CCTV Bongkar Modus Diduga WNA Kuras Uang Kasir di Padang Pariaman Sumbar, Korban Tak Berkutik

Rekaman CCTV dua WNA melakukan aksi pencurian dengan modus belanja dan menukar uang di Sungai Sariak, Padang Pariaman, beberapa waktu lalu. (Foto:Kompas)

PADANG PARIAMAN, FOKUSRIAU.COM-Rekaman kamera pengawas (CCTV) yang memperlihatkan aksi dua pria diduga warga negara asing (WNA) menguras uang dari laci kasir sebuah toko kelontong di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, memicu perhatian publik setelah videonya beredar luas di media sosial.

Peristiwa yang terjadi di kawasan Sungai Sariak, Kecamatan VII Koto Sungai Sariak, Kamis (9/7/2026) sekitar pukul 13.45 WIB itu bukan sekadar kasus dugaan pencurian biasa.

Korban mengaku tidak mampu bereaksi ketika pelaku mengambil seluruh uang dari laci kasir. Kondisi tersebut memunculkan dugaan adanya modus yang membuat korban kehilangan kesadaran atau fokus, sehingga tidak melakukan perlawanan sedikit pun.

Kasus ini menjadi perhatian karena memperlihatkan pola kejahatan yang menyasar pelaku usaha kecil melalui pendekatan psikologis dan pengalihan perhatian. Polisi kini masih menyelidiki apakah pelaku benar menggunakan teknik hipnotis atau memanfaatkan kelengahan korban melalui skenario yang telah dipersiapkan.

Kapolsek VII Koto Sungai Sariak, Iptu Edy Saputra, membenarkan pihaknya menerima laporan dugaan pencurian tersebut dan telah melakukan penyelidikan.

Menurut Edy, aksi pelaku dimulai dengan berpura-pura menjadi pelanggan biasa yang datang berbelanja ke toko milik korban.

“Pelaku awalnya berpura-pura berbelanja ke warung korban, kemudian berusaha menukarkan dua lembar uang pecahan Rp50.000 dengan uang pecahan Rp100.000 edisi lama,” ujar Edy, Selasa (14/7/2026).

Permintaan yang terkesan sederhana itu justru menjadi awal dari aksi pencurian. Saat korban membuka laci kasir untuk mencari uang sesuai permintaan, pelaku terus mengalihkan perhatian korban. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, korban tidak menemukan uang pecahan Rp100.000 edisi lama sebagaimana diminta.

Pada saat itulah pelaku diduga memanfaatkan situasi. “Setelah dicek ke dalam laci, tidak ditemukan uang Rp100.000 pecahan lama sesuai permintaan. Pelaku kemudian secara tiba-tiba langsung meraup dan mengambil uang yang ada di dalam laci secara keseluruhan,” kata Edy.

Rekaman CCTV menunjukkan pelaku mengenakan pakaian yang cukup tertutup, yakni baju lengan panjang, celana panjang, topi serta kacamata hitam. Sebelum menuju meja kasir, pelaku juga sempat mengambil minuman dari lemari pendingin layaknya pembeli pada umumnya agar tidak menimbulkan kecurigaan.

Baca juga:  Dua Kasus Pemerasan Guncang Pemkab Siak, Sekda Tegaskan Bupati Sudah Berulang Kali Ingatkan ASN

Yang membuat kasus ini semakin menarik perhatian ialah reaksi korban. Alih-alih berusaha menghentikan pelaku, korban justru terlihat diam dan kebingungan ketika uang di dalam laci diambil.

Menurut Edy, korban mengaku merasa tidak mampu melakukan apa pun selama kejadian berlangsung.

“Korban mungkin merasa terhipnotis sehingga terkesan tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah uang berhasil diambil, pelaku langsung pergi meninggalkan korban yang masih dalam keadaan bingung,” ujarnya.

Meski demikian, dugaan penggunaan hipnotis masih menjadi bagian dari penyelidikan polisi. Hingga kini, aparat belum menyimpulkan secara pasti apakah kondisi korban disebabkan hipnotis atau bentuk manipulasi psikologis yang memanfaatkan fokus korban saat transaksi berlangsung.

