Riau  

Udara Pekanbaru Berbahaya, Warga Pakai Masker Bila Keluar Rumah!

Asap dari kebakaran hutan dan lahan menyelimuti Pekanbaru. Kualitas udara hari ini dalam kategori berbahaya. (Foto: Istimewa)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Warga Kota Pekanbaru perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap kualitas udara, Selasa (25/8/2026) pagi. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 sempat menembus 420,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) dan masuk kategori berbahaya.

Data pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menunjukkan, konsentrasi PM2.5 di Pekanbaru masih berada pada level sangat tinggi hingga pukul 06.00 WIB. Saat itu, angkanya tercatat 328,9 µg/m³, jauh melewati batas kategori berbahaya.

Dalam klasifikasi kualitas udara BMKG, konsentrasi PM2.5 di atas 250,5 µg/m³ sudah masuk kategori berbahaya. Kondisi tersebut membuat aktivitas masyarakat di luar ruangan perlu mendapat perhatian lebih.

Pantauan BMKG juga memperlihatkan tingginya konsentrasi PM2.5 bukan hanya terjadi pada pagi menjelang aktivitas warga. Pada pukul 03.00 WIB, konsentrasi PM2.5 bahkan mencapai 420,1 µg/m³.

Kondisi itu berlangsung ketika udara Pekanbaru terpantau kabur dan asap cukup terasa di sejumlah kawasan. Bau menyengat juga dilaporkan terasa pada pagi hari, sementara kondisi cuaca di wilayah kota secara umum terpantau berawan.

Prakiraan cuaca BMKG untuk Kota Pekanbaru turut menunjukkan adanya kondisi udara kabur pada sejumlah periode. Situasi tersebut menjadi perhatian karena tingginya konsentrasi partikulat halus dapat meningkatkan paparan polusi bagi masyarakat yang beraktivitas di ruang terbuka.

BACA JUGA :  Karhutla Mulai Ganggu Kesehatan, 800 Warga Riau Terserang ISPA

PM2.5 merupakan partikulat udara berukuran sangat kecil, yakni lebih kecil atau sama dengan 2,5 mikrometer. Karena ukurannya sangat kecil, partikel ini dapat menjadi salah satu parameter penting dalam pemantauan kualitas udara.

Pengukuran konsentrasi PM2.5 dilakukan menggunakan metode penyinaran sinar beta atau Beta Attenuation Monitoring (BAM). Hasil pengukuran dinyatakan dalam satuan mikrogram per meter kubik.

Bagi masyarakat Pekanbaru, tingginya angka tersebut menjadi persoalan yang tidak hanya berkaitan dengan jarak pandang atau munculnya bau asap. Kualitas udara yang buruk juga berpengaruh terhadap kenyamanan warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, terutama mereka yang harus berada di luar ruangan.

Karena itu, masyarakat diimbau mengurangi aktivitas di luar rumah ketika konsentrasi partikulat berada pada tingkat tinggi. Aktivitas fisik berat di luar ruangan juga sebaiknya dihindari selama kondisi udara belum membaik.

Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan dianjurkan menggunakan masker dengan kemampuan filtrasi tinggi, seperti N95 atau KF94. Masker jenis tersebut dapat membantu mengurangi paparan partikel halus PM2.5 yang terhirup ketika seseorang berada di lingkungan dengan kualitas udara buruk.

BACA JUGA :  Karhutla Pelalawan Makin Parah, Status Tanggap Darurat Ditetapkan Hingga 6 September 2026

Selain penggunaan masker, warga disarankan memantau perkembangan kualitas udara sebelum menentukan aktivitas di luar rumah. Langkah tersebut penting terutama bagi masyarakat yang menghabiskan banyak waktu di ruang terbuka.

Kondisi udara kabur di Pekanbaru juga perlu menjadi perhatian bagi pengguna jalan. Jarak pandang yang berkurang dapat membuat perjalanan menjadi kurang nyaman dan membutuhkan kewaspadaan lebih tinggi, khususnya pada pagi hari ketika aktivitas masyarakat mulai meningkat.

Tingginya konsentrasi PM2.5 pada Selasa pagi menunjukkan bahwa kondisi udara Pekanbaru perlu terus dipantau. Angka 420,1 µg/m³ pada pukul 03.00 WIB kemudian turun menjadi 328,9 µg/m³ pada pukul 06.00 WIB, namun keduanya masih berada dalam kategori berbahaya berdasarkan klasifikasi BMKG.

Dengan kondisi tersebut, masyarakat sebaiknya tidak hanya menjadikan kondisi langit sebagai patokan. Udara yang terlihat relatif biasa tidak selalu berarti konsentrasi partikulat berada pada tingkat aman, sehingga pemantauan kualitas udara tetap diperlukan.

BACA JUGA :  OMC Riau Diperpanjang, 9 Ton Garam Siap Disemai, Hujan Masih Tunggu Awan

Bagi warga yang tidak memiliki keperluan mendesak di luar rumah, mengurangi aktivitas luar ruangan menjadi langkah yang dapat dilakukan. Sementara bagi mereka yang harus keluar, penggunaan perlindungan pernapasan dengan filter tinggi menjadi salah satu upaya untuk mengurangi paparan PM2.5.

BMKG terus menjadi salah satu rujukan masyarakat untuk memperoleh informasi mengenai kondisi cuaca dan kualitas udara. Pembaruan informasi dapat digunakan warga Pekanbaru untuk menyesuaikan aktivitas dengan kondisi lingkungan pada hari tersebut.

Kondisi kualitas udara yang mencapai kategori berbahaya ini sekaligus menjadi pengingat bahwa perubahan kualitas udara dapat berlangsung dalam hitungan jam. Karena itu, warga perlu memperhatikan pembaruan data, terutama ketika akan melakukan aktivitas di luar ruangan dalam kondisi udara kabur dan berasap. (trp)