Cerpen : Nora Vebrianti
Di pinggir kampung yang jauh dari riuh jalan raya, tempat kabut pagi masih suka menggantung di pucuk-pucuk pohon, berdiri sebuah rumah kayu berdinding anyaman bambu. Rumah itu milik Nenek.
Bagiku, rumah itu bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah dunia kecil tempat segala sesuatu terasa lebih lambat, lebih teduh, dan lebih akrab.
Aku paling suka berada di sana. Hampir setiap hari aku datang, bahkan ketika malam tiba, aku lebih sering memilih tidur di rumah Nenek daripada pulang ke rumah sendiri.
Di depan rumah terbentang langkan, teras kayu yang cukup luas untuk duduk berlama-lama. Dari sana aku bisa melihat halaman, kebun, jalan setapak, dan pepohonan yang bergerak perlahan ditiup angin.
Udara pagi di tempat itu terasa seperti pelukan yang tak ingin dilepaskan.
Setiap hari, bahkan sebelum matahari benar-benar terbit, suara sapu lidi sudah lebih dahulu membangunkan kampung.
Srek… srek… srek…
Itulah suara Nenek.
Ia bangun paling awal. Dengan kain yang dililit sederhana dan langkah yang masih menyimpan dingin malam, ia menyapu halaman dengan gerakan perlahan dan teratur. Daun-daun kering dikumpulkannya menjadi satu, seolah tidak ada pekerjaan yang terlalu kecil untuk dilakukan dengan penuh perhatian.
Aku sering memperhatikannya dari balik pintu.
“Nenek tidak pernah capek?”
Ia biasanya hanya tersenyum.
“Kalau dikerjakan dengan ikhlas, capek itu tidak terasa.”
Aku belum sepenuhnya mengerti kalimat itu waktu kecil. Namun, bertahun-tahun kemudian, aku tahu bahwa Nenek sedang mengajarkanku sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menyapu halaman.
Di sekeliling rumah tumbuh pepohonan yang rimbun. Ada rambutan yang pada musimnya dipenuhi buah merah, jambu dengan daging renyah dan aroma yang khas, serta pohon kelapa yang menjulang seperti ingin menyentuh langit.
Di belakang rumah, rumpun tebu tumbuh rapat. Daunnya berdesir setiap kali angin lewat. Tidak jauh dari sana, Kakek menanam jagung, kacang panjang, mentimun, dan berbagai tanaman lain yang sebagian namanya bahkan belum kukenal.
Kakek mengurus kebun seperti seseorang menjaga sesuatu yang sangat dicintainya.
Pagi-pagi ia sudah berada di antara tanaman. Menyiram, mencabut rumput liar, menggemburkan tanah, lalu menaburkan pupuk secukupnya.
“Tanaman itu seperti manusia,” katanya suatu kali ketika aku duduk di sampingnya. “Kalau dirawat dengan kasih, ia akan tumbuh baik. Kalau diabaikan, ia akan layu.”
Aku memandangi tangannya yang kasar karena tanah.
“Kalau manusia dirawat dengan kasih juga begitu, Kek?”
Kakek tertawa kecil.
“Lebih dari itu.”
Kalimat sederhana itu tinggal lama dalam ingatanku.
Suatu pagi, ketika langit masih kelabu dan fajar belum sepenuhnya membuka pintunya, listrik tiba-tiba padam.
Rumah menjadi gelap.
Aku sempat terdiam di tempat tidur. Namun sebelum rasa takut sempat tumbuh, kulihat bayangan Nenek bergerak di ruang tengah.
Ia membawa sebuah dama togok—lampu minyak tanah tua yang cahayanya kecil, tetapi cukup untuk mengusir gelap.
Nyala apinya bergoyang-goyang di ujung sumbu. Cahaya kekuningannya jatuh lembut ke dinding anyaman bambu, membentuk bayangan yang bergerak setiap kali Nenek melangkah.
“Nenek mau ke mana?”
“Mengambil air.”
Ia kemudian berjalan menuju sumur tua di belakang rumah.
Aku mengikutinya.
Jalan menuju sumur masih basah oleh embun. Kabut tipis bergelayut di antara pohon. Di kejauhan, suara air dari banda kecil yang membelah ladang terdengar seperti bisikan yang tak pernah selesai.
Nenek menurunkan timba.
Byur…
Suara air yang tersentuh timba terdengar jelas di tengah kesunyian.
Cahaya dama togok memantul di permukaan sumur. Air yang jernih berkilau seperti menyimpan sisa-sisa bintang yang belum sempat pulang ke langit.
Nenek mengambil air untuk berwudu.
Gerakannya tenang. Tidak terburu-buru.
Pada saat itu, aku merasa pagi bukan sedang dimulai. Pagi seolah sedang dilahirkan perlahan-lahan dari kesunyian. Tak lama kemudian, Kakek bersiap menuju masjid.
