PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Warga Kota Pekanbaru kembali berhadapan dengan kualitas udara memburuk. Selasa (15/9/2026), kondisi udara Pekanbaru kini masuk kategori sangat tidak sehat.
Berdasarkan pemantauan IQAir pada pukul 10.00 WIB, indeks kualitas udara atau AQI Pekanbaru berada di angka 207. Polutan yang paling dominan adalah partikulat halus PM2.5 dengan konsentrasi mencapai 131,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³).
Angka tersebut menjadi perhatian di tengah prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang menyebut sejumlah wilayah Riau berpotensi mengalami udara kabur akibat asap.
BMKG memprakirakan, kondisi udara kabur akibat asap dapat terjadi mulai pagi hingga dini hari. Situasi tersebut berpotensi mengurangi jarak pandang dan ikut memperburuk kualitas udara di wilayah terdampak.
Kondisi atmosfer seperti ini membuat keberadaan titik panas di sejumlah daerah Riau patut diwaspadai. Terlebih, jumlah hotspot yang terpantau masih cukup tinggi.
PM2.5 Tinggi, Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Pada saat data IQAir diperbarui pukul 10.00 WIB, suhu udara Pekanbaru berada di sekitar 32 derajat Celsius. Kecepatan angin tercatat sekitar 9 kilometer per jam dengan kelembapan 50 persen.
Konsentrasi PM2.5 yang tinggi menjadi salah satu indikator yang perlu diperhatikan masyarakat. Partikel berukuran sangat kecil tersebut dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan.
Kelompok yang lebih rentan, seperti anak-anak, lansia, serta masyarakat dengan sensitivitas terhadap polusi udara, disarankan lebih berhati-hati ketika kualitas udara memburuk.
Situasi kualitas udara Pekanbaru memang menunjukkan perubahan dari waktu ke waktu. Pemantauan IQAir pada hari yang sama juga menunjukkan kategori sangat tidak sehat pada sejumlah pembaruan waktu, meski angka AQI dan PM2.5 dapat berubah mengikuti kondisi atmosfer.
Sebaiknya Sesuaikan Aktivitas Luar Ruangan
Dengan kondisi udara yang masuk kategori sangat tidak sehat, masyarakat Pekanbaru disarankan tidak mengabaikan perubahan kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah.
Jika udara terlihat berkabut atau berbau asap, penggunaan masker dapat menjadi salah satu langkah perlindungan. Aktivitas fisik di luar ruangan juga sebaiknya dikurangi ketika kualitas udara sedang berada pada kondisi buruk.
Pemantauan informasi resmi terkait kualitas udara dan perkembangan hotspot juga perlu dilakukan secara berkala. Sebab, kondisi udara dapat berubah mengikuti arah angin, kelembapan, hujan, serta perkembangan kebakaran hutan dan lahan.
Di tengah masih ditemukannya puluhan hotspot di Riau, kewaspadaan masyarakat menjadi bagian penting untuk mengurangi dampak paparan asap, sembari menunggu penanganan titik-titik panas oleh pihak terkait. (ria)






