KAMPAR, FOKUSRIAU.COM-Kualitas udara di Kabupaten Kampar, Riau, Kamis (13/8/2026) mengalami penurunan seiring meningkatnya konsentrasi sejumlah partikel dan gas pencemar di udara.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) Kementerian Lingkungan Hidup (KemenLH) yang dipantau, Kamis siang pukul 11.00 WIB menunjukkan, ada tiga parameter pencemar terpantau, yakni nitrogen dioksida (NO2), particulate matter 2.5 (PM2.5) dan particulate matter 10 (PM10).
Kenaikan paling terlihat terjadi pada konsentrasi NO2. Nilainya mencapai 50, meningkat cukup tajam dibandingkan 24 jam sebelumnya yang berada di angka 33.
Sementara itu, konsentrasi PM2.5 tercatat 75 dan masuk kategori sedang. Adapun PM10 berada pada angka 48.
Secara keseluruhan, kualitas udara Kampar masih berada dalam kategori sedang. Berdasarkan klasifikasi ISPU, kategori ini berada pada rentang nilai 51–100 dan secara umum masih dapat diterima bagi kesehatan manusia, hewan, maupun tumbuhan.
Meski demikian, aplikasi ISPU memberikan rekomendasi khusus bagi kelompok sensitif. Masyarakat dalam kelompok tersebut dianjurkan mengurangi aktivitas fisik yang dilakukan terlalu lama atau berat.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena peningkatan sejumlah parameter pencemar terjadi ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai dilaporkan di sejumlah wilayah Kampar.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kampar melaporkan karhutla mulai marak terjadi sejak pekan lalu. Kebakaran tersebar di beberapa titik, di antaranya Kecamatan Tambang dan Siak Hulu.
Belum terdapat informasi dalam data yang dipantau tersebut yang secara langsung menyebut bahwa kenaikan masing-masing parameter pencemar semata-mata disebabkan oleh karhutla. Namun, kondisi kualitas udara perlu menjadi perhatian masyarakat, terutama kelompok yang sensitif terhadap pencemaran udara.
NO2 Meningkat
Nitrogen dioksida atau NO2 merupakan salah satu gas pencemar udara. Berdasarkan penjelasan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), salah satu sumber utama gas tersebut adalah proses pembakaran bahan bakar fosil.
NO2 juga berkaitan dengan pembentukan polusi udara dan dapat menjadi salah satu unsur yang berkontribusi terhadap kabut asap. Paparan pencemar udara dapat menimbulkan gangguan, termasuk rasa perih pada mata dan masalah pada sistem pernapasan.
Kenaikan NO2 di Kampar menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan dalam melihat perubahan kondisi udara secara harian.
Dalam pemantauan pukul 11.00 WIB, nilai NO2 mencapai 50. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan catatan 24 jam sebelumnya yang berada di level 33.
PM2.5 Berada di Angka 75
Selain NO2, parameter yang perlu diperhatikan adalah PM2.5. Konsentrasi partikulat berukuran sangat kecil itu berada pada angka 75 dan masuk kategori sedang.
PM2.5 merupakan partikel dengan diameter kurang dari atau sama dengan 2,5 mikrometer. Ukurannya yang sangat kecil membuat partikulat ini mudah masuk ke saluran pernapasan.
Partikel tersebut dapat berasal dari berbagai sumber, antara lain asap kendaraan, aktivitas industri, pembakaran sampah, hingga kebakaran hutan dan lahan.
Karena ukurannya sangat kecil, PM2.5 dapat terhirup hingga ke bagian dalam paru-paru. Dalam kondisi tertentu, partikulat berukuran sangat kecil tersebut juga dapat masuk ke dalam aliran darah.
Sementara PM10 merupakan partikulat dengan ukuran kurang dari atau sama dengan 10 mikrometer. Paparan PM10 antara lain dapat menyebabkan iritasi pada hidung dan tenggorokan.
Kelompok Sensitif Perlu Membatasi Aktivitas
Dalam klasifikasi ISPU, kualitas udara dibagi menjadi lima kategori. Nilai 0-50 masuk kategori baik, 51-100 kategori sedang, 101-200 tidak sehat, 201-300 sangat tidak sehat, sedangkan nilai lebih dari 300 masuk kategori berbahaya.
Dengan kondisi Kampar yang berada pada kategori sedang, kualitas udara secara umum masih dapat diterima. Namun, rekomendasi berbeda diberikan kepada kelompok masyarakat yang sensitif.
Aplikasi ISPU merekomendasikan kelompok sensitif untuk mengurangi aktivitas fisik yang terlalu lama atau berat.
Pemantauan kualitas udara menjadi semakin penting seiring laporan BPBD Kampar mengenai meningkatnya kejadian karhutla di sejumlah wilayah sejak pekan lalu.
Kondisi di lapangan dan perkembangan angka ISPU masih perlu dipantau secara berkala, terutama apabila terjadi peningkatan konsentrasi partikulat maupun gas pencemar dalam beberapa hari ke depan.
Bagi masyarakat, informasi ISPU dapat menjadi salah satu rujukan untuk menyesuaikan aktivitas di luar ruangan, terutama bagi kelompok yang lebih sensitif terhadap perubahan kualitas udara. (trp)