Polisi juga menduga aksi tersebut dilakukan lebih dari satu orang. Berdasarkan rekaman CCTV, sesaat setelah pelaku pertama berada di meja kasir, seorang pria lain yang juga diduga WNA masuk ke dalam toko.

Pria tersebut diduga sengaja berinteraksi dengan dua pembeli lain di dalam toko untuk mengalihkan perhatian sehingga situasi di sekitar kasir tidak lagi terfokus kepada pelaku utama.

Setelah seluruh uang berhasil diambil, kedua pria itu kemudian berjalan keluar toko secara tenang tanpa memancing kepanikan. Pola tersebut mengindikasikan adanya pembagian peran yang cukup rapi.

Satu orang bertugas membangun komunikasi dengan korban melalui modus penukaran uang, sementara pelaku lainnya menciptakan distraksi agar aksi pencurian berlangsung tanpa hambatan.

Model kejahatan seperti ini dikenal sering mengandalkan koordinasi antar pelaku sehingga korban baru menyadari kehilangan setelah pelaku meninggalkan lokasi.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa modus penukaran uang masih menjadi salah satu cara yang kerap digunakan pelaku kejahatan untuk mengakses laci kasir.

Pelaku biasanya menciptakan situasi yang membuat korban berkonsentrasi mencari uang pecahan tertentu atau menghitung uang dalam jumlah besar. Di saat perhatian korban terpecah, pelaku memanfaatkan kesempatan untuk mengambil uang atau barang berharga.

Bagi pelaku usaha mikro, toko kelontong maupun warung tradisional yang masih mengandalkan transaksi tunai, modus seperti ini berpotensi menimbulkan kerugian finansial dalam waktu singkat.

Baca juga:  Polres Siak Tetapkan Kadishub Tersangka Dugaan Pemerasan Proyek Kapal Gratis

Karena itu, kewaspadaan pemilik usaha menjadi faktor penting untuk mencegah kejadian serupa. Iptu Edy mengatakan polisi telah bergerak melakukan serangkaian penyelidikan setelah menerima laporan dari korban.

Petugas mendatangi lokasi kejadian, melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), memeriksa korban, meminta keterangan sejumlah saksi, serta mengamankan rekaman CCTV yang menjadi salah satu alat bukti utama dalam pengungkapan kasus tersebut.

“Personel langsung mendatangi lokasi untuk melakukan olah TKP, mencari saksi-saksi, serta mengumpulkan bahan keterangan. Kami juga sudah memeriksa korban dan beberapa saksi untuk menyelidiki perkara ini. Mudah-mudahan bisa segera kita ungkap,” tegasnya.

Polisi kini berupaya mengidentifikasi identitas kedua pelaku, termasuk menelusuri dugaan keterlibatan jaringan lain apabila terbukti aksi tersebut dilakukan secara terorganisasi.

Di tengah proses penyelidikan, kepolisian mengimbau masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap orang yang tidak dikenal, terutama yang datang dengan modus meminta menukarkan uang atau menciptakan situasi yang mengalihkan perhatian penjaga toko.

“Kami mengimbau kepada seluruh masyarakat untuk selalu waspada terhadap orang asing yang tidak dikenal yang berpura-pura menukarkan uang. Selalu tingkatkan kewaspadaan,” kata Edy.

Kasus ini kembali menunjukkan pentingnya sistem pengamanan di tempat usaha, mulai dari pemasangan CCTV yang berfungsi dengan baik, pengaturan posisi laci kasir agar tidak mudah dijangkau pelanggan, hingga penerapan prosedur transaksi yang mengurangi risiko pengalihan perhatian.

Sementara itu, polisi masih memburu kedua pelaku dan mendalami seluruh bukti yang telah dikumpulkan untuk memastikan identitas, modus operandi, serta kemungkinan adanya aksi serupa di lokasi lain. Sampai penyelidikan selesai, dugaan bahwa pelaku merupakan warga negara asing masih menunggu pembuktian lebih lanjut berdasarkan hasil identifikasi resmi aparat kepolisian. (bsh)