerah.

BACA JUGA :  Karhutla Mengancam: Hotspot di Riau Naik Jadi 44 Titik, Indragiri Hilir Tertinggi

Meski demikian, keberadaan 25 hotspot menunjukkan bahwa kewaspadaan terhadap ancaman karhutla tetap diperlukan, terutama di wilayah yang selama ini menjadi daerah rawan kebakaran lahan.

Dalam beberapa tahun terakhir, Riau menjadi salah satu provinsi yang secara rutin melakukan pemantauan hotspot sebagai langkah awal mendeteksi potensi kebakaran. Informasi ini menjadi dasar bagi pemerintah dan instansi terkait untuk melakukan verifikasi lapangan apabila ditemukan titik panas yang berpotensi berkembang menjadi titik api.

BMKG mengimbau seluruh pihak untuk terus memantau perkembangan kondisi cuaca dan hotspot, terutama selama musim kemarau masih berlangsung. Sinergi antara pemantauan satelit, kondisi cuaca, dan pengawasan di lapangan dinilai penting guna mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan yang dapat berdampak terhadap lingkungan maupun aktivitas masyarakat. (mcr)