Sumbar Kirim 1,6 Ton Rendang Untuk Korban Gempa NTT, Ada Alasan di Balik Pilihan Ini

1,6 ton rendang asal Sumbar dikirim untuk bantuan korban gempa di NTT. (Foto: Istimewa)

PADANG, FOKUSRIAU.COM-Pemerintah Provinsi Sumatera Barat telah mengumpulkan 1.687,363 kilogram rendang untuk membantu korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Jumlah tersebut melampaui target awal 1,5 ton dan masih berpotensi bertambah karena penggalangan bantuan terus berlangsung.

Rendang dipilih bukan semata karena merupakan makanan khas Sumatera Barat. Makanan berbahan dasar daging, santan, dan beragam rempah itu memiliki daya simpan relatif panjang sehingga dinilai sesuai untuk didistribusikan kepada masyarakat di wilayah terdampak bencana.

Bantuan tersebut direncanakan dikirim secara bersamaan ke NTT pada 26 Agustus 2026. Pengumpulan dilakukan dengan membuka kesempatan bagi masyarakat maupun pemerintah kabupaten dan kota di Sumatera Barat untuk ikut menyumbangkan rendang.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumatera Barat, Erasukma Munaf, mengatakan jumlah bantuan yang terkumpul terus mengalami peningkatan.

Hingga 19 Agustus 2026, kata dia, jumlah rendang yang terkumpul telah mencapai sekitar 1,4 ton. Sehari kemudian, totalnya meningkat menjadi lebih dari 1,6 ton.

“Siapa pun, baik masyarakat bahkan kabupaten/kota boleh menyumbang atau ikut donasi. Semuanya kita tampung, nanti diantar sekaligus ke saudara kita di NTT yang terdampak bencana,” ujar Erasukma.

Target awal pemerintah daerah sebenarnya berada di angka 1,5 ton. Namun, antusiasme masyarakat membuat jumlah bantuan melampaui sasaran tersebut hingga mencapai 1.687,363 kilogram pada Kamis malam, 20 Agustus 2026.

BACA JUGA :  Pemandu Gunung Jadi Perhatian, Kemnaker Perkuat Standar Kompetensi Pariwisata

Jumlah itu diperkirakan belum menjadi angka akhir. Pengumpulan bantuan masih berjalan sebelum seluruh rendang dikirim menuju NTT.

Mengapa Rendang Bisa Tahan Lama?
Ketahanan rendang sebagai makanan bantuan bencana memiliki alasan yang berkaitan dengan proses pengolahannya. Rendang dimasak dalam waktu panjang hingga sebagian besar kandungan air dalam masakan berkurang.

Dalam proses tersebut, daging dimasak bersama santan dan berbagai bumbu selama berjam-jam. Pengurangan kadar air membuat kondisi makanan menjadi kurang mendukung bagi pertumbuhan mikroorganisme yang dapat menyebabkan pembusukan.

Karakter tersebut membuat rendang yang dimasak hingga kering memiliki daya simpan lebih panjang dibandingkan makanan yang masih memiliki banyak kandungan air atau kuah.

Proses memasak yang lama juga membuat bumbu semakin pekat dan meresap ke dalam daging. Karena itu, tingkat kekeringan rendang menjadi salah satu faktor penting yang berkaitan dengan ketahanannya.

Selain teknik pengolahan, komposisi rempah menjadi bagian lain yang berperan. Rendang dikenal menggunakan banyak jenis rempah dan herbal yang memiliki kandungan senyawa aktif.

Pakar pangan dari Indonesia International Institute for Life Sciences (i3L), Ervina, menjelaskan bahwa rendang menggunakan sekitar 16 jenis rempah dan herbal yang memiliki sifat antimikroorganisme.

BACA JUGA :  Jejak Emas Ilegal Sumbar ke Malaysia, WNA India Ditangkap di Kota Solok

“Rendang ini terdiri dari 16 rempah dan herbal yang bersifat antimikroorganisme,” kata Ervina.

Menurut dia, rempah dalam rendang tidak hanya berfungsi membentuk aroma dan cita rasa. Sejumlah rempah juga mengandung senyawa yang memiliki aktivitas antioksidan serta dapat membantu menghambat pertumbuhan mikroorganisme tertentu.

Bawang putih, jahe, cabai, serai, jinten, dan sejumlah rempah lainnya menjadi bagian dari komposisi tersebut. Kombinasi berbagai bahan itu berpadu dengan proses memasak yang panjang.

Namun, daya tahan rendang tidak berarti makanan tersebut bebas dari risiko kerusakan. Cara memasak, tingkat kekeringan, kebersihan saat pengolahan, pengemasan, serta kondisi penyimpanan tetap menjadi faktor yang menentukan keamanan dan daya simpan makanan.

Dari Bekal Perantau Sampai Bantuan Bencana
Kemampuan rendang bertahan relatif lama telah lama menjadi bagian dari tradisi masyarakat Minangkabau. Makanan ini dahulu dikenal praktis dibawa sebagai bekal perjalanan, termasuk oleh masyarakat yang merantau meninggalkan kampung halaman.

Karakter tersebut kini kembali terlihat dalam konteks penanganan bencana. Makanan yang memiliki daya simpan lebih panjang dapat menjadi pilihan bantuan pangan ketika distribusi menuju daerah terdampak membutuhkan waktu.

BACA JUGA :  Jejak Emas Ilegal Sumbar ke Malaysia, WNA India Ditangkap di Kota Solok

Bagi korban bencana, bantuan makanan bukan hanya persoalan jumlah. Makanan yang dapat disimpan dan dikonsumsi dalam periode tertentu memiliki nilai praktis karena tidak selalu membutuhkan distribusi setiap hari dalam kondisi darurat.

Pengiriman rendang dari Sumatera Barat ke NTT sekaligus memperlihatkan bagaimana makanan tradisional dapat mengambil peran dalam respons kemanusiaan.

Rendang yang selama ini dikenal sebagai bagian dari identitas kuliner Minangkabau kini dikirim dalam jumlah besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang sedang menghadapi dampak bencana.

Pemprov Sumatera Barat masih membuka kesempatan bagi masyarakat dan pemerintah kabupaten/kota yang ingin ikut berkontribusi. Seluruh bantuan tersebut akan dikumpulkan sebelum dikirim secara bersamaan ke NTT.

Dengan jumlah yang telah melewati 1,6 ton, pengiriman rendang dari Sumatera Barat bukan lagi sekadar bantuan dalam skala kecil. Ini menjadi salah satu bentuk solidaritas masyarakat Sumatera Barat kepada warga NTT yang tengah menghadapi masa sulit setelah gempa. (dtc)