Riau  

Karhutla Mulai Ganggu Kesehatan, 800 Warga Riau Terserang ISPA

Sejumlah warga di Pekanbaru mendatangi puskesmas untuk berobat. (Foto: Wahyu Falatehan)

PEKANBARU, FOKUSRIAU.COM-Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Riau mulai terasa pada kesehatan masyarakat. Dinas Kesehatan Provinsi Riau mencatat, sekitar 800 warga mengalami Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) sepanjang Agustus 2026.

Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi. Dari total kasus yang tercatat, sebanyak 325 penderita ISPA berada di ibu kota Provinsi Riau tersebut.

Kondisi ini menjadi perhatian karena kabut asap akibat kebakaran lahan gambut masih menyelimuti sejumlah wilayah. Dalam sepekan terakhir, kabut asap paling pekat dilaporkan terjadi di Kabupaten Pelalawan dan Indragiri Hilir.

Sekretaris Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Rionaldo Pratama, meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terutama ketika harus beraktivitas di luar ruangan. Paparan asap dan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pada saluran pernapasan.

“Warga diimbau menggunakan masker jika harus beraktivitas di luar rumah guna meminimalkan risiko terpapar polusi asap,” ujar Rionaldo.

Imbauan tersebut terutama ditujukan kepada masyarakat yang tinggal maupun beraktivitas di wilayah yang terdampak kabut asap. Warga juga diminta memperhatikan kondisi tubuh ketika kualitas udara memburuk.

BACA JUGA :  Asap Karhutla Kerumutan Menyesak, Pemprov Riau Kirim 14.000 Masker dan 92 Personel ke Pelalawan

Selain menggunakan masker, Dinas Kesehatan Riau meminta masyarakat mengurangi aktivitas di luar rumah. Konsumsi air yang cukup juga dianjurkan sebagai bagian dari upaya menjaga kondisi tubuh selama cuaca panas dan paparan asap berlangsung.

Pekanbaru Catat Kasus Terbanyak
Tingginya angka kasus ISPA di Pekanbaru menjadi perhatian tersendiri. Sebanyak 325 warga di kota tersebut tercatat mengalami gangguan kesehatan yang masuk dalam kategori ISPA sepanjang Agustus.

Angka itu menunjukkan bahwa dampak karhutla tidak hanya dirasakan masyarakat yang berada dekat dengan lokasi kebakaran. Pergerakan asap dapat membawa dampak kesehatan ke wilayah lain, termasuk kawasan perkotaan.

Karhutla di Riau sendiri terjadi bersamaan dengan kondisi cuaca panas yang melanda sejumlah wilayah. Situasi tersebut membuat masyarakat menghadapi risiko ganda, yakni paparan asap dari kebakaran serta kondisi lingkungan yang panas.

Dinas Kesehatan Riau sebelumnya terus mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi kesehatan ketika berhadapan dengan asap. Kelompok masyarakat yang harus beraktivitas di luar ruangan diminta mengambil langkah perlindungan untuk mengurangi paparan polusi.

Pelalawan dan Indragiri Hilir Masih Diselimuti Asap
Di tengah meningkatnya kasus ISPA, pemantauan terhadap titik panas dan perkembangan karhutla terus dilakukan. Namun, kabut asap masih menjadi persoalan di sejumlah wilayah Riau.

BACA JUGA :  Udara Pekanbaru Berbahaya, Warga Pakai Masker Bila Keluar Rumah!

Pelalawan dan Indragiri Hilir disebut menjadi dua wilayah dengan kondisi kabut asap paling pekat dalam sepekan terakhir. Kondisi tersebut membuat kewaspadaan masyarakat perlu ditingkatkan, khususnya ketika jarak pandang dan kualitas udara mulai terganggu.

Kabut asap juga menjadi persoalan yang tidak berhenti pada aspek lingkungan. Ketika asap menyebar ke permukiman dan kawasan aktivitas masyarakat, dampaknya dapat merembet pada kesehatan, mobilitas serta kegiatan sehari-hari.

Karena itu, masyarakat diminta tidak menunggu hingga muncul gangguan kesehatan untuk melakukan pencegahan. Penggunaan masker ketika berada di luar ruangan menjadi salah satu langkah yang dianjurkan pemerintah daerah.

Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar
Dinas Kesehatan Provinsi Riau mengingatkan masyarakat agar membatasi kegiatan di luar rumah selama kondisi udara terdampak asap. Langkah tersebut penting terutama bagi warga yang berada di kawasan dengan paparan asap lebih tinggi.

Masyarakat juga diminta menggunakan masker ketika harus keluar rumah. Asupan air yang cukup menjadi bagian lain dari imbauan kesehatan menghadapi kondisi cuaca panas.

BACA JUGA :  Kepungan Asap Belum Ganggu Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru, Jarak Pandang 2.700 Meter

Pemantauan terhadap perkembangan karhutla dan kabut asap tetap menjadi bagian penting dalam upaya mengurangi dampaknya terhadap masyarakat. Namun, perlindungan diri juga diperlukan karena kondisi asap dapat berubah mengikuti arah dan kecepatan angin.

Bagi masyarakat Riau, persoalan karhutla dengan demikian bukan semata persoalan titik api atau luas lahan terbakar. Dampaknya sudah tercermin dari munculnya ratusan kasus ISPA yang tercatat selama Agustus 2026.

Dengan 800 kasus ISPA dan Pekanbaru menyumbang 325 penderita, kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa karhutla memiliki konsekuensi langsung terhadap kesehatan masyarakat. Kewaspadaan dan pencegahan menjadi penting selama cuaca panas serta kabut asap masih terjadi di sejumlah wilayah Riau. (why)