Oleh: Teddy Rang Chaniago*
Kisah ini terjadi di suatu daerah di negeri antah berantah. Adalah sosok Baduatai yang dipercaya menjadi ketua sebuah kelompok. Tak pula disebutkan apakah Baduatai ini ketua partai, ketua pemuda, ketua berburu atau ketua masjid.
Sudahlah, persoalan ketua ini tak perlu diperpanjang. Sebab, diperdebatkan pun tak guna, karena Baduatai telah terlanjur jadi ketua.
Selama menjadi ketua, Baduatai benar-benar memperlagakan jabatannya. Kalau bicara tak lagi di bawah-bawah, mandi pun tak mau di hilir-hilir.
Dia hanya mau didengar, dia hanya mau diikuti. Dia tak mau didebat, pun tak mau dipersalahkan. Mungkin ini tabiat atau sifat orang-orang yang punya kuasa ya.
Baduatai bak pepatah Minang, “kacak langan lah bak langan, kacak batih lah bak batih”. Yang berlaku hanya apa yang ada dihatinya.
Barajo di hati istilah mungkin cocok disematkan kepadanya. Baduatai benar-benar menikmati jabatan ketuanya. Duduak sarupo rang manjua, tagak sarupo rang mambali. Begitulah kira-kira keseharian ketua kita ini.
Seluruh janji yang pernah diucapkan saat mengambil hati publik, entah mulai dilupakan atau mungkin terlupakan. Namun yang menyedihkan, meski urang balai banyak yang kecewa, tapi dubalang dan tukang anjuang alias pendukungnya saat ikut lomba pacu karung tetap saja mengacungi jempol kepada Baduatai.
Ya, tak bisa dipungkiri, saat layang-layang sedang tagak tali, semua yang tampak tentu sangat kecil. Bahkan layang-layang mulai tak menganggap siapa yang memegang benangnya.
Walaupun orang banyak mulai menghindar, bahkan mulai meninggalkannya, namun Baduatai tak peduli. Dalam benaknya hanya ada satu kalimat,”buat apa memikirkan orang lain, yang penting saya orang nomor satu,”
Namun Baduatai lupa, sebagai orang nomor satu dia harus sadar kalau jabatan yang dipegangnya adalah amanah. Bak kata pepatah, “alu tataruang patah tigo, samuik tapijak indak mati“
Kalau boleh dijabarkan, pepatah itu mengandung makna :
Alu tataruang patah tigo
Alu (alat tumbuk padi) yang terbentur keras bisa patah menjadi tiga, melambangkan ketegasan dan kemampuan menghadapi masalah berat atau rumit.
Samuik tapijak indak mati
Semut yang terinjak tidak sampai mati, melambangkan kehati-hatian yang tinggi agar tidak merugikan atau menyakiti orang yang lemah.
Sayangnya, pepatah tinggal pepatah, nasehat tinggal nasehat. Baduatai mungkin lupa, sabanyak urang nan sayang, sabanyak Itu pulo urang nan banci.
Artinya, ketidakmungkinan memuaskan semua orang, di mana pujian selalu berdampingan dengan cacian serta pro dan kontra akan selalu bereimbang dalam kehidupan ini.
Perasaan inilah yang juga dirasakan Malanca, kawannya Baduatai. Meski dia tidak ketua, tapi dia merasakan sekali kalau Baduatai mulai melupakan akarnya.
Malanca sadar, dia bukan pula orang bagak yang kata dan keinginannya akan diikuti orang banyak.
Namun sikap arif dan bijaksana Malanca kemudian muncul. Baginya, kalau tak bisa mengalahkan Baduatai sebagai urang bagak nomor satu, biarlah dia memposisikan diri sebagai urang bagak nomor dua saja.
Hanya satu yang disampaikan Malanca kepada Baduatai, “Angku, kok buliah pintak jo pinto, tolong turunkan daguak angku. Raso ka tapijak kami nan lalu“. Kalau diartikan dalam bahasa Indonesia, kira kira begini maksudnya. Tuan, kalau boleh kami meminta, tolong dagu tuan diturunkan agar tak terinjak kami yang lewat.
Maknanya, saat kita memegang sebuah posisi atau jabatan ada baiknya asal usul jangan dilupakan. Termasuk mereka yang mendukung kita sampai di posisi sekarang. Kalau tak bisa membalasnya dengan harta benda, paling tidak balaslah dengan perbuatan baik dan menghormati mereka yang sudah bersusah payah mendukung dan meletakan harapannya kepada kita.
Ibarat pepatah jangan sampai kacang lupa dengan kulitnya. (*)
*Penulis adalah jurnalis di Sumatera Barat






