Oleh: Anggi Kurniawan, A.Md., I.Kom, S.E *)
Ketika Gaya Kepemimpinan yang Otokratis selalu diartikan buruk karena kekuasaan terkonsentrasi mutlak pada pucuk pimpinan tertinggi dalam pengambilan keputusan. Gaya kepemimpinan ini sangat berbeda dengan kondisi masyarakat Indonesia yang multikural, mengakui keberagaman suku, ras, pandangan hidup.
Pengambilan keputusan yang bersifat otokrasi tentunya tidak memberikan ruang bagi masyarakat untuk ikut berperan aktif dalam merumuskan dan memutuskan sesuatu kebijakan yang menjadi sandaran masyarakat dalam menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara.
Namun, kita tidak bisa langsung menyimpulkan bahwa gaya kepemimpinan otokratis, yang nantinya akan menjadi bentuk sistem pemerintahan otoliter adalah salah. Setiap gaya kepemimpinan harus disesuaikan dengan (core value) nilai-nilai yang ditanamkan dalam individu agar tujuan dapat tercapai.
Korelasi Gaya Kepemimpin dengan Tujuan Negara
Seorang pimimpin harus mengerti tujuan organisasinya, nilai-nilai yang ditanamkan yang nanti akan menjadi budaya organisasi, sehingga akan memudahkan mengatur semua unsur yang terlibat dalam mencapai tujuan organisasi.
Lebih lanjut, berbagai ragam gaya kepemimpinan yang ada di dunia ini mulai dari otokratis (pemimpin pengendali penuh keputusan), Demokratis (mengedepankan partisipasi dan diskusi), Transformasional (fokus pada motivasi dan inovasi), Transaksional (mengedepankan reward dan punishment), dan sebagainya.
Dari sudut pandang Ilmu Manajemen, menjelaskan ruang lingkup kecil dalam mengatur organisasi, terutama gaya kepemimpinan yang harus disesuaikan dengan tujuan organisasi melalui penerapan budaya organisasi antara satu dengan yang lainya berbeda.
Gaya kepemimpinan otokratis, memiliki hubungan yang erat denga nilai-nilai yang ditanamkan bersifat otoliter, garis kewenangan/komando yang jelas, hierarki yang kaku, dan tak ada ruang diskusi. Gaya ini lebih menekan bahwa perintah atasan harus dilaksanakan dengan cepat dan tepat tanpa ada proses Metode Sokrates (Seni Bertanya).
Apakah kepemimpinan Otokratis Buruk?
Tipe kepemimpinan yang bersifat otokratis tentunya tidak buruk, malah sangat diperlukan bagi organisasi/instansi tertentu. Unsur militer di setiap negara di dunia menerapkan kepemimpinan otokrasi dengan tujuan agar semua urusan dapat diselesaikan tidak hanya efektif dan efisien namun cepat serta tepat sasaran.
Dalam pertempuran, dapat kita gambarkan seorang pemimpin memerintahkan bawahan agar menyerang musuh, andaikan anggotanya tidak menjalan tugas atasan secara cepat namun malah mempertanyakan kenapa harus menyerang, kenapa harus saya yang maju, dan berbagai alasan pertanyaan tentunya akan menghambat misi yang ditargetkan terlaksana.
Di sisi lain, penerapan gaya kepemimpinan otakrasi di semua sendi kehidupan masyakat mulitikultural tentunya mengakibatkan ketidak sesuaian dengan dinamika masyakat yang dinamis.
Warga negara memang harus tunduk dan patuh dengan segala ketentuan yang ditetapkan pemerintah namun dalam urusan tertentu pendekatan gaya kepemimipinan otokrasi sangat berbeda jauh dengan kondisi masyarakat yang beragam.
Masyarakat kultural tentunya menghargai perbadaan suku, bangsa, dan ras. Perbedaan inilah yang akan menjadikan masyarakat hidup bersama lebih mengedepan gaya kepemimpinan yang tidak otokrasi dalam penyelesain persoalan bangsa namun lebih mengutamakan pengambilan keputusan yang bersifat demokratis melalui musyawarah dan mufakat.
Pengambilan keputusan yang bersingungan langsung dengan masyarakat dan berbagai unsur tentunya membutuhkan waktu yang lebih lama, lebih alot dibandingkan dengan otokratis. Namum dengan pelibatan dan mendengar aspirasi pihak berbeda tentunya akan membuat keputusan yang bijak, hasil keputusan yang mewakili semua unsur kepentingan akan membuat setiap orang dirasa dihormati.
Kepemimpinan dalam Pandangan Pemikir Islam
Dikaitkan dalam pemikir besar islam, Imam al Ghazali, mengatakan bahwa seorang pemimipin yang bijak itu adalah pemimpin yang tidak sombong, hakekat sombong adalah menolak kebenaran dan tidak mempedulikan aspirasi rakyatnya.
Pemimpin yang bijak mampu menempatkan kapan harus menggunakan akal pikiran yang jernih dan juga tahu kapan menggunakan perasaan/empati. Manusia diciptakan Allah SWT terdiri dari 2 unsur, yaitu akal untuk berpikir, yang fitrah nya kalkulasi ; sedangkan perasaan (qolbu salim) hati yang mau mendengar keluhan rakyatnya.
Setiap gaya kepemimpinan itu baik, namun pada kondisi dan penekanan tertentu harus disesuaikan dengan permasalahan yang dihadapi agar tujuan tercapai serta pahaman mendalam tentang kondisi masyarakat. Hal inilah menjadi fondasi mendasar bagi pemimpin bangsa dalam menentukan penerapan mengatasi berbagi permasalahan yang dihadapi. (*)
*Penulis adalah Staf Humas di Kementerian Koordinator Bidang Politik dan Keamanan






