PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan belum menunjukkan tanda mereda. Sebanyak 11 lokasi masih terpantau terbakar berdasarkan pemantauan citra satelit Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera.
Dampaknya mulai terasa lebih luas. Kepulan asap dari sejumlah titik kebakaran tidak hanya menyelimuti wilayah Sumatera Selatan, tetapi juga terpantau bergerak menuju provinsi tetangga, termasuk Jambi dan Riau.
Kondisi tersebut membuat penanganan karhutla di Sumsel mendapat perhatian lebih serius. Sebab, arah pergerakan asap tidak lagi terbatas pada wilayah yang menjadi lokasi kebakaran.
Data pemantauan menunjukkan 11 lokasi kebakaran tersebar di lima kabupaten di Sumatera Selatan. Wilayah itu mencakup Banyuasin, Musi Banyuasin (Muba), Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, serta Musi Rawas Utara (Muratara).
Di Banyuasin, kebakaran terpantau di kawasan Tanah Pilih yang berada dalam wilayah Taman Nasional Berbak Sembilang (TNBS). Titik api juga ditemukan di Desa Mukut, Kecamatan Pulau Rimau.
Sementara di Musi Banyuasin, kebakaran masih terpantau di Desa Muara Merang, Kecamatan Bayung Lencir.
Kabupaten OKI menjadi salah satu wilayah dengan sebaran lokasi kebakaran cukup banyak. Titik api tercatat di Desa Penanggoan Duren, Kecamatan Muara Padang; Desa Sungai Bungin, Kecamatan Tulung Selapan; Desa Karangsia, Kecamatan Pangkalan Lampam; wilayah Kecamatan Sungai Menang; serta Desa Lubuk Dalam, Kecamatan Kayu Agung.
Dua lokasi lainnya berada di Kabupaten Muara Enim, yakni Desa Arisan Musi Timur dan Desa Teluk Limau, Kecamatan Gelumbang.
Sedangkan di Musi Rawas Utara, kebakaran masih berlangsung di Desa Karang Dapo, Kecamatan Karang Dapo.
Asap Sumsel Mulai Masuk Riau
Kepala Balai Pengendalian Kebakaran Hutan Wilayah Sumatera Ferdian Krisnanto mengatakan, sejumlah titik tersebut menjadi sumber asap yang kini memengaruhi kondisi udara di Palembang.
Pergerakan massa udara kemudian membawa asap menuju wilayah lain. Jambi dan Riau ikut terdampak dari sebaran asap yang berasal dari kebakaran di Sumatera Selatan.
“Ini sumber asap yang gedenya (besar). Kondisi Sumsel saat ini menjadi sumber asap yang menyebabkan gangguan asap baik di Sumsel, ke arah Jambi dan Riau,” kata Ferdian, Kamis (17/9/2026).
Menurut dia, pantauan citra satelit juga memperlihatkan adanya kontribusi asap dari kebakaran tersebut terhadap gangguan asap hingga ke wilayah negara tetangga.
Kondisi ini menunjukkan bahwa dampak karhutla dapat meluas jauh dari titik api, terutama ketika kebakaran terjadi dalam skala besar dan berlangsung cukup lama.
Api di TNBS Merambat ke Arah Jambi
Salah satu lokasi yang mendapat perhatian adalah kawasan Tanah Pilih di TNBS, Banyuasin. Kebakaran di kawasan tersebut dilaporkan telah bergerak hingga mendekati atau memasuki wilayah Jambi.
Tim Manggala Agni masih melakukan upaya untuk membuka akses menuju lokasi kebakaran. Kondisi medan menjadi salah satu tantangan sebelum proses pemadaman dapat dilakukan.
“Kebakaran TNBS sudah masuk ke arah Jambi, sudah melintas provinsi dan (api) dihadang di sana. Sekarang baru buka akses (masuk), belum bisa pemadaman,” ujar Ferdian.
Upaya membuka jalur menjadi tahap awal agar personel dapat menjangkau lokasi yang terbakar. Setelah akses tersedia, proses pemadaman dapat dilakukan dengan menyesuaikan kondisi lapangan.
Karhutla OKI Bertahan Lebih dari Sebulan
Persoalan juga terjadi di sejumlah kawasan gambut Kabupaten OKI. Kebakaran di wilayah tersebut telah berlangsung lebih dari satu bulan.
Karakter lahan gambut yang memiliki lapisan cukup dalam membuat penanganan api tidak mudah. Api yang berada di bawah permukaan dapat terus bertahan meski kondisi di permukaan tampak sudah padam.
Ferdian menyebut, personel pemadam telah beberapa kali digilir untuk menjaga penanganan di lapangan.
“Kami sudah rolling tiga sampai empat kali per 10 sampai 15 hari. Di Menang Raya OKI asapnya berputar-putar,” katanya.
Situasi tersebut menggambarkan beratnya penanganan karhutla di lahan gambut. Api yang bertahan lama juga memperpanjang produksi asap sehingga dampaknya dapat dirasakan oleh masyarakat di wilayah yang cukup jauh dari lokasi kebakaran.
Bagi Riau dan Jambi, pergerakan asap dari Sumatera Selatan menjadi perhatian tersendiri. Arah angin dan kondisi atmosfer dapat memengaruhi seberapa jauh asap bergerak serta wilayah mana yang terdampak.
Dengan masih adanya 11 lokasi kebakaran yang terpantau, penanganan karhutla di Sumsel menjadi salah satu faktor yang ikut menentukan kondisi kualitas udara di kawasan sekitarnya. (kpc)