Jalan setapak yang dilaluinya berkelok di antara kebun. Tanahnya padat, sesekali disilang akar pohon yang muncul ke permukaan. Kakek hafal setiap jengkal jalan itu. Ia melangkah mantap melewati semak yang masih basah oleh embun, lalu perlahan menghilang di balik kabut.
Aku berdiri di langkan, memandang punggungnya sampai tak lagi terlihat.
Begitulah pagi-pagi di rumah Nenek.
Sederhana.
Namun entah mengapa, selalu terasa sempurna.
Suatu hari tubuhku tiba-tiba panas.
Kepala terasa berat. Tulang-tulang seperti kehilangan tenaga. Aku hanya mampu berbaring di langkan, memandangi daun-daun yang bergerak malas diterpa angin.
Nenek datang dan menyentuh keningku dengan punggung tangannya.
“Demam.”
Aku mengangguk lemah.
“Tunggu sebentar.”
Nenek bangkit dan berjalan ke kebun.
“Alam sudah menyediakan obatnya,” katanya.
Aku melihatnya memetik beberapa helai daun, mengambil sepotong akar dari tempat penyimpanan, lalu menambahkan beberapa rempah yang tersimpan rapi di lemari kayu.
Ia tidak pernah membawa buku.
Tidak pula melihat catatan.
Tangannya seperti telah menghafal semuanya.
Di dapur, bahan-bahan itu dicuci, ditumbuk, kemudian dimasukkan ke dalam periuk. Air dituangkan secukupnya.
Api dinyalakan kecil.
Tak lama kemudian, aroma khas memenuhi rumah.
Ada bau daun yang segar, akar yang getir, dan rempah yang hangat. Semuanya bercampur menjadi satu aroma yang sampai sekarang masih bisa kuingat dengan jelas.
Nenek menuangkan rebusan berwarna kecokelatan ke dalam cangkir.
“Ini bukan sekadar rebusan,” katanya sambil menyerahkan cangkir itu kepadaku. “Ini warisan orang-orang tua kita.”
Aku menatap cairan di dalam cangkir.
“Obat?”
Nenek tersenyum.
“Pengetahuan.”
Aku meneguknya.
Pahit.
Sangat pahit.
Aku mengernyitkan wajah.
Nenek tertawa kecil.
“Kalau obat terasa pahit, jangan buru-buru membencinya.”
Aku menurut.
Beberapa jam kemudian, tubuhku terasa lebih ringan. Panas perlahan mereda. Rasa lelah yang sejak pagi menindih tubuh mulai menghilang sedikit demi sedikit.
Nenek duduk di sampingku. Tangannya mengusap rambutku.
Ia tidak berkata apa-apa.
Hanya tersenyum.
Senyum yang entah mengapa selalu membuatku merasa aman.
Tak lama kemudian Kakek pulang dari masjid.
Ia meletakkan tangannya di bahuku.
“Ramuan Nenek memang tidak pernah mengecewakan.”
Aku tersenyum.
Kakek kemudian bercerita bahwa sejak dulu tanaman di sekitar rumah itu telah menjadi bagian dari kehidupan keluarga kami. Daun, akar, batang, bunga, dan rempah tidak sekadar tumbuh di tanah.
Masing-masing menyimpan pengetahuan yang diwariskan dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
“Dulu,” kata Kakek, “orang-orang belajar mengenal alam dengan cara melihat, mencoba, dan mengingat.”
Aku memandang Nenek.
“Berarti Nenek juga belajar dari orang tua Nenek?”
“Iya.”
“Dan nanti Nenek ajarkan kepadaku?”
Nenek mengangguk.
“Kalau kamu mau belajar.”
Sejak hari itu, aku semakin sering berada di dekat Nenek ketika ia menyiapkan ramuan.
Ia mengajariku mengenali daun dari bentuk dan aromanya. Mengajarkan akar mana yang biasa digunakan untuk membantu meredakan keluhan tertentu, rempah mana yang memberi rasa hangat, serta tanaman mana yang harus diperlakukan dengan hati-hati.
Namun semakin lama aku belajar, semakin kusadari bahwa Nenek sebenarnya tidak hanya mengajarkan cara membuat ramuan.
Ia mengajarkan cara menghormati alam.
“Jangan mengambil lebih dari yang diperlukan,” katanya ketika suatu sore kami berjalan di tepi kebun.
“Kenapa?”
“Karena tanaman juga harus hidup.”
Aku memandang daun yang disentuhnya.
“Semua yang tumbuh di bumi ini punya manfaat. Kita hanya belum tentu tahu manfaatnya.”
Kalimat itu sederhana, tetapi menancap dalam.
Sejak saat itu, aku tak lagi melihat kebun sebagai sekumpulan tanaman.
