KUANSING, FOKUSRIAU.COM-Mantan Wakil Bupati Kuansing, Drs. H. Zulkifli, M.Si menilai, saat ini sejumlah tradisi lebaran Idul Fitri sudah mulai hilang dan dilupakan di tengah masyarakat.
Hal itu dikatakannya saat ditanya tentang tradisi lebaran di masyarakat Kuansing dari waktu ke waktu, Senin (16/3/2026).
Dalam amatannya, tradisi lebaran yang mulai hilang antara lain, kunjungan ke rumah bako yang biasa memakai rantang.
“Sudah mulai hilang dan dilupakan,” kata mantan Sekda Kuansing terlama itu.
Begitu juga dengan kunjungan ke rumah guru sekolah dan guru mengaji yang sudah relatif kecil.
“Sama juga dengan peran tokoh adat dalam menyambut lebaran sudah terpinggirkan oleh peran tokoh formal,” katanya.
Selanjutnya, pemasangan obor juga hampir habis akibat tergerus kemajuan teknologi listrik. Lalu makanan-makanan tradisional juga sudah mulai diabaikan karena berkembangnya makanan modern dan cepat saji.
Zulkifli berharap, tradisi yang mulai hilang itu kembali dipertahankan semaksimal mungkin oleh masyarakat. Karena tradisi memiliki makna penting, seperti nilai silahturahmi untuk mempererat ikatan dalam keluarga, kerabat dan antar kaum.
Meski begitu, Zulkifi menilai, dalam situasi ekonomi sulit saat ini masyarakat masih ingin merayakan Idul Fitri dengan baik. Itu berarti, Idul Fitri merupakan momen penting bagi masyarakat untuk berkumpul dengan keluarga dan teman
“Masyarakat ingin tetap merayakan tradisi dan kebiasaan Idul Fitri, seperti mudik, berbuka puasa bersama, dan memberikan zakat. Meskipun ekonomi sulit, masyarakat masih ingin merasakan kebahagiaan dan kegembiraan Idul Fitri,” ujarnya.
Artinya, Idul Fitri bukan hanya tentang ekonomi, tapi juga tentang nilai-nilai sosial, keluarga, dan spiritualitas.
“Masyarakat ingin tetap menjaga tradisi dan kebiasaan baik meskipun menghadapi kesulitan ekonomi,” tukasnya. (haz)




