Lebih 70 Persen Indonesia Mulai Kemarau, BMKG: Sebagian Riau Masih Berpotensi Diguyur Hujan

BMKG menyebut lebih 70 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau. Sebagian wilayah Riau masih berpotensi mengalami hujan. (Foto: Istimewa)

JAKARTA, FOKUSRIAU.COM-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan lebih dari 70 persen wilayah Indonesia telah memasuki musim kemarau hingga awal Agustus 2026. Meski demikian, kondisi tersebut belum berlangsung merata karena sejumlah daerah, termasuk sebagian wilayah Riau, masih berpotensi mengalami hujan.

Di sisi lain, BMKG juga mencatat sejumlah daerah telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) dalam durasi sangat panjang. Berdasarkan pemutakhiran data hingga 30 Juli 2026, Daerah Istimewa (DI) Yogyakarta menjadi wilayah dengan periode tanpa hujan terlama, mencapai 90 hari.

Informasi tersebut disampaikan BMKG melalui pembaruan data HTH yang diperoleh dari 4.878 pos pengamatan hujan yang tersebar di seluruh Indonesia. Data ini menjadi salah satu indikator untuk memantau perkembangan musim kemarau sekaligus potensi dampaknya terhadap sektor pertanian, ketersediaan air, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan di sejumlah daerah.

BMKG sebelumnya telah memprediksi bahwa puncak musim kemarau tahun 2026 berlangsung pada Juli hingga September. Namun, karakteristik iklim Indonesia menyebabkan puncak kemarau tidak terjadi secara bersamaan di seluruh wilayah.

Karena itu, masih terdapat sejumlah daerah yang belum sepenuhnya memasuki musim kemarau. Selain sebagian Aceh dan Sumatera Utara, wilayah yang masih berpotensi diguyur hujan antara lain sebagian Riau, Bengkulu, Sumatera Barat, sebagian Jakarta, Kalimantan Tengah hingga sebagian kecil Papua Selatan.

BACA JUGA :  KPK Ungkap Tiga Pertemuan Bupati Kuansing dengan Menhut dan Dugaan Pemberian Uang

Kondisi tersebut menunjukkan distribusi curah hujan di Indonesia masih cukup bervariasi meskipun sebagian besar wilayah telah memasuki periode kering.

DI Yogyakarta Catat Hari Tanpa Hujan Terlama
Dalam laporan BMKG, Kabupaten Bantul menjadi daerah dengan durasi Hari Tanpa Hujan terlama di Indonesia, yakni mencapai 90 hari. Beberapa kecamatan yang tercatat mengalami kondisi tersebut meliputi Pajangan, Pundong, Bantul, Jetis, Imogiri, Bambanglipuro, Pandak, dan Sanden.

Selain Bantul, Kecamatan Rongkop di Kabupaten Gunungkidul mengalami HTH selama 74 hari, sedangkan wilayah Kulon Progo mencapai 67 hari.

Setelah DI Yogyakarta, Jawa Tengah menjadi provinsi dengan sejumlah wilayah mengalami HTH hingga 89 hari. Kecamatan Masaran, Kelawung, dan Kedawung di Kabupaten Sragen menjadi daerah dengan durasi terlama di provinsi tersebut.

Di Jawa Timur, beberapa wilayah di Kabupaten Madiun dan Magetan tercatat mengalami Hari Tanpa Hujan selama 88 hari. Sementara Nusa Tenggara Timur mencatat durasi HTH hingga 77 hari, disusul Nusa Tenggara Barat dengan 74 hari.

BACA JUGA :  BBKSDA Riau Pasang Kandang Jebak Usai Beruang Madu Serang Petani di Pelalawan

Wilayah lain yang juga mengalami periode kering cukup panjang meliputi Bali hingga 72 hari, Jawa Barat sekitar 67 hari, dan Banten mencapai 67 hari.

Sebagian Riau Masih Mengalami Musim Hujan
Berbeda dengan sejumlah wilayah di Pulau Jawa dan Nusa Tenggara yang mengalami kemarau cukup ekstrem, sebagian wilayah Riau justru masih berada dalam pola cuaca yang memungkinkan terjadinya hujan.

Kondisi tersebut sejalan dengan karakteristik iklim di wilayah barat Indonesia yang dipengaruhi berbagai faktor atmosfer, sehingga awal maupun puncak musim kemarau tidak selalu berlangsung bersamaan dengan daerah lain.

Meski demikian, BMKG tetap mengingatkan bahwa dinamika cuaca dapat berubah dari waktu ke waktu. Masyarakat diminta terus memantau informasi prakiraan cuaca terbaru sebagai acuan dalam melakukan berbagai aktivitas, terutama di sektor pertanian, transportasi, serta pengelolaan sumber daya air.

BMKG menjelaskan, data Hari Tanpa Hujan diperoleh melalui pemantauan terhadap ribuan pos hujan di seluruh Indonesia. HTH sendiri merupakan kondisi ketika suatu wilayah tidak mengalami hujan dengan curah minimal 1 milimeter dalam satu hari secara berturut-turut.

Informasi ini menjadi salah satu indikator penting dalam memantau perkembangan musim kemarau sekaligus mendukung langkah mitigasi terhadap berbagai potensi dampak, seperti kekeringan, penurunan debit air, gangguan produksi pertanian, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

BACA JUGA :  BBKSDA Riau Pasang Kandang Jebak Usai Beruang Madu Serang Petani di Pelalawan

Kemarau Belum Merata di Indonesia
Fenomena musim kemarau tahun ini kembali menunjukkan bahwa kondisi iklim Indonesia sangat dipengaruhi karakter geografis dan dinamika atmosfer yang berbeda di setiap kawasan.

Karena itu, meskipun mayoritas wilayah telah memasuki musim kemarau, masih terdapat daerah yang tetap mengalami hujan dengan intensitas tertentu.

Bagi masyarakat di Riau, informasi ini menjadi penting karena menunjukkan wilayah tersebut belum sepenuhnya memasuki fase kemarau seperti yang terjadi di sebagian besar Pulau Jawa dan Nusa Tenggara.

Kondisi tersebut sekaligus menjadi pengingat agar masyarakat tetap mengikuti perkembangan informasi resmi BMKG untuk mengantisipasi perubahan cuaca yang dapat terjadi sewaktu-waktu. (dtc)