Aku mulai melihatnya sebagai sebuah perpustakaan yang tidak memiliki rak.
Setiap daun adalah halaman.
Setiap akar adalah catatan.
Setiap pohon menyimpan cerita.
Dan Nenek adalah salah seorang penjaga pengetahuan itu.
Sore-sore di rumah Nenek selalu memiliki cara sendiri untuk membuat waktu berjalan lebih lambat.
Kami duduk di langkan.
Kakek bercerita tentang masa mudanya—tentang jalan kampung yang dahulu masih berupa tanah, tentang sawah yang luas, tentang musim panen, dan tentang bagaimana ia pernah berjalan berjam-jam hanya untuk mendapatkan sepotong buah yang sedang diinginkannya.
Nenek sering menyela dengan cerita yang berbeda.
Kadang lucu.
Kadang membuat kami tertawa.
Kadang pula membuat suasana seketika hening karena kisah tentang orang-orang yang telah lama pergi.
Angin membawa aroma tanah dan dedaunan.
Suara burung terdengar dari kejauhan.
Daun kelapa bergesekan di atas kepala.
Sementara cahaya sore perlahan berubah keemasan.
Di rumah itu tidak ada kemewahan. Tidak ada suara kendaraan yang bersahut-sahutan. Tidak ada lampu kota yang menyilaukan. Tidak ada keramaian yang membuat seseorang harus berteriak untuk didengar.
Yang ada hanyalah rumah bambu, kebun, sumur tua, jalan setapak, suara air dari banda kecil, dan dua orang tua yang mengajarkanku arti pulang.
Aku mulai mengerti bahwa kebahagiaan kadang tidak datang dalam bentuk sesuatu yang besar.
Ia bisa hadir sebagai suara sapu lidi di pagi hari.
Sebagai secangkir ramuan pahit.
Sebagai tangan Kakek yang kasar karena tanah.
Sebagai cahaya dama togok yang menari di dinding bambu.
Atau sebagai senyum Nenek ketika melihat demamku turun.
Kini, setiap kali mengingat rumah itu, yang paling kurindukan bukanlah ramuan yang pernah diminum.
Bukan pula buah rambutan, jambu, atau tebu yang dulu bisa kupetik sesuka hati.
Yang kurindukan adalah suasananya.
Pagi yang belum ramai.
Kabut yang perlahan terangkat.
Suara air dari banda.
Langkah Kakek menuju masjid.
Dan Nenek yang selalu terjaga sebelum matahari.
Aku baru menyadari kemudian bahwa ramuan yang paling mujarab ternyata bukanlah yang direbus di dalam periuk.
Ramuan itu bernama kasih sayang.
Ia diracik dari kesabaran, ketulusan, doa, dan pengetahuan yang diwariskan dengan cinta.
Itulah warisan terbesar Nenek.
Bukan sekadar resep yang diturunkan dari tangan ke tangan, melainkan cara memandang kehidupan— bahwa alam harus dihormati, yang sederhana patut disyukuri, dan kasih sayang harus dirawat agar tidak hilang ditelan zaman.
Rumah kayu itu mungkin suatu hari akan lapuk.
Dinding bambunya mungkin akan diganti.
Pohon-pohon di kebun mungkin tumbang satu demi satu.
Jalan setapak mungkin berubah menjadi jalan yang lebih lebar.
Tetapi apa yang kuterima di sana akan tetap tinggal.
Di dalam ingatan.
Di dalam cara aku memandang alam.
Di dalam cara aku mencintai orang-orang yang kucintai.
Dan setiap kali hidup terasa terlalu ramai, aku akan kembali ke sana— setidaknya dalam ingatan.
Ke langkan tempat aku dulu duduk.
Ke sumur tua tempat cahaya dama togok pernah berkilau seperti bintang.
Ke kebun yang mengajarkanku bahwa bumi selalu memberi kepada mereka yang tahu cara menjaga.
Dan kepada Nenek, yang tanpa banyak kata telah mengajariku bahwa rumah bukan hanya tempat kita tinggal.
Rumah adalah tempat pertama kita belajar mencintai kehidupan.
Di sanalah aku tumbuh.
Di sanalah aku belajar.
Dan di sanalah, untuk pertama kalinya, aku menemukan arti kebahagiaan yang sesungguhnya. (*)
PROFIL PENULIS
Nora Vebrianti adalah penulis asal Padang yang lahir pada 17 November 1992. Lulusan SMA Kartika 1-5 Padang ini mulai terjun ke dunia kepenulisan pada tahun 2018. Ketertarikannya pada dunia anak dan remaja membuatnya banyak menulis cerpen remaja, cerpen anak, serta kumpulan puisi. Beberapa karyanya telah dipublikasikan di harian Padang Ekspres.






